TUHAN YANG TAK DIRINDUKAN

Ada yang janggal saat saya bertanya dimana letak mushola kepada lelaki paruh baya yang menjadi driver kami. Sejak pulang dari kantor bupati untuk wawancara, kami belum menemukan masjid. Lelaki itu berusaha menghindar saat kami mengajaknya berjamaah.

Geladak Kapal Merak Bakauheni

Geladak Kapal Merak Bakauheni

Matahari mulai tenggelam. Kami harus segera kembali ke hotel untuk menyelesaikan laporan sebelum jam 12 malam. Tampaknya malam itu adalah malam yang melelahkan sebelum lelaki paruh baya itu membuka jati dirinya.

Ada 4 rombongan saat itu. Saya, Fulan, Grey, dan driver kami Pak Anta (nama samaran). Grey adalah perempuan satu-satunya dalam rombongan kami. Saat perjalanan pulang, ada banyak kejutan yang menurut saya itu adalah hal-hal baru.

Pak Anta membuka obrolan dengan bertanya kepada kami satu persatu. Mulai dari hal-hal sederhana sampai dengan latar belakang kami. Hingga sampailah di sebuah pertanyaan, tentang keyakinan yang kami anut.

Saya dan Fulan seorang muslim. Grey seorang kristen. Pak Anta? Saya kira dia muslim seperti saya dan Fulan. Tapi dengan telak dia membantahnya sendiri. Sekarang dia sudah bukan muslim lagi.

Saya teringat sore tadi pak Anta agak kikuk ketika ditanya dimana letak mushola. Saya tidak ada kecurigaan sama sekali sebelumnya hingga pernyataan Pak Anta barusan yang mengingatkan kejadian sebelumnya.

Pak Anta tidak bercerita banyak tentang kepercayaan yang dianutnya sekarang. Karena di antara kami tidak ada yang tertarik lebih jauh tentangnya. Fulan sudah tertidur pulas di dalam mobil. Grey terlihat sibuk dengan androidnya. Kecuali saya. Jiwa jurnalis saya kembali diuji. Saya sangat antusias ingin menggali lebih dalam tentang Pak Anta.

Saya punya teman dengan bermacam latar belakang dan keyakinan. Ada yang awalnya kristen kemudian beralih menjadi muslim. Atau sebaliknya, yang awalnya muslim ada juga yang beralih jadi kristen. Sedangkan Pak Anta? Ini kasus berbeda. Pak Anta yang awalnya seorang muslim taat kini beralih keyakinan yang tak pernah diakui di Indonesia. Saya baru tahu ada keyakinan dengan model seperti ini.

Obrolan saya dengan Pak Anta sangat intens. Bahkan Pak Anta bercerita bagaimana cara dia beribadah, bagaimana cara dia bertemu tuhannya, tentang tempat ibadahnya, tentang perkumpulannya. Banyak sekali.

Obrolan saya dengan Pak Anta malam ini harus berakhir ketika kami telah sampai di hotel. Esok pagi, kami akan diantar jalan-jalan ke pantai oleh Pak Anta. Tentu saja setelah tugas kami semua selesai malam ini.

Saat tiba di pantai hal pertama yang kami cari adalah musholla. Saya meminta izin kepada penjual ikan bakar yang kami pesan agar diperbolehkan sholat di pojokan warungnya. Mereka mengangguk, bahkan tempat sholat kami disiapkan oleh mereka. Dicari yang paling bersih dan suci dari najis.

Grey dan Fulan langsung meluncur ke atas tebing, mencari sunset. Fulan yang paling antusias dengan pemandangan pantai. Baginya sore ini adalah pemandangan surga. Dia menyebutnya belanja foto. Kamera yang dipegangnya dilengkapi lensa paling canggih saat ini.

Saya punya kepentingan juga dengan pemandangan pantai sore itu. Indah. Persis seperti yang saya lihat di Instagram. Saya ingin mengabadikannya juga di smartphone yang sudah berumur hampir 2 tahun ini.

Sebelum melangkah keluar warung untuk bergabung dengan Grey dan Fulan, Pak Anta memprovokasi saya dengan pernyataan-pernyataannya. Ternyata sedari awal dia melihat saya sholat di pojokan warung milik penjual ikan bakar. Saya yang awalnya antusias sekali ingin menikmati pemandangan, mendadak hilang selera. Saya tidak tertarik lagi dengan batu karang yang memecah deru ombak di lautan. Pecah menjadi jutaan butiran-butiran seperti gerimis hujan.

Saya lebih tertarik untuk mewawancarai Pak Anta. Pak Anta bercerita panjang lebar kepada saya. Sangat terbuka, lebih terbuka daripada cerita di dalam mobil semalam. Dalam ceritanya, agama baru yang dianutnya ternyata sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia.

Dia berani bertaruh, ada tokoh-tokoh nasional yang mengikuti agama barunya. Tapi dia tak pernah menyebut nama, sepertinya takut disebut mencemarkan nama baik. Saya menghormati privasinya. Pertanyaan saya “Maksudnya tokoh yang sering muncul di televisi itu?” dijawab dengan anggukan dia saja saya sudah merasa cukup. Meskipun saya tidak pernah tahu siapa yang dia maksud.

Dia mempraktikkan cara beribadahnya bagaimana bertemu dengan tuhan. Memejamkan mata, berdiam diri, konsentrasi, mengatur pernafasan seperti orang yoga. Kemudian sebuah hal yang mengejutkan terjadi, tangannya bergerak sendiri. Awalnya bergerak pelan, lama-lama menjadi sangat kencang. Sekujur tubuhnya beringsut ikut bergetar.

Gerakannya mirip orang kerasukan, seperti orang yang punya tenaga dalam. Saya malah takut akan terjadi apa-apa dengan Pak Anta. Tapi kekhawatiran saya sirna seketika. Gerakannya perlahan melemah kembali hingga kemudian Pak Anta membuka matanya. Energinya seperti tersedot karena gerakan barusan, napasnya agak tersengal. Kemudian dia menyalakan rokok.

Dia menjelaskan konsep ketuhanan yang dianutnya. Menurutnya, banyak yang ber~KTP islam, kristen, katolik, budha, hindu yang bergabung mengikuti agama barunya. Bahkan KTP Pak Anta masih ditulis sebagai seorang muslim.

Saya kemudian bertanya, “Bagaimana perwujudan ketika Pak Anta bertemu dengan tuhan?”

“Seperti sinar putih yang mendekat perlahan. Tidak menyilaukan namun menenangkan”, jawabnya.

“Pak Anta kan dulunya muslim? Ada kaidah tauhid yang menyebutkan bahwa Allah itu mukholafatuhu lil hawadisti. Berbeda dengan makhluk. Sedangkan cahaya adalah makhluk. Setiap benda yang mengeluarkan cahaya, dia adalah makhluk. Dalam islam perwujudan tuhan tidak bisa disamakan dengan benda yang bisa dilihat mata manusia”, saya ingin membantahnya seperti itu. Tapi saya memilih tersenyum tanpa harus menyakiti hatinya.

“Pak Anta menyebut tuhan dengan nama apa?”

“Alah”, dia menyebut dengan ejaan bacaan biasa.

“Hmmm, itu kan serapan bahasa arab”, gumamku.

“Nabi bapak namanya siapa?”

“Tidak ada nabi dalam kepercayaan saya. Namanya utusan”, dia menyebut nama seseorang yang berasal dari Kediri. Tapi ingatan saya terbatas tentangnya. Seperti nama Jawa.

“Bukankah Nabi atau Rasul dalam islam disebut utusan? Berarti bisa diartikan, yang bapak sebutkan barusan adalah nabi bapak”, saya mulai berani menyatakan pendapat. Saya yakin Pak Anta tidak marah karena dia hanya mencari teman berdebat.

Pak Anta diam. Dia berpikir sejenak. Kemudian dia berdehem berirama. Saya menangkap sikapnya, dia mengiyakan pernyataan saya bahwa nama orang Kediri yang disebutnya adalah nabinya.

Saya pastikan Pak Anta murtad, keluar dari islam. Karena tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai penutup para nabi. Menyerupakan Allah dengan makhluk. Tidak pernah sholat dan mengerjakan rukun islam lainnya. Imannya telah rusak. Saya hanya bisa membatin demikian. Karena biar bagaimanapun saya menghormati dia sebagai orang yang lebih tua. Saya hanya tersenyum.

Saya tidak begitu paham apakah kepercayaan seperti ini dianggap penistaan agama? Namun sepanjang dia tidak menghina dan membawa simbol agama tertentu yang dicampuradukkan dengan kepercayaannya, itu urusan pribadi masing-masing. Biarlah dia berurusan dengan pengadilan akhirat kelak.

Tapi setidaknya, pertanyaan menyentil tentang kenabian dan tauhid dasar yang saya ungkapkan tersebut sudah memberi efek kejut kepadanya. Terlihat raut wajahnya berubah setelah saya bertanya demikian. Ada beberapa pertanyaan yang hanya dijawabnya dengan diam.

Pak Anta yang pada awalnya ingin berbagi informasi tentang keyakinan barunya dengan dominasi provokasi, tidak bisa membelokkan keyakinan yang saya yakini selama ini.

Saya tahu Pak Anta juga hafal beberapa ayat alquran, karena terlihat dia menyisipkan kalam Allah tersebut dalam perbincangan. Tapi itu tidak cukup menggetarkan hatinya untuk mendapatkan hidayah kembali.

Dan tuhan yang diceritakan Pak Anta dalam agama barunya, tuhan yang tak dirindukan. Karena dalam islam tuhan yang dirindukan itu adalah seperti dalam surat ayat ke 112 alquran. Surat Al Ikhlas.
Geladak Kapal Merak-Bakauheni, 11 Desember 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu

~~~

Disclaimer:
1. Tulisan ini tidak untuk menyakiti siapapun. Hanya sepenggal pengalaman yang diceritakan kembali. Nama-nama di atas pun juga nama samaran.
2. Tulisan ini bersifat jurnalistik. Diceritakan langsung oleh obyek primer. Jika ada kesalahan tulisan akan diperbaiki di kemudian hari.
3. Keyakinaan seseorang tidak bisa dipaksakan kepada seorang lainnya. Apalagi cinta, tidak bisa juga dipaksa-paksa. Lebih-lebih rasa benci, jika dipaksa itu namanya mendzolimi.

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>