Mimpi yang Sungguh Aneh

Pernah bermimpi? Kira-kira apa ya maksud dari mimpi di bawah ini?

—————

Suatu ketika seorang pemuda yang sudah bertahun-tahun bercocok tanam di tepi anak sungai Brantas, dipanggil Kyainya untuk menghadap. Pemuda ini pekerja keras, banyak tumbuhan yang ditanamnya berbuah dengan sangat lebat. Dia juga pemuda yang kreatif dalam memperlakukan tumbuhan.

“Nak. Apakah engkau cukup bahagia dengan hidupmu yang sekarang?”, tanya Kyai pada pemuda itu.

“Alhamdulilah bahagia sangat Kyai”

“Syukurlah. Tapi untuk sekedar hidup tak cukup engkau bahagia hanya seperti itu. Engkau tak ingin mencari bahagia dengan cara yang lain?”

“Apa itu Kyai?”

“Carilah lahan kosong ke arah selatan desa ini. Bebas yang mana saja asalkan itu menarik bagimu. Tanamilah. Bawakan juga pemilik lahan itu Sanggan (Pisang Raja)”

“Nggih Kyai”

Pisang Raja (Sanggan)

Pisang Raja (Sanggan)

Pemuda itu menyanggupi perkataan Kyai nya. Dia kemudian pulang dan berpamitan kepada ibu dan adik-adiknya. Tak lupa dia membawa setandan pisang raja atau sanggan. Berkelanalah dia.

Langkah demi langkah dia nikmati. Dia pergi ke arah selatan desa. Berharap menemukan lahan seperti yang diceritakan Kyainya.

Pemuda itu berdiri beberapa lama di sebuah lahan milik seorang Petani. Dia bergumam, “Sepertinya aku tertarik menanami lahan ini dengan sayuran dan tumbuhan”.

Dia kemudian mendatangi sang pemilik lahan yang juga seorang petani sayur.

“Perkenalkan tuan. Saya fulan. Saya diminta Kyai saya untuk mencari lahan kosong ke arah selatan. Saya tertarik dengan lahan kosong tuan ini. Bolehkah saya tanami sayuran dan tumbuhan?”, kata Fulan sambil memberi hadiah pemilik lahan itu dengan setandan pisang raja.

“Lahan kosong ini adalah satu-satunya harta paling istimewa yang kupunya. Tanahnya gembur dan subur. Tumbuhan apa saja yang ditanam akan lebat buahnya. Semilir anginnya menyejukkan. Pemandangan di baliknya indah. Engkau akan melihat sejuta bintang di angkasa saat malam tiba. Lahan ini tempat romantis dan penuh ilmu pengetahuan”

“Aku tidak akan menjualnya, kecuali…”

“Kecuali apa tuan?”, sahut Fulan penasaran.

“Kecuali engkau menukarnya dengan hartamu yang paling istimewa”

Fulan hening sejenak. Dia berpikir seribu akal bagaimana dia menuturkan harta paling berharganya.

“Tuan. Kata Kyai saya lahan kosong tuan ini yang akan saya tanami dapat membawa saya ke dalam hidup bahagia. Paling bahagia se dunia, seperti yang tadi tuan ceritakan. Saya hanya pemuda biasa. Bercocok tanam juga seperti tuan. Harta paling berharga saya adalah keluarga saya. Ibu dan adik-adik saya. Bagaimana mungkin saya memberikan keluarga saya untuk tuan? Saya rela memberikan apa saja pada tuan asalkan bukan keluarga saya”

Pemilik lahan kosong itu menatap mata Fulan. Dia menemukan sebuah ketulusan dan keikhlasan dari Fulan.

“Baiklah anak muda. Apa yang bisa engkau berikan padaku jika bisa menanami lahanku”

Lahan yang Sungguh Indah

Lahan yang Sungguh Indah

“Tuan. Saya tidak ingin merebut lahan tuan punya. Saya hanya ingin menanami lahan ini agar dipenuhi tanaman dan sayuran. Saya tidak bisa memberi apa-apa pada tuan selain : menjaga tanahnya agar tetap gembur dan subur, membiarkan semilir angin yang menyejukkan itu melintasi lahan, menjaga agar pemandangan di baliknya tetap indah, di saat malam tiba saya akan turut menikmati sejuta bintang di angkasa. Tentunya saya juga ingin menjadikan lahan ini sebagai tempat yang romantis dan penuh ilmu pengetahuan. Saya hanya ingin menjaganya dan berbagi kebahagiaan dengan tuan dari hasil lahan ini”

“Engkaulah pemuda tulus yang kucari selama ini. Rupanya Kyai itu tak salah pilih memintamu datang padaku”, kata pemilik lahan itu sambil menganggukkan kepalanya dan tersenyum ringan pada Fulan.

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>