Seorang Sufi Tahan Bully Itu Ternyata Kapolda Jabar

Pernah baca Tazkiyatun Nafs ga, intisari dari Ihya Ulumudin-nya Imam Al Ghazali? Atau kalau antum ga suka dengan Al Ghazali, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga punya kitab dengan judul yang sama. Terus apa kaitan kitab-kitab itu dengan sosok Kapolda Jabar Anton Charliyan yang dibully akhir-akhir ini?

Saya hanya merasa risih, sebuah foto Kapolda Jabar yang menangkupkan kedua tangannya ke dada sambil merem saat berkunjung ke Gunung Padang Cianjur dianggap Netizen sebagai lambang musyrik, murtad, kafir dsb. Seandainya saya berfoto di depan Gereja Katedral apakah saya otomatis disebut kafir? Atau ketika saya berfoto dengan latar belakang Candi Borobudur lantas disebut murtad? Atau kalau saya berfoto juga di depan Pura Uluwatu kemudian saya disebut musyrik?

Lha. Mungkin kalau antum meneladani Tazkiyatun Nafs Imam Al Ghazali atau Ibnu Taimiyah, tak akan mudahnya terucap ketiga kata itu dari lisan.

Begitu liar ya cara antum menilai seseorang hanya dari sebuah gambar foto. Yang asbabun nuzulnya pun tak pernah tahu kenapa sebuah foto itu ada. Apalagi kemudian diupload dengan bumbu-bumbu caption yang bernada sinis dan menghakimi sepihak, untuk memuaskan ego kepuasan pribadi sesaat.

Begini.

Antum pernah baca tulisan-tulisan Pak Anton sebelumnya? Saya yakin antum belum pernah mengorek sedikit tentang kepribadian dan cara berpikirnya. Mudah kok.

Coba cek instagramnya, ada kata-kata nasihat yang terselip di setiap postingan humorisnya. Kalau antum merasa kesulitan membuka IG nya karena diprivate, antum bisa baca blog yang jarang diupdate semenjak beliau diangkat jadi Kadiv Humas Mabes Polri awal 2016.

Buka blognya disini, www.setetesembunantoncharly.blogspot.co.id maka antum akan temukan bagaimana pemikiran beliau tentang ‘membersihkan jiwa’. Banyak kutipan-kutipan mendamaikan hati yang diambilnya dari Al Hikam Ibnu Athoilah, quote sahabat Ali bin Abi Thalib, atau ayat alquran yang dijadikan bahan tulisan.

Terlepas dari semua berita miring beliau yang dibenturkan dengan FPI, GMBI, atau yang lainnya, sebagai perwira Polri tentu beliau tidak akan memihak kepada siapapun kecuali kepada hukum. Profesionalisme sebagai aparat. Jika ada ketidakadilan aparat, ada provost sebagai tempat mengadu. Dan kita selama ini terjebak pada deretan prasangka-prasangka yang belum tentu tajam kebenarannya.

Ada sebuah tulisan beliau yang cukup membuat saya tertarik untuk mengutipnya di sini. Beliau sendiri mengutip dari buku terkenal La Tahzan. Tentang ‘Jangan Terjebak dengan Kemarahan’.

#Jangan terjebak engkau dengan kemarahan, karena hanya akan mengakibatkan kebingungan yang berkepanjangan.

#Rasa bingung atau marah tidak akan pernah bisa menolong siapapun, tetapi justru hanya akan menambah suasana hati menjadi semakin panas, keruh dan tidak nyaman.

Mungkin Pak Anton akan menolak jika dianggap sebagai seorang sufi. Namun siapa tahu di tengah gulita malam, dia bersimpuh sendirian dalam sajadahnya untuk memohon ampunkan orang-orang yang telah membully-nya. Tazkiyatun Nafs.

Jakarta, 26 Januari 2017
Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>