About

DSC_2008.

Menulis bagiku adalah sebuah karma. Karma karena kecelakaan pemahaman dan pemikiran. Dan kecelakaan itu telah memaksaku untuk membuka jendela dunia dengan sebuah tulisan.

 

Mungkin ini semua berawal dari karma. Bukan karma seorang Ken Arok yang akhirnya terbunuh karena membunuh Tunggul Ametung dengan keris Mpu Gandring, tapi karena tulisan-tulisan itu menjadi sebuah candu yang lebih ampuh daripada Narkotika. Dan aku secara tak sengaja menemukan keindahan dalam sebuah tulisan, lebih senang menulis dan lebih suka dicap sebagai penulis dibanding label yang kupegang sebagai pegawai negeri.

Meskipun sejak Sekolah Dasar aku sangat benci dengan dunia tulisan tetapi perlahan dogma itu telah sedikit bergeser. Jangankan menulis, mengarang saja kesulitan mendapatkan inspirasi. Hingga suatu saat sebuah peristiwa mengubah karma itu ketika mulai menginjak SMA aku harus berjibaku dengan tulisan-tulisan. Karma itu berawal dari sini, ketika seorang guru Bahasa Indonesia mengenalkanku pada keindahan sebuah tulisan. Jika Ken Arok akhirnya terbunuh, tapi tidak dengan aku. Aku masih saja menyukai jari-jariku menari di atas tulisan.

Sebuah peristiwa perlombaan mengubah hari-hariku 180 derajat. Ketika kubaca di sebuah media tentang perlombaan “Menulis Esay tentang Korea Selatan”, jari-jariku memaksaku untuk bergerak. Menari-nari di atas kertas hingga mencari referensi-referensi di perpustakaan. Aku lupa judul tulisan esay itu karena sampai sekarang file itu hilang entah dimana. Tapi paling tidak judulnya seperti ini, Korea Selatan dan Lalat Pengganggu Macan Asia. Saat itu aku sudah kelas 3 dan mungkin sudah cukup terlambat menikmati masa-masa menulis ketika di SMA. Kelasku adalah kelas terdekat dengan perpustakaan. Jika saja tidak ada taman bunga yang menjadi pemisahnya, mungkin kelasku sudah menyatu dengan ruang perpustakaan. Dan karena referensi itulah aku “dipaksa” menjadi kutu buku hingga seringkali ke perpustakaan. Padahal sebenarnya sejak masuk SMA aku kurang suka menjadi pengunjung Gudang Buku itu.

Karma itu mulai berbicara. Tatkala jam kosong atau jam istirahat, lebih banyak kuhabiskan waktuku ke perpustakaan daripada ke kantin. Dan kini aku sangat membenci hal ini, kenapa dahulu saat aku masih kecil sangat benci menulis. Kebencian menulis saat masih kanak-kanak itu kini membalikkan prediksi-prediksi bahwa aku bukanlah seorang penulis. Nyatanya bagiku menulis adalah bagian dari kehidupan sebuah keindahan hidup.

Aku menulis apa saja apa yang kuinginkan. Tak pernah membeda-bedakan topik termasuk artikel. Aku suka politik. Aku juga suka sastra karena sejak kecil aku lagi-lagi “dipaksa” mengikuti lomba-lomba tarik suara atau membaca puisi. Atau ekonomi dan kondisi yang mengusikku untuk menulis sesuatu. Menulis adalah bagian inspirasi yang imaginer meskipun kenyataanya tulisanku agak berbau filosofi-filosofi para filsuf.

Menulis bagiku adalah sebuah karma. Karma karena kecelakaan pemahaman dan pemikiran. Dan kecelakaan itu telah memaksaku untuk membuka jendela dunia dengan sebuah tulisan. Ah, andai saja sang MpuGandring tak membuat keris untuk Ken Arok, mungkin tak ada karma. Karma ada karena pikiran kita.

 

Kisah 1 : Tragedi Seorang Guru, Seorang Ibu

4 Responses to About

  1. syawitri says:

    …wah bener bagus…bisa pesen ni???

  2. heri says:

    loh kowe wis ngeblog ket kapan to cid, hehe lagi reti e, .com setaun piro cid tarife

    • admin says:

      wes suwe her. sejak masa-masa pengangguran tingkat 3. hehe, murah kok. kalo cuma beli domain doang sih gak nyampek 100 ribu. tapi kalo sekalian hosting tergantung pake harga yang berapa. opo tak gawekke sekalian ndesain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>