Dia Berlari Kecil ke Arahku. Menghadang Langkahku. Dan Membuka Cadarnya di Hadapanku. Kemudian…

Malam ini ruang tunggu bandara agak sepi. Tak banyak jadwal pesawat yang mengangkasa rupanya. Orang-orang lebih memilih berangkat besok pagi. Tapi tidak denganku. Aku ingin menikmati cahaya malam dari ketinggian. Elok nian memandangi kerlip lampu yang terang menyala di kedua sayap pesawatnya.

Aku akan pulang. Sudah tak sabar rasanya menyantap masakan ibuku. Telor mata sapi dengan lalapan daun pepaya dan mentimun. Bumbu khas dari sambal parutan kelapa. Pedasnya yang membuat dahi basah oleh keringat, sangat bergairah.

Aku masih sibuk membalas pesan whatsapp satu-persatu. Pantulan sinar monitor smartphone serasa menjadikan wajahku bercahaya. Bahkan ketika seseorang memanggil namaku, aku tak mendengarnya. Aku terlalu asyik dengan duniaku sendiri.

“Maaf, apakah kamu…?”, sepotong suara manja kudengar nyaring di telinga. Tiba-tiba saja dia ada di depanku.

Aku menoleh ke arahnya. Kukernyitkan dahi. Aku merasa asing dengannya. Aku tak kenal dia. Seluruh badannya tertutup. Kecuali kedua bola mata dan telapak tangannya. Dia memakai cadar.

“Aku Rani”, kenalnya singkat.

Rani yang mana? Duh. Adu puluhan nama Rani yang pernah kukenal. Namun tak satu pun dari mereka yang memakai cadar.

“Mbak ingin kenalan dengan saya atau bertanya?”, jawabku sopan seraya menyunggingkan bibir.

“Rani…”, dia mengangkat jari telunjuknya ke depan hidung. Menggosok-gosokkan ke kanan ke kiri. Kemudian memperagakan seolah kakinya pincang.

Aku masih tak paham dengan kelakuan gadis bercadar di depanku ini. Bagaimana bisa dia berlagak seakrab ini denganku. Aku saja merasa asing dengannya.

“Kamu masih ingat? Dua puluh satu tahun lalu kamu pernah membuat seorang anak kecil menangis. Hampir setiap hari. Hingga suatu ketika, dia ikut ayahnya pindah ke Jakarta”

Aku mulai mendapatkan titik terang. Aku ingat dengan sosok teman masa kecilku yang sering kuledek sebagai perempuan ingusan.

“Kamu? Rani? Iya benar, kamu Rani kan? Rani yang bajunya pernah kubuat kotor penuh lumpur, di bekas air genangan hujan! Kemudian kamu menangis tersedu-sedu sampai abahmu datang ke rumahku”, jawabku riang.

“Kan tadi sudah kubilang, namaku Rani”, kata dia ketus.

“Kamu sekarang bercadar? Aku tak menyangka, padahal dulu kamu suka main sama anak-anak cowok. Dan satu lagi, kamu masih ingusan”, kataku meledek.

“Huh. Kamu masih sama kayak dulu. Ga pernah berubah. Usilnya tetap saja”, dengus Rani.

“Gimana kabar Abah? Ummi? Kamu di bandara sendiri? Mana suamimu?”, aku terus saja memborondong pertanyaan kepada Rani seperti peluru yang keluar dari ujung senapan. Abah dan Umminya sangat baik terhadapku saat aku masih sering jumpa mereka ketika kecil. Kami sudah lama sekali tak bertemu.

“Abah dan Ummi sehat. Aku juga punya 2 adik sejak pindah ke Jakarta. Asal kamu tahu, aku belum menikah.”

“Sungguh? Kukira orang sepertimu malah buru-buru ingin menikah muda. Hahaha.”

Rani melotot. Kedua tanggannya melingkar di pinggang.

“Kalau kamu? Anakmu berapa?”, dia balik bertanya.

Pertanyaan Rani barusan seperti menusuk dadaku. Hampir saja aku tersedak. Aku lelah dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.

“Aku… Sama sepertimu”, jawabku datar.

Suasana hening sejenak. Rani terdiam oleh kata-kataku itu. Dia seperti kehabisan kata-kata. Sama seperti dia, mulutku kaku. Pikiranku seolah hilang bersama suara detak jarum jam tangan. Aku menghela nafas dalam-dalam sebelum memecah keheningan.

“Malam ini aku akan terbang ke Surabaya. Sebulan yang lalu aku sudah berjanji kepada ibuku untuk menemuinya. Ibuku akan menjodohkanku dengan seorang wanita, putri bungsu Kyai Ali. Andai saja kamu datang sebulan yang lalu…”, lidahku terasa kelu untuk melanjutkannya.

Rani hanya bisa menunduk. Dia tak berani menatap wajahku.

Sebuah malam yang tak disangka-sangka datangnya. Aku bertemu sahabat kecilku dulu di bandara. Sahabat yang seringkali kusakiti dan kubully saat mengaji bersama di surau. Tapi mengapa dia baru muncul sekarang? Di waktu mulutku terlanjur mengucap janji untuk serius menjalin hubungan dengan putri Kyai Ali.

Kegundahanku itu terusik seketika oleh suara pengumuman dari balik microphone sana. Bahwa sebentar lagi pintu boarding akan dibuka. Semua penumpang jurusan Surabaya masuk melalui Gate 5.

“Rani, aku harus segera pergi. Pesawatku sebentar lagi take off. Kapan-kapan aku janji akan ke rumahmu setibanya kembali di Jakarta. Oh ya bolehkah aku minta nomor teleponmu?

Aku segera bertukar nomor dengannya. Sedikit terburu-buru karena pintu boarding sudah dibuka. Kupastikan nomor yang diberinya benar, dengan meneleponnya. Nomorku sudah muncul di layar smartphonenya.

“Rani. Aku pamit dulu ya. Nanti kita sambung lewat telepon ngobrolnya. Salam sama Abah dan Ummi. Assalamualaikum”, aku segera bergegas menuju pintu boarding Gate 5.

Belum ada sepuluh langkah, seseorang mengikutiku dari belakang. Dia berlari kecil ke arahku. Menghadang langkahku dan dengan berani membuka cadarnya di hadapanku. Rani apa yang sedang kamu lakukan?

“Kamu yakin masih ingin pergi ke Surabaya setelah melihat wajahku?”, pertanyannya itu cukup membuatku sangat dilema.

“Lebih cantik mana, aku atau gadis pilihan ibumu itu?”, sungguh saat itu juga tenggorokanku terasa kering. Ludah yang berkali-kali kutelan tak cukup membuatnya basah. Hatiku berada tepat di persimpangan dua arah.

Aku mati gaya. Sementara dia masih kokoh berdiri di depanku dengan cadarnya yang terbuka. Suara pramugari memberi tahu, pintu boarding akan ditutup sebentar lagi.

“Rani, akan kujawab pertanyaanmu setelah turun dari pesawat nanti”, aku berlari menjauh dan segera menuju pintu pesawat. Aku meninggalkannya sendirian dalam lorong dengan keadaan air matanya berlinang.

~~~~~

“Hai Rani. Ini aku, pria yang pernah membuat lututmu terluka dan kamu harus berjalan pincang selama seminggu”, ketikku dalam aplikasi whatsapp.

“Maaf tadi aku meninggalkanmu sendirian di ruang tunggu. Aku tak lagi punya pilihan. Sebelum pintu pesawat benar-benar tertutup”

“Rani. Saat kamu buka cadarmu, aku melihat Rani yang berbeda dari seorang Rani yang pernah kukenal dahulu. Waktu kecil wajahmu kusam, ingusan, rambut berantakan, dan gayamu tomboy”

“Aku belum pernah melihat seorang wanita begitu cantiknya selama ini. Kecuali wajah dibalik cadarmu itu. Aku tak bisa lagi menggambarkan bagaimana cantiknya kamu. Kamu adalah wanita satu-satunya yang paling cantik dan menarik. Yang pernah kutemui di dunia nyata selama ini”

“Kamu adalah Rani yang sudah kutunggu selama 21 tahun. Sejak kamu pindah ke Jakarta, aku hilang kontak denganmu. Berapa kali informasi sudah kucari selama ini, jejaring media sosial tak ada satupun yang menautkan padamu. Aku hampir saja menyerah mencarimu kemana-mana. Hingga sebulan lalu, aku terlanjur berjanji pada Ibuku dan keluarga Kyai Ali. Satu-satunya hal yang kusesali adalah aku bertemu kamu malam ini. Kenapa kamu tidak datang sebulan lalu, sebelum aku mengucap janji?”

“Ketika air matamu berlinang tadi, aku sempat untuk memilih bertahan. Kubatalkan saja perjalananku ke Surabaya. Aku malu, air matamu jatuh karenaku. Sama seperti kamu menangisiku saat aku terpeleset ke sungai dahulu. Beruntung ada batang kayu yang menahan bajuku agar tak terseret arus kencang. Sampai kemudian pemancing ikan di pinggiran sungai itu menolongku”

“Tentu kamu tahu kan bahwa laki-laki yang dipegang adalah omongannya. Kamu pasti tidak ingin aku ingkar janji akan ucapanku sendiri. Baiklah aku tak ingin berbohong. Aku bisa saja memilihmu karena kamu adalah impianku selama ini. Tapi sekali lagi aku minta maaf. Aku memilih untuk hidup bersama janji-janjiku dan mengorbankan impianku”

“Aku tahu itu pasti sakit. Menyakitiku dan juga menyakitimu. Ada saatnya kita harus memilih satu pilihan dari jutaan pilihan yang sama baiknya. Aku yakin kamu akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku. Aku tak akan pernah berhenti mendoakanmu sampai kamu benar-benar mendapatkannya”

“Kadang-kadang cinta memang begini adanya. Takhluk oleh sebuah prinsip dan kenyataan. Inilah takdir kita. Aku rasa kamu juga paham jika berada dalam kondisiku”

“Rani. Aku minta maaf”

 

Jakarta, 8 Februari 2017

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>