Tukang Becak Ini Menangis Saat Seorang Penumpang Memberinya Upah 100 Ribu

Ketika melintas di depan Pasar Ngemplak, seorang tukang becak diberhentikan oleh seorang ibu yang baru saja belanja di pasar. Satu keranjangnya penuh dengan sayuran. Satu keranjangnya lagi penuh dengan buah-buahan.

Tukang Becak segera menghentikan becaknya. Kemudian dengan cekatan membantu ibu itu mengangkati barang belanjaannya ke atas becak. Setelah memastikan barangnya terangkut semua, si ibu duduk di atas becak.

“Ibu mau diantar kemana?”, tanya tukang becak.

“Balai Desa Tunggulsari kang”

“Mau lewat mana bu?”

“Nanti biar saya kasih tahu arahnya kemana saja kang”

Tukang becak segera mengiyakan permintaan si ibu. Baru beberapa detik yang lalu dia mengayuh pedalnya, becak sudah melaju jauh beberapa meter.

Dalam perjalanan si tukang becak lebih banyak diam karena si ibu enggan mengajaknya ngobrol. Sembari mengayuh becak, dia memperhatikan kejadian-kejadian di sekelilingnya. Seorang pemotor yang menuntun motornya karena mogok, tukang sapu jalanan, penjual gorengan, dan beberapa pemilik rumah yang sibuk membersihkan genangan sehabis hujan.

Beberapa kali dia mengangguk senyum kepada tukang becak lain yang dilaluinya. Ibu itu adalah pelanggan pertamanya di pagi ini setelah jalanan basah oleh hujan semalaman.

“Bu kita mau lewat gang yang mana?”, tanya tukang becak setelah merasa asing dengan sebuah gang yang dilewatinya.

“Setelah melewati anak-anak berlarian itu, ke kanan ya”

Si tukang becak dengan semangat mengayuh becaknya. Dia melewati anak-anak yang berlarian kemudian membelokkan arahnya ke kanan.

“Bu di depan ada perempatan. Kita kemana lagi?”

“Belok kiri”

Si tukang becak mengayuh becaknya lagi. Dengan mahirnya dia membanting setir ke kiri. Ada satu portal berwarna merah yang harus dilaluinya.

“Bu kita kemana lagi setelah ini?”

“Kalau di kiri jalan ada penjual pulsa, kita ke kanan ya kang”, jawab si ibu sambil menata keranjang sayuran yang bergeser karena goncangan polisi tidur.

Tanpa kenal lelah si tukang becak mendorong becaknya yang sempat berhenti karena melewati polisi tidur yang menjulang tinggi. Pagi ini dia sangat bersemangat setelah perutnya terisi nasi dan segelas kopi.

Begitu seterusnya, saat tukang becak melewati percabangan dia bertanya pada si ibu. Sudah beberapa kali dia membanting setirnya ke kiri dan kanan mengikuti arah jalan dari si ibu.

“Rumah ibu masih jauh lagi ya bu?”, tanyanya penasaran.

“Ga jauh kang. Tiga belokan lagi sampai. Sampeyan capek ya?”

“Ndak bu. Nanggung bentar lagi”

Di belokan terakhir, tampak sebuah bangunan tinggi dari jauh. Genteng berwarna cokelat. Balai desa Tunggul Sari.

“Berhenti di tembok putih depan itu ya kang. Rumah saya di belakangnya”, kata si ibu menunjuk ke arah depan.

Si tukang becak segera saja menginjak tuas rem sesaat sebelum melewati tembok putih. Dia berhenti tepat di depan gerbang balai desa.

“Bu sudah sampai”

Si ibu segera turun dari becaknya. Dibantu tukang becak, barang-barang belanjaan diturunkannya.

Si ibu merogoh dompetnya. Dikeluarkan selembar uang berwarna biru, 50 ribuan. Diberikannya kepada tukang becak.

“Sisanya buat sampeyan saja”, kata si ibu.

Tukang becak menerima pemberian ibu itu. Tapi bukannya malah senang, dia tampak murung. Dilihatnya wajah si ibu dengan tatapan iba.

“Kenapa lagi kang? Masih kurang? Sampeyan ini kok kurang bersyukur dikasih 50 ribu malah minta lagi. Ya wes. Ini tak tambahi 30 ribu. Itung-itung buat sarapan”, si ibu mengeluarkan uangnya lagi dari dompetnya dengan ketus.

Tukang becak menerimanya. Lagi-lagi dia menatap wajah ibu itu dengan tatapan iba. Kali ini air matanya hampir saja tumpah. Dia terlihat kebingungan dan salah tingkah.

“Kenapa lagi?”, hardik si ibu.

“Kurang? Kurang baik apa coba saya ini ngasih sampeyan 80 ribu buat mbecak ke sini. Kok wajahnya malah sedih kayak saya ini pelit saja. Kenapa? Kakinya capek? Ya namanya orang narik becak ya pasti capek!”, si ibu mulai marah.

“Sudah-sudah. Daripada saya jadi omongan tetangga dikira pelit, ini buat sampeyan. Tak genepin 100 ribu. Jangan minta lagi. Saya ga ada pegangan duit. Ini yang terakhir. Dan jangan sok melas gitu di depan saya”, si ibu sudah diujung amarahnya.

Tukang becak menerima pemberian si ibu. Total 100 ribu yang diterimanya. Dan sungguh diluar dugaan, si tukang becak malah tak tahan lagi keluar air matanya. Menangis di hadapan si ibu.

Si ibu amarahnya sudah diujung ubun-ubun. Dia sudah merasa cukup bahkan lebih memberi upah kepada tukang becak itu. Malah pengen nambah minta upah lagi. Ingin dilemparkannya dua keranjang belanjaan itu ke arah muka tukang becak.

Sebelum itu terjadi, tukang becak berbicara dengan penuh rasa iba kepada si ibu.

“Ibu, saya menangis bukan karena upah pemberian ibu. Tapi saya tidak tahu jalan pulangnya. Ibu tadi kan sudah belasan kali belok-belok gang perumahan ini”, jawabnya sambil memegang setir becak dan membetulkan posisi topinya.

Sekian.

10022017 Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>