Uuud : Suku Paling Misterius dan Primitif di Pegunungan Kalimantan

Percaya atau tidak, saya mendapatkan cerita tentang suku paling misterius dan primitif di pedalaman kalimantan ini dari warga desa Rantau Malam. Desa paling ujung dalam tatanan sungai hulu Serawai. Desa ini menjadi desa terakhir sekaligus perbatasan dengan hutan rimba. Segera kupasang daun telingaku baik-baik dan kusiapkan sebuah pena & buku kecil untuk mencatat penjelasan dia. Kadang-kada saya tak paham dengan bahasa dayak yang diucapkannya dan beberapa kali kusanggah agar dia berbicara bahasa Indonesia.

Hutan Kalimantan yang juga dinobatkan sebagai salah satu paru-paru dunia masih saja menyimpan misteri yang bagi saya sendiri sangat membuat penasaran. Begitu juga dengan kehidupan di dalamnya, terutama suku-suku yang hidup di pedalaman hutan dan sangat sulit untuk ditemui meski sekedar untuk diambil gambarnya.
Pendi, sekretaris BPD (Badan Permusyawartan Desa) yang mengantarkan kami keliling desa dan hutan, mengatakan bahwa di hutan Kalimantan ini masih didiami suku misterius dan primitif yang sulit ditemui keberadaannya. Hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat wujudnya saat berpapasan di hutan karena suku ini tergolong unik. Tidak mau berkomunikasi dengan masyarakat desa. Warga desa menyebut suku ini dengan sebutan ‘Uuud’ (dibaca panjang satu kata).
————————–————————–—————
Suku Uuud yang Suka Meninggalkan Pertanda
————————–————————–—————
Diperkirakan, suku Uuud ini telah menempati hutan Kalimantan ribuan tahun silam. Mereka pun, jarang memperlihatkan diri kepada manusia terlebih orang-orang asing. Mereka mengisolasikan diri dalam gua-gua di sepanjang pegunungan Kalimantan dan hidup secara berkelompok. Suku ini adalah suku asli yang menempati hutan Kalimantan sebelum suku dayak bermigrasi ke wilayah pedalaman karena terdesak oleh pendatang dari pulau-pulau lain di Indonesia.

123iSuku Uuud ini sangat bergantung pada alam. Mereka mendapatkan air dari sungai kecil, tetesan lumut atau batang pelepah mirip rotan yang mempunyai banyak kandungan airnya. Berburu kancil dan babi hutan serta memakan buah-buahan yang tumbuh di hutan. Mereka tahu mana tumbuhan/pohon yang beracun sesuai dengan tingkatan racunnya. Ada kalanya mereka turun ke hulu sungai saat matahari menenggelamkan diri.

Keberadaan suku Uuud ini bisa diketahui melalui jejak kaki depan (tidak ada tungkai) dan patahan ranting pohon. Dayak Ud Danom mempercayai jika ada ranting pohon patah, yang tinggi patahannya di atas kepala manusia, suku Uuud telah menandai tempat tersebut atau menjadi jalur jelajahnya. Ciri-ciri lainnya adalah cara berjalannya sangat cepat karena berjalan dengan jinjit/tidak menapak sempurna. Mereka masih menggunakan penutup badan dari bahan dasar kulit kayu dan tergolong primitif.

Oh iya. Suku primitif ini berbeda dengan suku kerdil di lereng gunung Kerinci Sumatera, pegunungan gunung Latimojong Sulawesi, atau di Nusa Tenggara. Uuud lebih tinggi dari manusia alias jangkung, bukan manusia kerdil.
————————–————————–——-
Suku yang Paling Dihindari Warga Dayak
————————–————————–——-
Tidak banyak warga dayak yang mau bertemu dengan suku Uuud ini. Selain hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu karena gerakannya sangat cepat, suku Uuud dinilai sangat berbahaya. Pernah suatu ketika warga negara Jerman ingin diantarkan warga desa ke tempat persembunyian suku Uuud ini. Tapi tak ada satupun warga desa yang mau mengantarkan orang Jerman tersebut.
Alasannya sederhana. Warga desa tak ingin mengganggu dan diganggu suku Uuud. Warga desa tak ingin ada korban (orang Jerman) karena suku Uuud tidak segan untuk membunuh manusia yang mengganggu keberadaan mereka. Senjata andalan yang digunakan suku Uuud adalah Sumpit/Sumpitan/Sipet sepanjang 2 meter.

Sumpit terdiri dari 3 bagian : pipa yang terbuat dari kayu belian, damek (anak panah), dan sangkoh/lonjo (mata tombak pada pipa sumpit yang terbuat dari besi atau batu gunung yang diruncingkan). Pipa sumpit yang Uuud pakai biasanya berbentuk tabung yang memungkinkan damek dapat ditembakkan melesat tepat ke sasaran. Sumpit yang cara kerjanya dengan ditiup ini mempunyai akurasi tembak mencapai 30 meter ke arah vertikal dan 25 ke arah horisontal. Pipa sumpit bisa dipakai juga sebagai tombak sebagai alat mempertahankan diri dari binatang buas. Fungsinya hampir mirip dengan tombak biasanya atau sangkur pada bedil zaman penjajahan.

Agar lebih efektif untuk berburu dan melumpuhkan hewan buruan, damek biasanya diolesi oleh racun. Tidak seperti sumpit (fukiya) yang dipakai Samurai Jepang yang diolesi dengan racun ikan buntal, Uuud melumuri damek menggunakan getah tumbuhan. Getah tumbuhan yang dipakai : getah kayu ipuh, kayu siren atau upas dicampur dengan getah kayu uwi, kayu ara, atau getah toba. Untuk memperkuat efek racun biasanya dicampur juga dengan bisa binatang seperti ular. Konon tidak ada obat penawar racun bagi manusia atau hewan yang terkena damek. Meskipun hanya tergores, racun yang masuk ke tubuh bisa menyebabkan kematian.

Biasanya, mereka menggunakan racun tersebut untuk berburu hewan. Ketika buruannya kena damek, maka otot-otot hewan akan lemas seperti lumpuh. Namun jika ‘target’ mereka adalah manusia, maka dosisi racun damek akan ditambah yang menyebabkan detak jantung akan berhenti mendadak! Hal yang unik lainnya dari sumpit ini adalah tidak mengeluarkan bunyi sehingga bisa mengecoh hewan buruan. Selain itu meskipun terdapat racun dalam hewan buruan yang terkena damek, daging buruan ini tetap aman dikonsumsi oleh mereka.

Jadi bagaimana? Masih merasa penasaran dengan Uuud? Hehehehe.

#HuluRabang
#Diolahdariberbagaisumber

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Uuud : Suku Paling Misterius dan Primitif di Pegunungan Kalimantan

  1. Cristine says:

    Hai, aku mau jadikan ini referensi untuk pembuatan buku. Aku perlu bicara banyak dan panjang untuk ini.

    Boleh? Tolong balas kalau ada waktu!

    Terima kasih,
    Cristine

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>