Seekor Katak yang Merindukan Kasih Sayang

Seekor katak yang sudah lama tinggal dalam batok kelapa, menganggap kegelapan adalah satu-satunya kebenaran. Dia tak pernah membuka batok kelapanya sehingga tak pernah melihat matahari, menghirup aroma bunga, mendengar rintik hujan, atau merasakan dingin angin pegunungan.

Suatu hari, seekor kera secara tak sengaja mengambil batok kelapanya untuk mengambil air di telaga. Sang katak kebingungan. Dia tak terbiasa hidup tanpa sebuah kegelapan. Panas matahari dan warna-warni taman bunga, baginya adalah sebuah kebohongan. Dia tak terbiasa dengan hal-hal baru karena tak pernah membuka diri terhadap kebenaran-kebenaran di sekitarnya.

Seekor katak itu adalah kamu.

Yang mempertahankan mati-matian sebuah kebenaran menurut pemikiranmu sendiri. Bagimu kebenaran adalah satu-satunya yang pernah kamu lihat, kegelapan.

Seekor kera itu adalah penggerak perubahan.

Bisa digambarkan melalui sebuah buku, petuah orang berilmu, hidayah, niat, atau keinginan untuk terus belajar. Penggerak perubahan yang akan membawa kamu membuka mata tentang kebenaran-kebenaran lainnya di sekitarmu, yang kadang kamu tidak tahu.

Matahari, taman bunga, hujan, dan angin adalah kebenaran lainnya yang tertutup oleh keberadaan batok kelapa. Batok kelapa telah menutup mata hati, pikiran, dan perasaanmu karena kamu menganggap kegelapan adalah satu-satunya kebenaran.

Batok kelapa adalah keegoisanmu.

Egois mempertahankan satu-satunya kebenaran menurut pemikiranmu sendiri, kegelapan. Egois tidak ingin keluar dari zona nyaman dan takut akan adanya banyak bahaya. Padahal jika mampu meluluhkan keegoisanmu, kamu bisa membuka mata lebih lebar dan menyaksikan keindahan dunia selain kegelapan.

Namun kebanyakan dari kamu masih tetap berpijak pada anggapan bahwa kegelapan adalah satu-satunya hal paling indah yang pernah kamu lihat. Tanpa pernah kamu tahu, ada banyak keindahan di luar batok kelapa sana.

Tapi memang itu hak kamu. Apakah kamu memilih kegelapan sebagai keindahan? Atau matahari, taman bunga, hujan, angin, dan lainnya sebagai keindahan?

Kalau aku sih memilih keduanya.

Karena kadang-kadang gelap itu indah dan kadang-kadang gelap itu tak lebih indah daripada matahari, taman bunga, hujan, dan angin. Hehehe.

Jakarta, 30 Desember 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>