Tragedi Seorang Guru, Seorang Ibu

Salah satu hal yang sampai sekarang masih kuingat dengan jelas bagaimana awal mula aku terinspirasi untuk menulis dan mencintai sastra adalah seorang guru bahasa indonesia. Seorang guru yang selalu terbayang dalam ingatanku bagaimana cara beliau mengajarkanku apa arti keberanian. Seorang guru yang juga menjadi ibu bagi anak-anaknya untuk terus berkarya.

 

Guru itu bernama Ibu Sulandari. Dan yang sangat disayangkan sang pemberi inspirasi itu harus meninggal dengan tragis. Beberapa jam sebelum beliau meninggal, aku masih sangat jelas melihat jelas raut wajahnya yang ceria. Siang itu, adalah jam pelajaran Bahasa Indonesia di kelasku, kelas 2 SMA. Beliau mengajar dan sedikit memberikan pelajaran bahasa. Beliau ingin murid-muridnya menerangkan kembali pelajaran itu di depan kelas sesuai gaya masing-masing.

 

“Siapa yang ingin maju di depan menerangkan pelajaran dapat poin nilai”

 

Begitulah kata-kata yang masih teringat jelas di otakku. Diam. Senyap. Tak ada suara. Kelas yang semula gaduh karena mendekati jam pulang kini berubah menjadi hening. Pertanyaan guru itu seolah-olah seperti petir yang menyambar-nyambar di atas kepala dan memaksa teman-temanku termasuk aku harus tengkurap di meja kayu. Menundukkan kepala dan pura-pura tak mendengar berharap jam bahasa segera berakhir dan kemudian pulang.

 

Tapi tidak untuk guruku. Beliau masih duduk manis di mejanya menunggu paling tidak satu muridnya maju ke depan kelas. Dan menerangkan pelajaran hari ini. Tak lelah beliau mengulang kata-katanya lagi,

 

“Siapa yang mau maju. Ayo sebelum pulang.”

 

Saat itu memang aku sebenarnya ingin maju ke depan kelas. Berhubung kondisinya tidak mendukung aku mengurungkan niatku. Padahal memang aku setengah tidak berani alias penakut. Karena di saat bersamaan teman-temanku cuek dan tak mengindahkan ucapan guru itu. Dan teman-temanku yang biasanya aktif di kelas hanya bisa tengkurap dan larut dalam lamunan. Entah melamun atau memang mengantuk karena juga bertepatan dengan jam makan siang. Mungkin mereka lapar.

 

Aku memang gokil. Ditengah keheningan itu aku memang sangat bersemangat dan menebar senyuman ke semua penjuru. Dan alhasil akulah yang dijadikan korban teman-teman untuk dijadikan umpan maju ke depan. Umpan di saat mereka butuh penyegaran saat siang hari. Mereka berharap agar aku dijadikan bahan guyonan agar mereka tidak hanyut dalam mimpi. Dan aku tetaplah aku. Mau-maunya jadi bahan tertawaan mereka. Tapi tak apalah. Memang aku suka menghibur kawan-kawanku.

 

“Rosyid mau maju bu”, kata teman-teman kepada ibu itu.

 

“Ayo maju!”, kata Nita

 

“Syid, cepetan maju. Ayo!”, kata Yuris dan Novi

 

“Ayo bleng maju bleng”, Tutur Dega dan Yanuar alias Nonot.

 

Sekali lagi kakiku tergerak untuk maju ke depan kelas. Dan senyuman khasku menyebar ke segala penjuru beberapa detik kemudian. Sorak sorai anak-anak membahana di ruang kelas dekat tempat parkir sebelah timur. Rasanya seperti seorang artis yang naik panggung dan disoraki fans-fans menantikan penampilanku. Aneh, tapi ini kenyataan. Aku yang semula setengah berani untuk maju ke depan kelas kini keberanian itu naik level menjadi 90%. Empat puluh persennya karena dorongan teman-teman yang memberikanku semangat. Wow!

 

Aku berdiri. Menatap mereka, teman-temanku. Sekali lagi aku sebagai penebar senyum tak lupa untuk mengucapkan salam senyum. Mereka tertawa. Haha. Kadang aku juga merasa ingin bertanya pada mereka semua, memangnya aku lucu? Padahal hanya sebuah senyum bisa membuat mereka tertawa. Atau mungkin aku punya bakat jadi pelawak? Entahlah.

 

“Kamu maju karena keinginan sendiri atau dorongan teman-temanmu?”, ibu guru bahasa itu menanyaiku.

 

Aku bingung. Jika kujawab aku maju karena dorongan teman-teman takutnya beliau mengurangi nilai presentasiku. Tapi jika kujawab aku maju ke depan kelas karena memang keinginanku, aku juga akan merasa bersalah. Karena sebagian semangat keberanian untuk maju berasal dari dorongan teman-teman.

 

“Karena pengen maju saja , bu”, jawabku. Sebenarnya agak salah juga sih aku menjawab begitu. Karena kondisinya fifty-fifty. Namun karena aku memang sejak awal memang punya niat ingin maju jadi tidak salah dong aku menjawab seperti itu? Aku tidak berbohong. Meskipun selalu kepikiran hingga sekarang. Yang jelas aku ingin maju meskipun keberanian itu tidak muncul 100%. Memang pada dasarnya aku pemalu dan lingkunganlah yang mengubahku untuk sedikit menjadi berani.

 

“Assalamualaikum wr. wb”

 

Anak-anak menjawab salam dan kemudian tersenyum kepadaku. Beberapa dari mereka bergurau, mungkin juga karena menertawakan aksiku di depan kelas. Bisa jadi mereka menjadi langsung waras dan tidak mengantuk lagi karena seolah-olah mereka menemukan badut di kelasnya.

 

Aku menulis satu kalimat sebagai permulaan presentasi. Tanpa teks. Jadi aku harus pandai-pandai membawakan penampilan biar tidak boring. Bahkan sesekali pun aku melucu di depan mereka meski risikonya ditertawakan.

 

“Jadi saya akan menerangkan tentang transitif dan intransitif. Kalimat transitif adalah kalimat yang membutuhkan objek sedangkan kalimat intransitive adalah kalimat yang tidak membutuhkan objek.”

 

“Nah. Contohnya gimana kalimat transitif dan intransitive itu?”

 

Aku menunjuk tangan kepada salah seorang teman wanita yang duduk di depanku. Yuris Ikhromawati, gadis asal Trenggalek yang sebelumnya pernah mengenyam di Madrasah Tsanawiyah setara SMP.

 

“Aku mencintai kamu, sayangku”

 

Sontak seluruh teman-teman di kelasku tertawa terbahak-bahak dengan caraku menerangkan pelajaran. Guruku bahasa Indonesia yang sedari tadi duduk diam di mejanya ikut tertawa. Bukan itu saja, gayaku tidak seperti guru menerangkan. Gayaku berbicara seperti itu mirip membaca sebuah puisi. Kelas kini menjadi gaduh di tengah siang yang mengantuk. Dan gadis yang kutunjuk dengan tanganku tadi merah padam. Mungkin dia merasa malu. Tapi dia juga ikut tersenyum.

 

“Itulah contoh kalimat transitif yang membutuhkan objek. Aku adalah subjek, mencintai adalah predikat dan kamu adalah objek. Sedangkan sayangku adalah pelengkap.“

 

“Suit-Suit”, beberapa teman laki-laki iseng bersiul.

 

“Ciye-ciye”, sambung yang lainnya.

 

Sesekali aku juga tersenyum kepada mereka yang menyorakiku.

 

“Sedangkan untuk contoh kalimat intransitive yang tidak membutuhkan objek adalah ‘presentasi selesai’. Presentasi adalah objek sedangkan selesai adalah predikat. Jadi ya kalimat intransitif tadi sekaligus menyelesaikan presentasi saya kali ini. Sekian, wassalamualaikum wr. wb.”

 

————————————————–

 

Aku tak punya perasaan bahwa presentasi bahasaku tadi adalah yang terakhir di depan ibu guru itu setelah jam pelajaran bahasa berakhir. Padahal aku berharap bisa menghibur beliau dengan aksi-aksiku di depan kelas selanjutnya. Karena kejadian siang hari itu aku jadi bersemangat ketika ada jadwal bahasa Indonesia. Namun sayang ibu guru bahasa itu harus berpisah dengan kami untuk selamanya.

Awalnya aku sempat tak percaya ketika seorang temanku memberi kabar bahwa ibu guru bahasa di kelasku meninggal. Baru siang tadi aku menghibur dia dan membuatnya tertawa. Dan kini beliau tiada. Seakan seperti mimpi di siang bolong. Terlebih ketika kabar itu menjelaskan bahwa ibu guru bahasa itu meninggal karena ditabrak bis antar kota di depan rumahnya sendiri.

Pertanyaan terakhirnya “Siapa yang mau maju. Ayo sebelum pulang”, ternyata yang dimaksud pulang adalah memang benar-benar pulang. Ya beliau pulang ke pangkuan tuhan. Dan itulah yang tak dimengerti oleh kami saat itu. Beliau pulang dan tak kan pernah kembali.

Cerita ini membuatku merinding. Kalimat transitif dan intransitifyang kujelaskan tadi siang terasa hambar. Dan mungkin bisa digunakan untuk menjelaskan kejadian ini lebih gambling. Sehingga para muridnya yang belum mengerti perbedaan kalimat itu bisa mengerti tatakala menggunakan topik ini. Dan tentu ibu guru itu harus meninggalkan kami untuk selamanya, tanpa lagi mendengar guyonanku lagi di depan kelas.

Aku yakin ibu guruku meninggal dengan baik. Karena saat itu kabarnya beliau sedang perjalanan pulang setelah membeli sesuatu untuk anak-anaknya saat petang hari tiba. Namun naas, ketika di depan rumah beliau yang juga dekat palang pintu rel kereta api yang tidak begitu jauh dari stasiun, beliau harus menanggung takdirnya. Sebuah bis antar kota melindas beliau. Mungkin beliau jatuh dan tidak mampu bangun dengan cepat karena badan beliau agak gemuk. Kepala beliau terlindas oleh ban bis antar kota itu tanpa ampun. Hanya tubuh sekitar leher ke bawah yang masih utuh. Darah bersimbah dimana-mana. Mungkin saja orang yang melihat kejadian langsung saat itu syok, teriak histeris sambil menyebut-nyebut nama tuhan. Terlebih di daerah situ terdapat semacam pasar yang juga jalan ramai. Tragis memang dan tentu mengagetkan kami yang sempat membuatnya tertawa di siang sebelum kejadian ini. Aku hanya bisa berdoa semoga beliau sempat membaca syahadat dan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.

Kenangan itu masih terasa hingga sekarang. Dikala keesokan harinya di sekolah heboh dengan berita ini, aku hanya bisa termenung. Sang guru bahasa harus meregang nyawa di seberang rumahnya sendiri. Ternyata tuhan lebih mencintai ibu guru bahasa Indonesia yang sempat membangkitkan inspirasiku itu. Seorang guru sekaligus ibu yang menerangi jalan dan pemberi semangat untuk anak-anaknya.

.

#Rawatengah, 27012012

6 Responses to Tragedi Seorang Guru, Seorang Ibu

  1. melani :) says:

    bagus banget ka ociiid :’)

  2. wandira says:

    sudah lama di tungu blog tulisan bang rosy…muncul juga..apa sy baru tau ya???
    selamat menulis buat bang ros
    tulis terus perjalanan detik demi detik…jam demi jam…hari demi hari…
    sampai waktu bosan dan penat…lalu pecahkan saja ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>