Mencari Matahari ke Puncak Cartenz Piramid

 

Pernah dengar orang nikah, maharnya ke puncak Cartenz Papua bersama? Malam ini saya menjadi saksi hidupnya. Coba tanya ke PT. Freeport di Tembagapura, berapa jumlah batang emas yang harus diproduksi untuk berangkat ke sana. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Dalam 3 minggu ke depan, kami akan melalui desa paling tinggi di Papua. Dengan rute sebagai berikut : Sugapa-Ugimba-Tambua-Basecamp Danau-Danau-Puncak Cartenz. Jika ditarik garis segitiga siku-siku, jauhnya sekitar 61 km sama seperti jarak Jakarta-Bogor. Tapi jangan salah, kami harus melewati banyak jurang yang diselimuti es abadi terlebih dahulu.

Ini adalah mimpi yang tak pernah terimpikan sebelumnya. Kami hanya mengikuti aliran air yang jatuh dari genteng ke pipa-pipa saluran hingga mengalir ke laut lepas. Begitulah dengan kami, hanya kesempatan dan rejeki yang mampu mempersatukan kami dengan Sugapa. Selebihnya ada invisible hand yang tak kasat mata, itu urusan tuhan.

Kami akan berjumpa dengan suku-suku pedalaman di Papua. Yang tentunya punya karakter dan habit yang sangat berbeda dibandingkan orang kota pada umumnya. Es abadi apalagi, dengan suhu mencapai di bawah 0° dan kadar oksigen yang menipis kami harus pandai-pandai menjaga kondisi badan. Penyakit ketinggian seperti hypotermia adalah salah satu ancaman nyata di depan kami.

Pertemuan ini juga unik. Sebagian dari mereka adalah teman kami saat menjalani hidup di tengah hutan Binaiya Maluku yang hampir dinyatakan hilang oleh Tim SAR. Sebagiannya lagi adalah teman seperjalanan saat membelah hutan Kalimantan. Perbatasan antar dua provinsi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dan takdirlah yang pada akhirnya mempertemukan dengan sekelompok anak muda dari Universitas Tanjungpura.

Setiap dari kami punya mimpi dalam menjalani hidup. Dan inilah mimpi kami, yang bahkan tak semua orang berani mencoba untuk bermimpi seperti ini. Dengan kuasa Allah, kami akan melihat matahari di puncak tertinggi Indonesia. Cartenz Pyramid. Dan perjalanan kami dimulai dari sini. Seven Summit Indonesia adalah kenyataan yang sudah menganga di depan kelopak mata.

Tiada harapan tinggi yang kami butuhkan. Hanya selarik doa dari teman-teman sekalian yang kami inginkan.

Tunggu kami untuk kembali ke Jakarta. Sehingga kami bisa bercerita tentang keadaan dan kehidupan di ujung timur sana. Kami akan senang berbagi pengalaman. Tentu saja dengan doa teman-teman agar perjalanan ini diberikan kelancaran.

Sekian. Pramugari sudah memanggil kami untuk segera masuk ke kabin pesawat. Bismillah wa ridlo lillah.

Soekarno-Hatta, 6 Januari 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu

nb : kami, kecuali saya

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>