Category Archives: Cerpen isme

Kecupan Terakhir 5

Senyuman palsu yang keluar dari bibirku pun terasa getir. Salah tingkah apa yang harus kulakukan. Tak mungkin aku menitikkan air mata karena saat itu aku tak bisa   Air Mataku Sudah Kering ”Ibu mana? Teleponmu kasih ke ibu”, sahutku. ”Bu, telepon dari Mas”, sebuah suara adikku di ujung telepon yang samar-samar dan tidak begitu jelas. ”Halo?”, sebuah suara dari HP … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kecupan Terakhir 4

Deg. Tiba-tiba saja hatiku merasa ada yang menekan. Berarti firasatku selama ini benar   Surprise… ! Kakak keponakanku itu mengambil nasi kucing dan lauk gorengan yang masih tersisa di tempat makanan. Maklum, jam sebelas begini hanya tersisa beberapa makanan yang belum habis terjual. Jam-jam begini juga sudah agak sepi orang berkeliaran di jalanan. Di warung kecil itupun hanya ada aku … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kecupan Terakhir 3

Apakah karena kondisi ayahnya yang masih dipenjara? Atau ada masalah lain yang ingin disembunyikan padaku?   Malam Penuh Kehangatan Malam ini dingin. Mungkin angin berhembus membawa material salju. Aku hanya memakai kaos tipis dengan celana tentara. Meski membawa jaket, namun aku enggan memakainya dan memilih menaruhnya di dalam tas ransel. Dingin sudah terbiasa buatku, walau Jakarta selalu panas. Aku teringat … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kecupan Terakhir 2

Seandainya aku hilang kendali, perokok-perokok itu sudah kupukul dengan genggamanku yang sudah mengepal ini. Aku tak peduli mau berkelahi dengan mereka.   Emosi yang Hilang Terbersit dianganku, kecupan terakhir yang ingin kulakukan rasanya sudah tergantikan saat aku di atas sini. Dia sudah bahagia meski aku tak sempat mengecupnya. Aku merasa bahagia, dan aku bisa merasakan kecupanku di keningnya meski aku … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kecupan Terakhir 1

“Sudah lepaskan saja Bu, jangan menunggu aku. Aku masih di Jakarta”, bunyi SMS kepada ibuku.   Minggu, 26 Juni 2011 Pukul 14.05 WIB dan aku sudah satu setengah jam duduk di kursi tunggu ini. Jadwal boarding pass masih setengah jam lagi. Padahal aku ingin segera sampai di Bandara Juanda Surabaya. Apa boleh buat, aku hanya bisa mendapatkan tiket tercepat hari … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kyai Sontoloyo 3

  Desas-desus yang beredar Kyai Sontoloyo mempunyai ilmu langit. Hal ini karena kepandaian beliau dalam ilmu agama. Bahkan ada yang bilang Kyai Sontoloyo adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijaga   Sebenarnya tidak ada yang special dari sosok Kyai Usman alias Kyai Sontoloyo. Kyai Sontoloyo adalah adik dari Bu Nyai Ali, istri dari Kyai Ali. Hanya saja dari sisi jabatannya sebagai lurah … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kyai Sontoloyo 2

  “Jack” Amplifier   ¬†Anu pak kyai, lha wong cuma jek kabel microphone nya sedikit longgar. Saya Cuma merapatkannya saja ke amplifier   Adzan dhuhur berkumandang di masjid pondok pesantren. Suara yang keluar dari speaker tua di atas atap masjid menggelegar hingga membangunkan lamunanku di atas loteng. Setengah jam yang lalu, gara-gara internet aku kena masalah. Orang paling nyentrik di … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Kyai Sontoloyo 1

    Oh begitu. Ente sudah mendaftar anggota kelompok-kelompok di luar pondok ini? Sesat itu, sesat! Bisa-bisa ente jadi Teroris. Dikejar polisi terus ngaku muridku…   Meski terbilang jadul, HP yang kupegang ini adalah HP modern saat ini. Setidaknya menurutku begitu. HP bermerek Sony Ericson edisi lama yang punya layanan java ini bisa didownload opera untuk membuka internet. Opera yang … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Wingardium Leviosa 1

    Belum sepenuhnya tegak bangun sebuah sepatu cats mendarat tepat di dagunya. Ran terlempar ke arah para pengunjung wanita yang berkumpul ketakutan…   Bibirnya berdarah. Sebuah benda tumpul menghujum dengan ke arah wajahnya. Beberapa bagian dari wajahnya terlihat lebam keabu-abuan. Sepertinya perih dan sakit yang tak terperi rasanya. Darah segar menghiasi bibir yang tampak seksi itu dengan sangat cepat. … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment

Mentari Tak Mungkin Bersinar Lagi

Tatapan matanya kosong. Raut wajahnya seminggu terakhir tak secerah dan seceria dulu lagi. Bahkan Nadia enggan keluar rumah untuk berkumpul dengan teman-temannya. Dia sering mengurung diri di kamar, menatap langit-langit kamarnya tanpa seberkas harapan yang muncul dari sorotan matanya. Nadia tak ingin keluar rumah untuk menghirup udara pagi dan melihat sang mentari bersinar dengan terik bercahaya emas. Bagi dirinya, mentari … Continue reading

Posted in Cerpen isme | Leave a comment