Hikmah

Dua Capres 2019 Saling Berbincang di MRT

Khalifah Umar bin Khattab : Jadilah Pemimpin yang Amanah dan Sederhana

Dalam buku The Great of Two Omar karya Fuad Abdurrahman, dikisahkan bahwa suatu hari khalifah Umar bin Khattab menyewa seekor unta sebagai tunggangan untuk bersilaturrahmi ke rumah salah seorang sahabat. Dalam perjalanan tersebut, tanpa disadari surban khalifah kecantol pohon dan jatuh. Ketika diberitahu bahwa surban beliau jatuh, maka khalifah Umar pun menghentikan untanya kemudian beliau turun dan berlari untuk mengambil surban yang jatuh tersebut. Kemudian buru-buru kembali ke unta.

Melihat tingkah khalifah Umar, pemilik unta yang kebetulan ada di sana berkata, “Wahai yang mulia, kenapa tidak anda putar balik saja unta itu menuju surban sehingga anda tidak perlu repot-repot turun dan berlari menuju tempat dimana surban itu jatuh?”.

Mendengar pertanyaan tersebut, khalifah Umar pun menjawab, “Aku menyewa unta ini, kugunakan untuk bersilaturahmi ke rumah sahabatku. Tidak ada perjanjian atau akad, aku putar balik unta ini untuk keperluan-keperluan yang lain”.

Mendengar jawaban khalifah, pemilik unta tersebut bertanya lagi, “Kalau begitu, mengapa anda tidak menyuruh saya sebagai rakyat kepada khalifahnya untuk sekedar mengambil surban anda yang jatuh”.

Khalifah Umar pun menjawab, “Surban ini milikku, bukan milikmu. Apakah engkau menyangka bahwa jabatan khalifah itu punya wewenang untuk menyuruh-nyuruh rakyatnya melakukan sesuatu yang tidak ada (hubungan) dengan tugas. Maka pemilik unta tersebut terdiam.

Karakter Seorang Pemimpin

Begitulah karakter seorang pemimpin sejati, seorang khalifah Umar. Dari kisah ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran dan hikmah.

Yang pertama, seorang pemimpin itu hendaknya menjaga amanah dan menepati janji. Amanah adalah titipan. Amanah itu kepercayaan. Dan memikul sebuah amanah merupakan hal yang berat. Tidak mudah menjaga amanah. Sampai-sampai ketika amanah ini ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, mereka enggan menerimanya.

Sebagaimana dikisahkan di dalam QS. Al-Ahzab Ayat 72,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمانَةَ عَلَى السَّماواتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَها وَأَشْفَقْنَ مِنْها وَحَمَلَهَا الْإِنْسانُ إِنَّهُ كانَ ظَلُوماً جَهُولاً

“Sungguh Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Mereka semua enggan untuk memikulnya, dan mereka khawatir untuk mengkhianatinya. Maka dipikullah amanah itu oleh manusia, sesungguhnya manusia itu amatlah zalim dan bodoh”.

Khalifah Umar memberikan contoh sederhana bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga amanah. Yaitu dengan tidak menggunakan unta yang disewa ini untuk keperluan lainnya. Sesuai dengan akad, hanya untuk mengantarkan beliau bersilaturrahmi ke rumah sahabat.

Walaupun pada dasarnya ketika kita menyewa sesuatu, mobil atau kendaraan, tentu kita diperbolehkan memakainya semau kita. Selama masih dalam rentang waktu yang ditentukan. Tetapi khalifah Umar tidak mau melakukan itu dan tetap menepati janjinya untuk menggunakan unta yang disewanya itu sesuai keperluan yang telah ditetapkan.

Semoga saja banyak di antarapemimpin-pemimpin kita, para pejabat, dan birokrat yang duduk di pemerintahan dapat mengambil hikmah bagaimana seharusnya memanfaatkan amanah rakyat.

Yang kedua. Pemimpin yang adil itu tidak mau merepotkan rakyatnya. Tidak mau membebani rakyatnya. Karena itu, pemimpin yang adil itu mendapatkan kedudukan yang tinggi kelak di sisi Allah SWT.

إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ ، وَأَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ وَأَبْعَدَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ جَائِرٌ

“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai di sisi Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya adalah pemimpin yang adil. Orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya adalah pemimpin yang zalim/ menyeleweng”.

Maka khalifah Umar memberikan contoh yang sederhana. Kalau untuk sekedar mengambil surban yang jatuh, kenapa harus membebani rakyat? Semestinya pemimpin tidak membebani rakyatnya. Apalagi pemimpin tersebut punya kebijakan yang dapat mempengaruhi negara. Kalau hanya hal kecil seperti yang dilakukan khalifah Umar itu saja tidak mau membebani rakyatnya, apalagi untuk urusan-urusan yang menyangkut hajat hidup rakyat banyak.

Yang ketiga. Hakikat seorang pemimpin sesungguhnya adalah pelayan.

سَيِّدُ الْقَوْمِ خَادِمُهُمْ

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”

Karena pemimpin itu pelayan rakyat maka harus lebih mengutamakan kepentingan rakyatnya. Khalifah Umar mengatakan, “Aku adalah orang yang pertama kali lapar dan paling akhir kenyang”. Beliau tidak bisa makan dengan enak dan tidur dengan nyenyak ketika ada rakyatnya yang kelaparan.

Gubernur Azerbaijan yang Sederhana

Suatu ketika Gubernur Azerbaijan, Utbah bin Farqad, disuguhi makanan yang paling lezat di Azerbaijan yang bernama Habish. Makanan yang terbuat dari minyak samin dan kurma, rasanya manis dan lezat. Ketika sang gubernur mencicipi, merasa nikmat dan enak. Dia punya pikiran, ‘seandainya makanan ini aku kirimkan ke khalifah Umar tentu dia akan merasa senang’.

Maka sang gubernur pun mengirimkan dan mengutus seseorang untuk mengantarkan habish ini kepada khalifah Umar. Ketika khalifah Umar membuka makanan itu dan mencicipinya, khalifah Umar bertanya. “Makanan apa ini?”. Sang utusan menjawab, “Ini habish Yang Mulia. Makanan paling lezat di Azerbaijan”. Kemudian khalifah Umar bertanya, “Apakah semua rakyatmu bisa menikmati makanan ini?”. Dengan bangga utusan itu mengatakan, “Yang Mulia, tidak semua rakyat Azerbaijan bisa menikmati makanan ini”.

Mendengar jawaban utusan tersebut, maka muka khalifah menjadi merah. Tanda marah. Maka beliau perintahkan untuk membungkus kembali makanan kiriman gubernur Azerbaijan, dan tidak lupa khalifah Umar mengirim surat. Yang berbunyi, “Makanan yang manis ini, tidak dibuat dengan uang ibu-bapakmu. Kenyangkan dulu rakyatmu, sebelum kau mengeyangkan perutmu”.

Begitulah karakter seorang pemimpin yang luar biasa, yang mungkin kita butuhkan di zaman sekarang ini. Ada pemimpin yang diibaratkan seperti Sayyidina Umar, tetapi tentu kita tidak menginginkan itu sekedar wacana-wacana saja. Semoga, Indonesia dianugerahi pemimpin yang seperti Khalifah Umar ini. Pemimpin yang amanah. Yang mampu mewujudkan Indonesia ini menjadi negara baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur.

Kunjungan Umar bin Khattab ke Suriah

Tersebutlah seorang sahabat Nabi bernama Said bin Amir Al-Jumahy. Ia seorang yang zuhud, adil dan bijaksana. Oleh Sayidina Umar, ia ditunjuk sebagai Gubernur Suriah. Suatu ketika dalam sebuah beberapa rakyat Suriah disuruh Umar untuk mendaftar 10 nama rakyat Suriah yang paling miskin. Ternyata Gubernur Said berada di nomor 1 rakyat Suriah termiskin!

Melihat hal ini, Umar menangis tersedu-sedu dan memerintahkan untuk mengirimi Said uang sebesar 1000 dinar yang merupakan uang dari tabungan pribadi Umar, bukan uang dari kas negara seperti lazim dilakukan oleh pejabat-pejabat kita saat ini.

Khalifah Umar memutuskan mengunjungi Suriah untuk melihat secara langsung kondisi Suriah dan Gubernurnya.

Setiba di Suriah, Umar mengumpulkan seluruh rakyat beserta gubernurnya di sebuah masjid terbesar di sana. Di hadapan rakyat Suriah, Umar berkata, “Wahai saudara-saudaraku, ini aku Umar Khalifah kalian dan ini Said gubernur kalian. Aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian memiliki keluhan terhadap gubernur kalian dalam memimpin kalian atau dalam menjalankan roda pemerintahan di propinsi kalian ini?”

Berikutnya salah seorang wakil rakyat Suriah memberanikan diri maju dan berkata kepada Umar, “Wahai Sang Khalifah, segala puji bagi Allah. Sebenarnya kami tidak memiliki keluhan apapun terhadap Gubernur kami. Ia begitu adil dan zuhud hingga seperti yang kami laporkan pada paduka beberapa waktu lalu, Said gubernur kami itu adalah orang yang paling miskin di wilayah kami. Namun izinkan kami untuk melaporkan 3 hal yang selama ini menjadi ganjalan hati kami: pertama, gubernur kami setiap hari jika pergi ‘ngantor’ selalu kesiangan. Kedua, setiap akhir bulan, gubernur kami seharian penuh mengunci diri di rumahnya dan tak seorang pun bisa menemuinya. Dan ketiga, gubernur kami sering tiba-tiba pingsan di hadapan kami.

Mendengar ini, Umar langsung naik pitam dan bertanya kepada Said Sang Gubernur, “Wahai Said, benarkah semua keluhan rakyatmu itu?”. Said menjawab, “Benar, wahai Khalifah!”. Umar langsung menimpali, “Mengapa kamu seperti itu?”. Untuk beberapa saat Said diam seribu basa hingga Umar semakin marah dan berkata dengan nada tinggi, “Said, jawablah tiga keluhan itu satu persatu, atau aku akan menghukummu dengan hukuman yang berat!”.

Jawaban Sang Gubernur Suriah Atas Pengaduan Rakyatnya

Berikutnya Said menjawab, “Untuk keluhan pertama, sebenarnya aku malu menjawabnya, tetapi demi ketaatanku pada Khalifah, maka terpaksa aku haturkan bahwa aku setiap hari memang selalu kesiangan berangkat ke kantor. Itu karena aku tidak punya pembantu di rumah. Dan sejak setelah subuh, aku membantu istriku membuat roti untuk sarapan keluargaku, mulai dari menumbuk gandum hingga menunggu bahan roti mengembang dan kemudian menyulut panggangan roti hingga menyuapi anakanakku yang masih kecil.

Adapun untuk keluhan kedua, sebenarnya aku juga sangat malu untuk menjawabnya karena aku khawatir jawabanku nanti seolah-olah mengandung rasa kurang bersyukur kepada Allah. Tetapi sekali lagi karena ketaatanku padamu wahai Umar, maka dengan terpaksa aku mengakui bahwa setiap akhir bulan aku memang selalu mengunci diri di rumahku seharian penuh. Alasanku berbuat seperti itu karena bajuku memang hanya satu potong, yaitu yang aku pakai ini. Dan aku mencuci bajuku satu-satunya itu sebulan sekali dan aku menantinya hingga kering dari jemuran. ”

Mendengar ini, Umar menangis tersedu-sedu di hadapan ribuan rakyat Suriah hingga beberapa saat lamanya.

Setelah tangisnya reda, Umar bertanya lagi, “Lalu apa jawabanmu terhadap keluhan ketiga?”.

Said menjawab, “Aku memang sering tiba2 pingsan, yaitu karena aku sering teringat pembantaian terhadap salah seorang Sahabat Nabi yang bernama Hubaib bin Uday di tangan kaum kuffar Quraisy. Waktu itu aku belum masuk Islam dan aku menyaksikan Hubaib dibantai di tengah-tengah alun-alun Mekkah dengan sangat sadis. Ia disayat-sayat kulitnya dan dimutilasi dalam keadaan hidup-hidup dan ia tidak berteriak kesakitan sedikitpun.

Ia hanya berdoa, “Wahai Allah Engkau Maha Menghitung mereka yang menghadiri penyiksaanku ini. Maka balaslah mereka satu persatu dengan balasan yang setimpal! Allahumma ahshihim ‘adada waqtulhum badada. Demikian doa Hubaib”.

Kemudian Said menambahi, “dan aku waktu itu menyaksikan pembantaian itu dan aku khawatir jika aku termasuk dalam doa Hubaib itu. ”

Semoga Allah memberikan kekuatan pada pemimpin kita untuk selalu amanah, adil, dan bersikap sederhana agar bangsa Indonesia sejahtera. Amin ya rabbal ‘alamin.

 

*Disampaikan oleh Bagus Rosyid dalam Khutbah Jumat tanggal 5 Juli 2019, di Masjid Jamiatus Sholihien Johar Baru Jakarta Pusat.

More from Hikmah

Ngaji Arbain Nawawi 7 : Agama Adalah Nasihat

images (18)

Dari Abu Ruqayyah Tamiim bin Aus Ad Daari ra., “Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : Agama itu adalah Nasehat , Kami bertanya : Untuk Siapa ? Beliau bersabda : Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin umat Islam, dan bagi seluruh kaum … read more

Ngaji Arbain Nawawi 6 : Halal dan Haram Sudah Jelas

Dari Abu Abdullah An-Nu’man bin Basyir ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang samar-samar, kebanyakan manusia tidak mengetahuinya, maka barangsiapa menjaga dirinya dari … read more

Ngaji Arbain Nawawi 5 : Larangan Berbuat Bid’ah

Ummul mukminin, ummu Abdillah, ‘Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat Muslim : “Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak sesuai … read more

Ngaji Arbain Nawawi 4 : Nasib Manusia yang Telah Ditetapkan

Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud ra. berkata : bahwa Rasulullah telah bersabda, “Sesungguhnya tiap-tiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi ‘Alaqoh (segumpal darah) selama itu juga lalu menjadi Mudhghoh (segumpal daging) selama itu … read more

Ngaji Arbain Nawawi 3 : Lima Dasar Islam

Dari hadits ini dapat kita petik hikmah bahwa dasar-dasar agama islam itu ada lima perkara. Apa saja? عَنْ أَبِيْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: (بُنِيَ الإِسْلاَمُ … read more

Ngaji Arbain Nawawi 2 : Pokok-Pokok Agama

Alhamdulilah di pagi hari ini kita akan melanjutkan kajian Arbain Nawawi hadist ke-2. Membahas tentang pokok-pokok agama islam. عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ … read more