Cerpen isme

Thrilling Tuesday : Demonstrasi

Demonstrasi

Screenshot Instagram @ellunarpublish_

Dadanya berdegup kencang. Keringat sebesar jagung menetes pelan-pelan dari wajahnya. Perasannya saat ini campur aduk karena sebentar lagi gerbang berwarna hitam itu akan dibuka. Beberapa detik lagi, dia dan para demonstran yang sudah berdiri sejak siang akan berhadap-hadapan batang hidungnya.

Krah bajunya sudah basah. Tapi dia berupaya menenangkan diri agar tak terbawa emosi kemarahan demonstran yang kebanyakan mahasiswa gabungan dari universitas se-Jakarta. Jarum jam berdetak mundur. Dia melangkah tegap ke celah gerbang yang perlahan dibuka oleh pihak kepolisian.

Demonstran tak henti-hentinya berteriak menyampaikan tuntutan mereka sambil menyanyikan yel-yel perjuangan. Mereka membuat pagar hidup dari lengan teman-temannya membentuk sebuah lingkaran besar di tengah jalanan. Jangan ditanya bagaimana kondisi lalu lintas saat itu. Macet total. Pegawai kantoran yang hendak pulang banyak yang mengomel sebab tak bisa sampai rumah tepat waktu.

Purwito, seorang pejabat menengah dengan berani menemui massa. Pimpinan demonstrasi memberikan isyarat pada kawan-kawannya agar tetap tenang. Perwakilan pemerintah akan memberikan pernyataan terkait tuntutan mereka. Dengan tangan sedikit bergetar, Purwito mengangkat TOA pimpinan demonstran kemudian bersuara lantang.

Entah mimpi apa dia semalam. Pagi hari tadi dia mendapatkan perintah menteri untuk menjelaskan apa saja yang sudah dilakukan pemerintah nilai tukar rupiah yang sedang mengamuk dapat dijinakkan. Dalam kondisi tertekan, dia harus siap segala sesuatunya bahkan jika terjadi apa-apa dengan dirinya. Dia rela mewakafkan tubuhnya untuk kepentingan bangsa ini bahkan bila kehilangan semuanya. Di hatinya hanya ada satu kata : ikhlas.

Dengan dikawal beberapa anggota polisi, dia beradu pandang dengan ribuan para pendemo. Tak ada sekat yang memisahkan antara dia dan mereka, bahkan gerbang hitam yang menjulang tinggi itu tak bisa lagi menjamin keselamatannya. Dia mulai menyiapkan narasi dan kata-kata untuk menembakkan peluru pada demonstran satu persatu. Teriakan tuntutan dibalas dengan penjelasan logis apa saja usaha pemerintah agar dollar Amerika tak lagi galak.

Pemimpin demonstran terdiam diikuti peserta demonstrasi lainnya saat suara Purwito menggema dalam TOA. Rupanya tuntutan mereka selama ini sudah dilakukan semua oleh pemerintah hanya saja mereka kurang aktif mencari tahu lewat internet. Sesekali Purwito menyentil para mahasiswa yang salah alamat menyuarakan pendapat mereka. urusan nilai tukar adalah wewenang Gubernur Bank Indonesia. Sedangkan pemerintah hanya bisa mengupayakan kebijakan fiskal sesuai dengan tugas berdasarkan undang-undang.

“Pemerintah tidak diam adik-adik. Minggu kemarin saya menjadi penanggung jawab terbitnya peraturan pajak terkait impor. Pemerintah ingin mendorong ekspor dan mengurangi impor melalui perubahan tarif pajak”, kata Purwito berapi-api.

Di depan sana para demonstran mulai berbisik-bisik. Suasana mulai tegang dan panas. Beberapa mahasiswa terlibat debat alot menyampaikan pendapat masing-masing. Belum ada keputusan pasti dari demonstran yang sudah mendapatkan penjelasan dari perwakilan pemerintah. Pemimpin demonstran mengambil alih TOA kemudian menenangkan teman-temannya agar tak terjadi keributan. Mereka ingin perwakilan pemerintah menandatangani kontrak kesepakatan sebagai bagian komitmen atas tuntutan selama ini.

Purwito menolak. Dia tidak berwenang menandatangani kesepakatan apapun yang disodorkan para demonstran. Tugasnya hanya satu : memberi penjelasan atas tuntutan yang salah alamat. Kewenangan mengambil keputusan ada di tangan menteri. Sedangkan dia hanya melaksanakan perintah disposisi.

Polisi bertindak cepat dengan mengevakuasi Purwito ke dalam gerbang hitam untuk kemudian cepat-cepat dibawa ke dalam gedung. Mahasiswa yang belum puas karena kontrak mereka belum ditandatangani, berusaha memburu Purwito yang diam-diam diungsikan polisi. Namun malang, langkah mereka kalah cepat dan terhalang teralis besi. Puluhan polisi berjaga-jaga membetuk tameng di balik gerbang.

Semakin sore suasana semakin ramai. Orasi pimpinan demo semakin menjadi-jadi. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan dan memenuhi jalanan. Bunyi klakson mobil dan motor bersahut-sahutan memecah kemacetan. Tapi para mahasiswa tak mau peduli.

Sementara Purwito sudah tak berada lagi di tengah kemurunan massa. Tubuhnya sudah ditarik polisi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Dia membasuh mukanya dengan air wudlu berharap tak adaakan terjadi apa-apa dengan para demonstran dan berharap mereka segera membubarkan diri.

Di atas sajadah, dia berdoa. Merapalkan kata-kata lalu bersimpuh di hadapan tuhannya. Mahasiswa itu sudah seperti anak-anaknya sendiri. Karena anak pertamanya seusia mereka. Mungkin ada yang satu kuliahan dengan anaknya. Dan apakah mereka sadar sudah berhadapan langsung di jalanan dengan ayah temannya sendiri? Purwito kembali bersujud lama. Mendoakan yang terbaik untuk kepentingan bangsa.

—–

Cerita Pendek ini dimuat dalam buku antologi cerpen berjudul Thrilling Tuesday terbitan Ellunar Publish 2018

More from Cerpen isme

Kecupan Terakhir 5

Senyuman palsu yang keluar dari bibirku pun terasa getir. Salah tingkah apa yang harus kulakukan. Tak mungkin aku menitikkan air mata karena saat itu aku tak bisa   Air Mataku Sudah Kering ”Ibu mana? Teleponmu kasih ke ibu”, sahutku. ”Bu, … read more

Kecupan Terakhir 4

Deg. Tiba-tiba saja hatiku merasa ada yang menekan. Berarti firasatku selama ini benar   Surprise… ! Kakak keponakanku itu mengambil nasi kucing dan lauk gorengan yang masih tersisa di tempat makanan. Maklum, jam sebelas begini hanya tersisa beberapa makanan yang … read more

Kecupan Terakhir 3

Apakah karena kondisi ayahnya yang masih dipenjara? Atau ada masalah lain yang ingin disembunyikan padaku?   Malam Penuh Kehangatan Malam ini dingin. Mungkin angin berhembus membawa material salju. Aku hanya memakai kaos tipis dengan celana tentara. Meski membawa jaket, namun … read more

Kecupan Terakhir 2

Seandainya aku hilang kendali, perokok-perokok itu sudah kupukul dengan genggamanku yang sudah mengepal ini. Aku tak peduli mau berkelahi dengan mereka.   Emosi yang Hilang Terbersit dianganku, kecupan terakhir yang ingin kulakukan rasanya sudah tergantikan saat aku di atas sini. … read more

Kecupan Terakhir 1

“Sudah lepaskan saja Bu, jangan menunggu aku. Aku masih di Jakarta”, bunyi SMS kepada ibuku.   Minggu, 26 Juni 2011 Pukul 14.05 WIB dan aku sudah satu setengah jam duduk di kursi tunggu ini. Jadwal boarding pass masih setengah jam … read more

Kyai Sontoloyo 3

  Desas-desus yang beredar Kyai Sontoloyo mempunyai ilmu langit. Hal ini karena kepandaian beliau dalam ilmu agama. Bahkan ada yang bilang Kyai Sontoloyo adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijaga   Sebenarnya tidak ada yang special dari sosok Kyai Usman alias Kyai … read more

Kyai Sontoloyo 2

  “Jack” Amplifier    Anu pak kyai, lha wong cuma jek kabel microphone nya sedikit longgar. Saya Cuma merapatkannya saja ke amplifier   Adzan dhuhur berkumandang di masjid pondok pesantren. Suara yang keluar dari speaker tua di atas atap masjid … read more

Kyai Sontoloyo 1

    Oh begitu. Ente sudah mendaftar anggota kelompok-kelompok di luar pondok ini? Sesat itu, sesat! Bisa-bisa ente jadi Teroris. Dikejar polisi terus ngaku muridku…   Meski terbilang jadul, HP yang kupegang ini adalah HP modern saat ini. Setidaknya menurutku … read more

Wingardium Leviosa 1

    Belum sepenuhnya tegak bangun sebuah sepatu cats mendarat tepat di dagunya. Ran terlempar ke arah para pengunjung wanita yang berkumpul ketakutan…   Bibirnya berdarah. Sebuah benda tumpul menghujum dengan ke arah wajahnya. Beberapa bagian dari wajahnya terlihat lebam … read more