PEREMPUAN MISTERIUS DI HALAMAN GEREJA

Anak-Anak Negeri Roho

Anak-Anak Negeri Roho

Sudah 11 hari kami berjalan di tengah hutan Maluku. Dua hari terakhir saya dan teman-teman kehabisan makanan. Terpaksa kami menjadikan sisa beras yang tersisa sekepal dua kepal untuk dijadikan bubur tanpa ada lauk. Dibagi untuk tujuh orang. Biar ada rasanya, kami taburi dengan garam. Ngenes.

Saya yakin sekali, lebih dari seminggu kami tidak ada kabar pasti akan dicari tim SAR. Baterai HP mati total. Kalaupun masih ada, tidak ada sinyal. Tim SAR akan kesulitan menemukan kami karena kami melewati jalur yang berbeda dari kesepakatan awal. Titik koordinat keberadaan kami tidak diketahui. Hal ini kami ketahui saat sudah sampai di kota Masohi.

Saya gambarkan bagaimana rasanya ‘tersesat’ di hutan saat itu. Lelah, berhari-hari kami berjalan menyusuri terjalnya pegunungan di Pulau Seram. Bosan, tak seorangpun bisa kami sapa karena memang tidak ada orang melintas dan berpapasan. Hanya ada rombongan kami di hutan yang lebat ini. Emosi meledak, pikiran kacau, perut keroncongan, hanya sabar yang bisa kami lakukan. Ingin rasanya segera kembali hidup normal dan makan enak, sambil minum kopi menikmati angin sejuk di pantai. Setidaknya saya pernah membayangkan hal seperti ini sebelumnya, santai-santai di atas kapal sambil melihat terumbu karang yang masih alami.

Kami berjalan cepat. Berharap segera menemukan Negeri Roho, kampung kecil di tengah hutan. Pasokan air kami habis. Kami tak menemukan aliran sungai untuk diambil airnya. Kerongkongan kami kering, terpaksa dan itu kedua kali saya minum kubangan air hujan. Cerukan kecil di jalan tanah, sekiranya bisa untuk minum kami ambil dengan botol.

Empat jam kami sudah berjalan, terlihat rumah dengan berbagai atap rumbia dari kejauhan. Kami senang bukan main. Setidaknya perjalanan lelah berhari-hari segera usai. Kami rindu meneguk segelas air dari dalam teko, bukan air kubangan. Kami buang sisa air kubangan dalam botol itu. Hari ini kami ingin pesta, meneguk air kelapa dari halaman belakang rumah warga. Nikmat sekali.

Sungai di depan kami yang lebarnya hampir 3 kali jalan Thamrin Jakarta, meluap. Padahal itu satu-satunya jalan menuju Negeri Hoaulu, kampung terakhir di jalan lintas utara. Pasti jalur yang akan kami lewati nanti sudah menjadi sungai setinggi kepala orang dewasa. Malam ini kami putuskan untuk menginap, di kampung yang hanya punya 13 kepala rumah tangga.

Sama seperti di Negeri Piliana, Pulau Seram bagian selatan, kampung ini 100% penduduknya menganut agama kristen. Sudah pasti tidak ada musholla. Satu-satunya tempat ibadah yang kami lihat adalah sebuah gereja tua dengan lonceng besar di halamannya. Kami beristirahat di rumah Mama Kristin, sebuah rumah panggung.

Saat keenam teman saya istirahat, saya berjalan mengelilingi kampung sendirian. Padahal, seorang teman saya yang asli Ambon sepanjang perjalanan 3 hari ini selalu memegang golok 50 cm di tangannya. Tidak pernah lepas. Belakangan saya tahu alasannya. Beberapa tahun lalu di sekitar jalur yang kami lewati, ada kasus pembunuhan oleh suku primitif. Suku itu mengincar kepala manusia di luar penduduk kampungnya untuk dipenggal sebagai persembahan adat, dijadikan mas kawin atau penanda laki-laki yang sudah dewasa.

Saat melintas di halaman gereja, saya bertemu perempuan misterius. Dia mengucapkan Selamat Natal kepada saya. Padahal hari raya umat kristen ini masih lama, 4 bulan lagi. Saya yang seorang muslim hanya tersenyum mendengarnya sambil mengucapkan terima kasih.

Perempuan itu bertanya, apakah rombongan kami ini ada yang beragama kristen? Mungkin dia bertanya seperti itu saat. melihat ada salah satu teman saya memakai jilbab, penanda seorang muslim. Saya menjawab kami semuanya muslim. Tampak raut kecewa di wajahnya. Dia sudah susah payah mengucapkan selamat Natal kepada saya, tapi tak ada seorang pun yang beragama kristen dalam rombongan kami.

Saya mencium perasaan tak enak. Pertanyaan perempuan itu barusan, menciutkan nyali saya untuk melanjutkan jalan berkeliling kampung. Jujur banyak prasangka berkecamuk dalam pikiran saya, jangan-jangan akan terjadi sesuatu hal jika saya berlama-lama di sini. Itulah alasan kenapa teman saya yang asli Ambon memilih beristirahat sedangkan saya? Keluyuran seorang diri di kampung terpencil ini.

Saya kembali ke rumah Mama Kristin, pertanyaan apakah kami semua muslim dari perempuan tadi masih menggelayut di pikiran saya. Maklum, kampung ini pernah terimbas konflik SARA beberapa tahun lalu. Apakah mereka masih trauma dengan kedatangan orang ‘asing’ seperti kami? Apakah kami mampu bertahan di kampung ini semalaman? Ah saya pasrah.

Di rumah Mama Kristin, kami pesta. Kami ingin makan daging ayam. Rasanya seperti setahun kami tidak makan ayam. Bibir kami sudah pahit, berhari-hari hanya makan bubur dicampur garam. Tidak enak. Beberapa kali saya muntah karenanya.

Saya minta izin untuk menyembelih ayam sendiri. Dalam agama kami, hewan yang disembelih harus disertai nama Allah. Jika tidak, akan menjadi bangkai. Haram. Beruntung juga Mama Kristin masih punya pasokan beras dan mie instan. Jadi kami bisa sekalian menggantinya dengan uang. Hari ini kami beruntung menemukan beras di sini, biasanya mereka makan sagu dan ubi. Saya tidak mau makan sagu, keras. Tidak cocok dengan perut saya dan tidak kenyang.

Tidak seperti rumah Raja Negeri Piliana yang di dalam rumahnya bebas berkeliaran anjing, rumah Mama Kristin bersih. Anjing hanya boleh berkeliaran di kolong rumah. Jadi untuk urusan sholat, kami tidak perlu bersusah payah menghindari lolongan dan liur anjing. Cukup menggelar sajadah di bale-bale rumahnya.

Saya masih kepikiran dengan perempuan misterius di halaman gereja tadi. Kelihatannya dia tidak senang melihat rombongan kami. Perkataannya tendensius. Memang kami seorang musafir yang numpang menginap di kampung mereka, itupun kalau sungai tidak meluap kami tidak akan pernah menginap di sini. Tidak akan pernah! Saya sendiri sudah jenuh melihat pepohonan hutan hampir 2 minggu ini.

Di tengah rasa was-was saya akan perempuan misterius itu, Mama Kristin dan suami membawakan makanan dari dapur. Seporsi ayam goreng hasil sembelih sendiri, nasi sebakul, mie instan satu panci, kopi dan teh, serta camilan kelapa mirip yang disajikan permaisuri Raja Negeri Piliana. Malam ini kami pesta. Buas, seperti seekor harimau yang kelaparan. Seperti itulah kami saat itu, kami rindu makan enak.

Oh ya. Kata Mama Kristin, semua makanan itu bukan dia yang masak. Bahan makanan itu juga bukan berasal darinya. Lantas siapa? Saya semakin penasaran.

Mama Marta. Dialah orang yang menyediakan bahan makanan sekaligus memasaknya untuk kami. Makanan malam ini adalah bahan makanan terakhir yang dipunyainya. Baik sekali orang itu, merelakan bahan makanan terakhirnya hanya untuk kami. Artinya, dia harus segera belanja ke kota untuk memenuhi kebutuhannya esok hari. Kalau tidak, hari ini dia makan ubi.

Mama Marta adalah kakak perempuan dari Mama Kristin. Umurnya sekitar 50 an. Rambutnya keriting. Rumahnya di depan Gereja.

Sebentar. Perempuan berambut keriting? Saya sangat kaget. Bukan main. Perempuan misterius dengan pertanyaan tendensius tadi juga berambut keriting. Umurnya sekitar 50 an juga. Ya salam. Jangan-jangan?

Ya Allah. Saya sudah berburuk sangka. Ternyata perempuan misterius itu adalah Mama Martha. Orang yang pernah mengucapkan selamat natal kepada saya di halaman gereja. Orang yang pernah membuat was-was pikiran saya. Orang yang menurut saya membuat pertanyaan tendensius. Orang yang… Ah, saya jadi malu dengan diri ini.

Orang yang kuanggap misterius itu ternyata orang yang sangat peduli kami. Meskipun berbeda agama dia merelakan bahan makanan terakhirnya untuk kami makan. Dia yang memasakkan makanan untuk kami pula. Sungguh kami berhutang budi padanya. Lebih-lebih saya. Yang telah berprasangka macam-macam kepadanya.

Esok pagi-pagi sekali kami harus melanjutkan perjalanan. Terutama saya, harus berpamitan kepada Mama Martha. Saya harus meminta maaf atas segala prasangka yang tidak benar. Dia telah berbuat banyak kebaikan kepada kami. Maka pagi itu juga kami mendatangi rumahnya untuk berpamitan.

Saya tidak punya apa-apa untuk memberinya kenang-kenangan. Semua bahan makanan kami sudah habis. Biasanya jika masih ada sisa, kami memberikannya kepada warga sekitar. Saya hanya punya gelang kesayangan yang dibeli di Tana Toraja. Saya bilang kepadanya, ini gelang kesayangan saya. Dibeli di Sulawesi. Tolong jaga baik-baik. Oh ya ada satu lagi, slayer yang sudah saya bawa ke beberapa daerah di Indonesia saya berikan kepadanya. Hanya itu yang bisa saya berikan.

Di akhir perjumpaan terlihat raut muka sedih di wajahnya . Duh kenapa Mama Martha menjadi mellow? Saya jadi ikut-ikutan bersedih dengan perpisahan ini. Pertemuan singkat yang mengesankan. Ingin saya peluk seperti ketika saya memeluk ibu saya di rumah, tapi tidak boleh. Bukan muhrim. Kami harus mengucapkan selamat jalan kepada Mama Martha.

Saat melewati sungai yang sudah surut sebetis beberapa meter dari kampung, kami kebingungan. Meskipun sungai sudah surut tetap saja jalan setapak tidak kelihatan. Ada banyak cabang jalan yang sudah menjadi sungai. Semuanya sungai, tidak ada jalan yang kami cari. Ada 5 menit kami bolak-balik. Tetap tak ketemu

Di tengah kebingungan kami, sebuah suara muncul dari belakang. Mama Martha? Ya Allah. Ternyata dia mengikuti kami dari tadi. Dia sudah yakin kami akan tersesat karena semua jalan sudah menjadi sungai. Demi apa orang yang pernah kusangka berbuat buruk telah membantu kami? Dia berjalan sekitar 200 meter, kami mengikuti di belakangnya. Dia menunjukan jalan kemana kami harus pergi.

Sekali lagi saya trenyuh melihat Mama Martha. Mulut saya terkunci. Hampir saja air mata jatuh ke bumi, tapi kutahan-tahan. Sebegitu baiknya dirimu? Sampai saya salah menilai. Sayang, Mama Martha tidak mau diajak ke kota. Padahal hari ini dia harus makan ubi. Jika ke kota kami akan ganti berasnya.

Sampai saat menulis cerita ini saya masih ingat kebaikannya. Apapun agamamu, bila kamu berbuat kebaikan kepada sesama, kamu akan dikenang sebagai orang baik. Jika ada kesempatan kembali ke kampung terpencil ini, orang pertama yang akan saya jumpai adalah : Mama Martha.

Jakarta, 24 Desember 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>