KKR Natal, Sabuga, dan Pengalaman Saya Sholat Subuh di ‘Gereja’ Daerah Bekas Konflik

Kebanyakan Rumah di Negeri Piliana Beratapkan Daun Rumbia

Kebanyakan Rumah di Negeri Piliana Beratapkan Daun Rumbia

Ada yang mengganjal di hati saya. KKR Natal di Sabuga selasa kemarin dibubarkan paksa segelintir ormas? Duh. Saya yakin antum sekalian pasti belum pernah merasakan bagaimana sensasi sholat subuh di dalam ‘gereja’.
 
Tidak mudah tinggal beberapa hari di sebuah perkampungan bekas konflik SARA. Jangankan musholla atau masjid, tak ada penduduk muslim di kampung sini. Perkampungan ini 100% penduduknya beragama kristen.
 
Bayangkan. Kampung ini pernah dibakar dalam konflik Ambon Maluku lebih satu dekade silam. Saya bisa melihat jelas, bangunan sekolah bekas kerusuhan itu dibiarkan begitu saja terlihat hangus. Tampak warna hitam di salah satu ruangan bekas kebakaran. Beberapa ruangan sudah hancur dan ditumbuhi tanaman ilalang liar. Sampai sekarang. Penduduk desa memilih untuk membangun sekolah baru di atas bukit.
 
Hawa ketakutan pasca konflik masih terasa kental. Saya bisa merasakan sendiri suasananya. Di desa ini, Negeri Piliana, adalah salah satu desa yang cukup ramah terhadap orang ‘asing’ seperti saya. Di desa lain yang lebih primitif dan terpencil, warga desa sudah menyiapkan busur dan anak panah bagi siapapun yang bertamu ke desanya selepas Maghrib tiba.
 
Jangan salahkan mereka jika ada anak panah yang tiba-tiba menempel di salah satu bagian tubuh antum. Mereka masih trauma dengan kerusuhan konflik SARA tahun akhir 90 an lalu. Bertamu selepas matahari tenggelam, dianggap tidak sopan.
Bercengkrama Bersama Anak-Anak di Salah Satu Rumah Warga

Bercengkrama Bersama Anak-Anak di Salah Satu Rumah Warga

 
Rombongan kami tiba di kampung ini tepat matahari di atas kepala. Semua pakaian kami basah karena harus menyeberang sungai setinggi dada orang dewasa. Beruntung sungai itu masih bisa dilewati sebab terlambat sedikit saja ketinggian air bisa di atas kepala kami. Ditambah seorang teman kami sakit, tidak bisa melanjutkan perjalanan hari itu juga. Kami terpaksa menginap di kampung ini.
 
Kami meminta izin menginap di rumah Raja Negeri Piliana. Jangan bayangkan rumah raja negeri ini bergelimang kemewahan, tidak. Semua rumah di kampung ini masih beralaskan tanah. Dindingnya terbuat dari kayu hutan. Atapnya terbuat dari daun rumbia. Raja adalah orang paling dihormati di kampung ini, selain ketua adat.
 
Karena sudah memasuki waktu Dhuhur, kami meminta izin untuk sholat. Kami bertanya kepada Raja, dimanakah tempat yang masih suci untuk mendirikan sholat? Kami semuanya muslim.
 
Kampung ini masih berkeliaran anjing peliharaan warga dan anjing liar. Jangan sekali berani-berani menggelar sajadah dimana saja, kalau antum tak mau melihat pemandangan anjing yang menggonggong sepanjang waktu sambil menetes air liurnya.
 
Syukur kalau antum tidak apa-apa, ceroboh sedikit saja anjing-anjing itu bisa jadi menyerang antum. Ingat, kami bukan orang sini. Kami orang ‘asing’. Bagi anjing-anjing itu orang asing dianggap sebagai ancaman.
 
Ingin tahu seberapa ganasnya anjing di sini saat melihat orang kota? Teman kami yang asli orang Ambon saja sampai meloncat ketakutan ke atas bangku kayu sambil berteriak histeris minta tolong. Padahal anjing itu hanya lewat. Tidak menggonggong.
 
Kami diarahkan Raja ke tempat kosong di sisi Gereja, untuk mendirikan sholat. Karena di sanalah tempat yang aman dari anjing berkeliaran. Mereka yang semuanya orang Kristen, mempersilahkan kami yang muslim untuk mendirikan sholat.
 
Tidak ada rasa kebencian di mata mereka walaupun berbeda agama. Mereka malah mempersilakan dan menghargai kami beribadah sesuai agama kami.
Raja Negeri Piliana, Maluku

Raja Negeri Piliana, Maluku

 
Sore harinya, Raja menghadiri kebaktian di Gereja. Gereja itu ‘menempel’ dengan rumah Raja, hanya dipisah oleh beberapa tanaman. Kami bisa mendengar nyaring nyanyian kebaktian sore itu. Bahkan kami bisa melihat jelas wajah damai pendeta yang sedang membaca ayat tuhan dari balik jendela.
 
Malam hari sangat sepi. Jangan harap ada kegaduhan orang-orang nonton bola di warung kopi. Jarang ada penduduk melenggang bebas di jalanan. Selain karena tidak ada listrik, mereka menghabiskan malam di dalam rumah. Di tambah malam itu hujan deras. Kami harus melewati malam yang sangat mencekam itu ditemani suara lolongan anjing. Anjing liar.
 
Malam semakin larut, hujan mulai berhenti. Di antara kami, tak ada yang berani beranjak sedikitpun dari tempat istirahat di ruang depan. Bahkan untuk sekedar buang hajat ke belakang. Kami harus tahan hingga esok pagi.
 
Subuh hari kami tak berani keluar rumah untuk sholat di ruangan rekomendasi Raja, dekat gereja. Subuh masih gelap. Tak ada tanda-tanda kehidupan di luar. Nyali kami beringsut, takut. Anjing warga pasti sedang mendekam di kolong-kolong rumah. Dengan mata bersinar tajam dan lolongan mengerikan, saat melihat orang asing.
 
Antum tahu kami memutuskan sholat subuh dimana? Di rumah Raja! Yang jika dibuka pintu depannya sudah berdiri kokoh tempat umat kristen melakukan kebaktian tadi sore. Yang di dinding-dindingnya banyak gambar Yesus Kristus sedang berdoa dan lambang salib. Pagi itu, kami sholat subuh ditemani Yesus. Hehehe.
 
Apa boleh buat. Itu adalah tempat paling nyaman dan suci untuk sholat subuh. Daripada kami sholat ditemani anjing-anjing yang air liurnya membanjir kemana-mana karena hujan semalaman?
 
Dan Raja tidak pernah marah karena rumahnya jadi tempat ibadah kami apalagi sampai diusir. Bahkan saat matahari mulai muncul ke permukaan, Permaisuri Raja malah menghidangi kami sepiring kue kelapa dan air tengah hangat.
 
Bukankah toleransi yang indah itu seperti ini? Kami belajar banyak makna toleransi dari daerah yang masih dianggap ‘primitif’. Maluku, timur jauh. Sedangkan di Sabuga Bandung sana, yang katanya punya peradaban sudah sangat maju, ada pengusiran jamaah KKR Natal oleh sejumlah oknum.
 
Lantas saya bertanya-tanya. Sebenarnya yang primitif itu siapa? Ah, mungkin saya sedang gagal paham.
 
Jakarta, 8 Desember 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu
This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>