Kajian Uqudullijain Ke-9

IMG_20180110_182019

Kajian Uqudullijain Ke-9

Refresh pertemuan sebelumnya: Allah berfirman dalam Al-Baqarah ayat 228

وللرجال عليهن درجۃ

“Para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya….”

Seorang laki-laki itu mempunyai kemuliaan melebihi istrinya. Yakni dalam hal kewajiban taat bagi seorang istri kepada suaminya. Seorang suami sudah memberikan mahar/mas kawin dan wajib memberikan nafkah untuk kemaslahatan istrinya.

Diriwayatkan bahwa saat haji wada’ yang bertepatan hari jumat, Rasulallah berkhutbah. Setelah berdzikir dan mengucap puji-pujianan kepada Allah, Rasulallah memberikan nasihat kepada para sahabat yang hadir saat. Adapun nasihatnya sebagai berikut :

الا والستوصوا بانساء خيرا

“Hai ingat-ingatlah (kaumku terhadap apa yang kunasihatkan kepada kalian semua). Terimalah wasiatku ini agar kalian selalu berbuat baik kepada perempuan”

Dari wasiat di atas kita diharapkan untuk selalu berbelas kasih kepada istri. Yakni dengan menjaga pergaulan yang baik. Nasihat dan ucapan yang baik dari suami kepada istrinya lebih dibutuhkan sebab pada dasarnya seorang istri itu lemah di hadapan suaminya.

Seorang istri membutuhkan perhatian dan bimbingan suami, sekaligus mengurusi semua kepentingannya. Istri diibaratkan sebagai tawanan perang, yakni masih berada dalam kuasa suaminya. Kekuasaannya terbatas, sehingga segala hal yang menyangkut dirinya menjadi tanggung jawab suami.

[Keterangan]

1. Lafadh خيرا dibaca nasob (fatkhah) karena menjadi maf’ul (objek kata kerja) dari lafadh والستوصوا

2. Lafadh خيرا dibaca nasob (fatkhah) akibat dari fi’il yang samar (hilang) seperti halnya kalam Allah : ولا تقولواثلاثۃ ~ hindarilah mengucapkan tuhan itu ada tiga.

3. Lafadh عوان ~ tahanan perang (dibaca kasroh huruf ن) adalah jama’ dari lafadh عانيۃ (sighot muntahal jumuk)

4. Dari lafadh عانيۃ (dibaca rofa/dhomah huruf ta’ nya) untuk menunjukkan arti perempuan (yang harus dilindungi karena kekuasaannya terbatas).

———
Kamu sekalian sama sekali tak mempunyai hak atas seorang istri kecuali sudah berbuat baik kepada mereka. Lain halnya jika istrimu membangkang secara terang-terangan, tidak lagi samar, maka tinggalkanlah tempat tidurmu dan jangan tidur bersamanya.

Berpisah tempat tidur ini tidak ada batas waktunya meskipun sudah bertahun-tahun, sampai sang istri kembali baik/tidak membangkang.

Namun sebagian ulama berpendapat bahwa memisahkan tempat tidur itu paling lama satu bulan.

Sabda Nabi :
فَاضْرِبُوهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ

“Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai” HR Muslim (no. 1218 147, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.)

Pukulan yang tidak melukai dengan kata lain tidak menyakiti tubuh istri. Seperti halnya kisah Nabi Ayub dalam QS Shaad 41-44, saat istri Nabi Ayub membangkang beliau bersumpah akan memukul istrinya 100 kali ketika sudah sembuh nanti.

Namun rupanya Nabi Ayub tak sampai hati memukul istrinya. Tapi dia harus melaksanakan sumpahnya. Maka diambillah 100 helai rumput yang diikat untuk kemudian dipukulkan pada tubuh istrinya. Demikian betapa lembut pukulan Nabi Ayub ke istrinya sebagai pelajaran dan ketaatan.

Bila sang istri sudah kembali taat maka tidak diperbolehkan untuk memukulnya. Jangan mengungkit-ungkit kesalahannya di masa lalu. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.

Wallahu A’lam Bishowab

 

 

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>