Ngaji Arbain Nawawi 1 : Niat

Jamaah Sholat Subuh yang dirahmati Allah

Sebelum kita mengulas tentang kitab Arbaín Nawawi ini, belum afdhol kalau kita tidak mengenal pengarangnya. Beliau adalah Al-Imam Al-Hafizh Syaikhul Islam Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf bin Muriy bin Hasan bin Husain bin Muhammad bin Jam’ah bin Hizaam An-Nawawi. Lahir di Nawa sebuah dusun di daerah Hauran, Syam/Suriah, dari Damaskus sekitar dua hari perjalanan.

Sangat disayangkan sekarang ini Suriah dilanda konflik peperangan, padahal banyak sekali karya ulama Suriah yang jadi acuan peradaban islam di seluruh dunia. Salah satu ulama’Suriah yang juga Muqri Masjid Nabawi saat ini, Syekh Dr. Yahya bin Abdurrazaq Al Ghautani kampung halamannya berada di Suriah. Saya mengambil sanad Arbain Nawawi salah satunya dari beliau. Beliau mengambil sanad dari gurunya Syekh Yasin Al Fadani, seorang Imam Masjidil Haram di masanya.

Imam Nawawi ketika berumur sepuluh tahun mulai menghafal Al-Qur’an dan bacaan-bacaan fiqih kepada para ulama Suriah. Suatu ketika ada seorang Syekh yang melintasi desa Nawa, yakni Syekh Yasin bin Yusuf Al-Maraakisyi. Beliau melihat seorang anak yang berbeda dari teman sebayanya, tidak suka bermain-main. Bahkan lari darinya sambil menangis saking tidak sukanya. Dia lebih senang membaca Al-Qur’an.

Maka pergilah Syekh menemui kedua orang tuanya dan menasihatkan agar kelak anak itu dikhususkan untuk menimba ilmu. Usulan itu pun diterima. Pada tahun 649 Hijriyah diajak bapaknya untuk mendapatkan ilmu yang lebih sempurna di Madrasah Daarul Hadits, dan tinggal di Madrasah Ar-Rawaahiyah yang berada di pojok timur dari masjid Al-Umawi, Damaskus. Dan beliau di sana menghafal kitab At-Tanbiih selama empat setengah bulan serta kitab-kitab lainnya.

Hadist pertama dari Arbain Nawawi ini membahas tentang pentingnya niat sebelum beramal. Bagaimana amalan kita, mendapat pahala atau tidak, berkah atau tidak, itu tergantung niat sebelum melakukan pekerjaan. Maka dari itu tak jarang sebagian besar para ulama mewanti-wanti kita melalui hadist ini. Para ulama meletakkan hadist tentang niat ini di awal kitab. Imam Bukhori misalnya. Dalam Shohih Bukhori, kitab ini diletakkan di bab paling awal. Kenapa di awal? Bahwa kalau kita ingin mengkaji sebuah kitab, niatnya harus lurus. Karena Allah. Bukan karena lainnya. Sedangkan Imam Ahmad meletakkan hadist ini dalam bab Jihad.

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ - رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap  perbuatan tergantung niatnya.  Dan  sesungguhnya  setiap  orang  (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang).

Hadits ini merupakan salah satu hadist yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam Syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Kenapa seperti itu? Sebab perbuatan seorang hamba dikategorikan dalam 3 macam : perbuatan hati, lisan, dan anggota badan. Niat menjadi salah satu bagian dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Meskipun hadist ini banyak dikutip ulama’ dalam karya kitabnya, kalau kita lihat dari sumber sanadnya tergolong sebagai hadist ahad. Maksudnya hanya diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khatab dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian dari Sahabat Umar hanya diriwayatkan oleh Álqamal bin Abi Waqash. Lalu hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim At Tamimi. Selanjutnya hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Sa”id Al Anshari.  Dari Yahya bin Sa”id inilah kemudian hadist ini terkenal dan diriwayatkan oleh 200 lebih perawi yang sebagian besar adalah para imam.

Sayyidina Umar memakai gelar Amirul Mukminin (bukan Khalifatur Rasulillah) karena gelar tersebut sudah disematkan terlebih dahulu kepada Sayyidina Abu Bakar Sidiq. Beliau menghormati Sayyidina Abu Bakar dengan memakai gelar lain. Adapun Abu Hafs adalah julukan kehormatan (kunyah) dari Sayyidina Umar, bahkan Rasullah pernah memanggilnya Ya Abi Hafsin. Padahal Sayyidina Umar tidak mempunyai anak bernama Hafs.

Yang membedakan antara perbuatan biasa dan yang dinilai ibadah itu ya niat. Yang membedakan orang mencuci muka biar ga ngantuk dan mencuci muka waktu wudlu, ya niat. Makanya kalau wudlu dinilai sebagai ibadah sedangkan mencuci muka biasa ya ga bernilai ibadah. Hanya perbuatan biasa yang diperbolehkan syara’. Maka dari itu dalam keseharian kita, niat itu mengiringi hal-hal yang menjadi ibadah seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan lainnya.

Lalu  Asbabul Wurud (latar belakang turunnya hadist) dikarenakan adanya seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang bernama : “Ummu Qais”. Seseorang itu bukannya mengikuti hijrahnya Rasulallah karena syiar agama, melainkan untuk mengejar-ngejar Ummu Qais. Bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Dalam syarah lain disebutkan kalau di Madinah itu lebih mudah mencari pekerjaan dibandingkan di Makkah. Atau gajinya lebih tinggi. Maka orang berbondong-bondong hijrah ke Madinah semata-mata untuk kepentingan dunia. idak lagi untuk menegakkan agama Allah. Ikut-ikutanlah intinya. Yang seperti itu tidak mendapatkan keutamaan hijrah tapi mendapatkan apa yang dimau dan diniatkan dari awal.

Semoga kita semua dapat terhindar dari bahaya penyakit hati. Dimudahkan oleh Allah untuk berbuat baik dan ibadah hanya untuk Allah. Bukan karena hal lainnya. Wallahu a’lam bishowab.

*Kajian Ahad Pagi Kitab Arbain Nawawi, Masjid Jamiatus Sholihin Jakarta Pusat, oleh Bagus Rosyid 29 Juli 2018
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>