Kaleidoskop 2016 : Bom Panci, Bom Dandang, dan Bom Wajan

Jauh sebelum bom panci ditemukan di bekasi beberapa minggu lalu, saya sudah pernah bereksperimen membuatnya. Tapi saya tidak mau dan tidak akan pernah membagikan tutorial pembuatannya kepada antum. Saya tidak ingin mendapat tuduhan subversib atau perbuatan melawan hukum atas pasal karet undang-undang anti teror. Kecuali saya berubah pikiran.

Begini.

Dulu waktu saya masih senang bermain bom (kala itu anak-anak di desa saya menyebutnya mercon) suka membuat eksperimen bermacam-macam. Pernah juga di atas jembatan seberang masjid, ada yang membuat bom (beberapa mercon dijadikan satu bundel, dilapisi kertas kemudian dipadatkan) yang bunyinya hampir bisa di dengar satu RT. Sengaja diledakkan di atas jembatan karena ada celah kosong di bawah jembatan yang jika ada rangsangan getaran, suaranya bisa menggema kemana-mana.

Waktu itu saya baru saja punya adik bayi, bom yang meledak di atas jembatan itu membuat adik saya terbangun dari tidur kemudian menangis tiada henti. Bisa dibayangkan kan betapa nyaringnya suara bom itu? Daya ledaknya saja hampir mencapai satu RT! Kasus ini kemudian diselesaikan secara kekeluargaan, ditutup tanpa ada laporan kepada kepala desa.

Masih tentang bom lagi (anak-anak di desa saya menyebutnya mercon).

Kami bereksperimen membuat bom pipa. Belakangan dipake juga ide kami itu oleh para teroret (teroris pecinta telolet). Nyatanya setiap kali melakukan penggeberekan, pak polisi sering menemukan pipa paralon lengkap dengan kabel-kabel di dalamnya.

Nah bom pipa yang kami buat ini masih dalam konsep tradisional. Terbuat dari bambu yang sudah dibolongin tengahnya sehingga mirip pipa. Atau memakai bekas kaleng susu SGM yang biasa diminum adik saya. Bambu atau kaleng tersebut dipendam beberapa senti menggunakan tanah, corong bagian depan dibiarkan terbuka. Sebagai amunisinya kami menggunakan karbit yang direndam sedikit air. Sehingga memunculkan reaksi kimia yang jika disulut api akan meledak. Booooooom!!!

Antum tahu dampak yang ditimbulkan dari bom ini? Lebih dahsyat daripada bom jembatan.

Saya yang asyik mendapatkan mainan baru bom pipa yang dipendam ini sampai-sampai lupa mandi dan ngaji. Ibu saya yang datang tergopoh-gopoh tiba-tiba menjewer telinga. Kemudian membubarkan kerumunan anak-anak yang asyik bermain lupa waktu itu. Karena sebentar lagi langit akan gelap, masuk maghrib.

Masih tentang bom (anak-anak di desa saya menyebutnya mercon).

Pernah saat negara ini ramai karena kasus Bom Bali I, seseorang membuat gaduh di sekolah. Toilet sekolah kami meledak. Banyak asap putih tebal berebut keluar dari ventilasi udara. Banyak juga kertas-kertas kecil berhamburan di sekitar bangunan toilet. Efek bom toilet ini lebih besar daripada bom jembatan atau bom pipa yang pernah saya buat.

Letusan ini bisa di dengar oleh semua kelas. Kelas saya berada di paling pojok sedangkan sumber ledakan berada di dekat kantin sekolahan. Ada jarak sekitar 150 meter dari tempat saya duduk.

Ya. Belakangan saya mulai paham mengapa bom toilet ini bisa meledak dahsyat. Reaksi kimia dari gas yang keluar dari lubang septitank turut menyumbang daya ledak. Gas yang beberapa tahun terakhir dipakai sebagai energi alternatif ramah lingkungan ini ternyata bereaksi sangat efektif. Beruntung tidak ada korban luka saat itu, termasuk pelakunya sendiri tidak apa-apa. Karena memang bukan tergolong bom bunuh diri. Hanya saja pelakunya langsung diskorsing oleh sekolah.

Kalau bom panci?

Ibu saya pernah seharian ga masak karena pancinya dipake mainan anaknya. Saat itu memang belum ada panci presto, masih panci tradisional. Yang kalau ada bagian bolong sedikit bisa ditambalkan ke tukang panci.

Nah panci itu saya bikin eksperimen. Saya masukkan bahan peledak ke dalamnya (kakak keponakan saya menyebutnya mercon kimpling, mercon paling mahal karena daya ledaknya lumayan keras). Masukkan beberapa bom kimpling eh mercon kimpling ke dalamnya dan tunggu beberapa detik. Kami tertawa bahagia saat tutup panci terlempar jauh ke atas. Suara yang ditimbulkannya pun berisik. Tetangga kami yang sedang tidur siang sampai marah-marah dibuatnya.

Sayangnya kami tidak pernah kepikiran memasukkan paku dan mur baut ke dalam panci. Seperti barang bukti yang sering kami lihat di televisi. Lha wong saya bukan pemain debus atau kuda lumping yang tahan makan paku dan beling kok.

Kalau bom dandang bagaimana?

Ini lebih gampang. Ambil dandang ibumu di dapur. Cara kerjanya hampir sama dengan bom panci di atas. Tapi karena dandang itu lebih besar dari panci, butuh banyak bom kimpling eh mercon kimpling. Efeknya cuma satu : Kalau pantat dandang yang warnanya hitam itu jebol, siap-siap saja dimarahin ibumu. Karena butuh biaya banyak untuk ditambalkan ke tukang panci. Hahaha.

Kalau bom wajan? Kalau yang ini tidak perlu saya kasih tahulah. Wong sudah sama-sama tahu.

 

Jakarta, 31 Desember 2016
Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>