Sehabis Kudeta, Lalu Apa?

Setidaknya kekhawatiran saya akan munculnya konflik horisontal pasca kudeta turki yang melebar ke dunia nyata, tidaklah berlebihan. Sebelumnya, pertikaian semacam ini hanya menjadi bumbu harum di banyak timeline social media.

Bakda dhuhur kemarin seorang jamaah di salah satu masjid besar di Jakarta Pusat, berjalan dengan lantang mendekati mimbar imam. Entah kemunculannya dari shaf sebelah mana, dia hendak memprotes kajian seorang ustadz yang terlalu mengidolakan dan mendambakan Presiden Turki, Erdogan. Bisa jadi banyak juga di antara jamaah yang kurang sreg dengan penyampaian sang ustadz tapi mereka lebih memilih berdiam diri. Menahan emosinya dan menganggap informasi yang didengar itu masuk kuping kiri keluar kuping kanan.

Padahal beberapa menit sebelumnya antara ustadz dan jamaah : berucap takbir dengan bacaan yang sama, rukuk dengan gerakan yang sama, sujud dengan menghadap tuhan yang sama, dan mengakhiri shalat dengan salam yang sama. Sayangnya semua persamaan itu hanya bertahan sementara, setelah kata-kata berbalut politik dipersilakan masuk ke dalam masjid. Masjid yang awalnya untuk mempertemukan niat dan tujuan yang sama dari para jamaah, berubah menjadi ajang kebencian karena masing-masing tak bisa menahan egonya sendiri.

Saya seperti merasakan perseteruan antar pendukung Jokowi – Prabowo di Pilpres 2 tahun lalu hadir kembali, tentu dengan konteks dan warna yang sama sekali berbeda. Aroma balas dendam kerap kali muncul dengan dalih demokrasi, semuanya merasa paling benar sendirian. Dan momentumnya dirasa sangat tepat mewakili, membanding-bandingkan pemerintahan negeri sendiri dengan pemerintahan turki.

Anehnya kita semua tanpa sadar, ikut terbawa arus dengan berpegang teguh terhadap pendapatnya sendiri-sendiri. Sedangkan perdebatan sengit yang tiada berujung itu, sedikit sekali yang menawarkan sebuah solusi. Rasa-rasanya kalau tidak ingin malu dengan dicaci maki ya harus mencaci maki. Seperti bunderan Senayan yang tak pernah ketemu mana buntut dan mana kepalanya, berputar-putar di situ saja.

Kalau dalam satu mimbar masjid saja terjadi perbedaan, bagaimana kita bisa berharap adanya persatuan saat menginjakkan kaki keluar dari halaman? Di sekolah misalnya, murid yang tak mau mendengarkan gurunya karena berbeda madzhab. Atau di lingkungan birokrasi, antar instansi tak mau berbagi ilmu dan merasa bisa berjalan sendiri. Atau mungkin di lingkungan sosial, yang terkotak-kotak dalam kelompoknya dan enggan untuk mengenal kelompok yang lainnya.

Kita tak bisa menyalahkan mimbar kayu yang tak bisa diajak bicara, kenapa dia hanya diam melihat pertikaian di depannya? Tetapi salahkan saja kita yang terlalu menutup diri dan tak ingin menerima orang dengan segala macam perbedaannya.

Sang ustadz yang kurang peka siapa saja jamaah yang menjadi pendengarnya, dari berbagai latar belakang. Jamaah yang kurang mampu mengendalikan emosi dan hawa nafsu dengan sedikit atraksi demonstrasi. Pengurus masjid yang lalai dengan bebas mempersilakan tema kajian berbau politis, khilafiyah, dan isu-isu yang masih mungkin diperdebatkan untuk masuk ke dalam ruangan masjid. Atau jangan-jangan saya sendiri yang harus disalahkan? Karena tak bisa mempertemukan ketiganya dalam satu jalan?

Ah. Kenapa juga saya harus memikirkan banyak kekhawatiran. Justru yang mau diajak seiya sekata, sehidup semati, sepiring berdua, sedegup hati dan seiramalah yang seharusnya patut diperjuangkan lebih duluan.

Jakarta, 16 Syawal 1437 H
Ba Gus Rosyid Tuasamu

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>