Tawon Rimba : Sengatan Mengerikan yang Membuat Badan Demam

123jSebelum mengambil keputusan untuk melintasi hutan rimba, saya membaca beberapa testimoni orang-orang yang pernah melalui jalur ini. Hampir semua yang menulis di buku tamu Taman Nasional mengatakan : “Tawonnya benar-benar mengerikan.”

Imajinasiku benar-benar tak bisa menangkap kata-kata ‘mengerikan’ itu seperti apa sebenarnya. Apakah tawonnya sebesar bola pingpong? tenis? Atau mainnya keroyokan seperti dalam film pedalaman hutan Peru, Apocalypto? Ah sudahlah. Kita nikmati saja perjalanan ini.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Argh…Argh… Argh…”, tiba-tiba ada suara erangan sangat keras dari kelompok yang berjalan lebih dahulu.

Suara itu sangat keras dan menggelegar ke seluruh arah. Memecah suara jangkrik dan suara burung yang sedari pagi sangat dominan.

Aku dan Darwin, seorang anak dayak yang juga ikut rombongan, saling bertanya-tanya.

“Ada apa bang di depan?”, kataku.

“Beruang?”

Suara kedua lebih keras lagi. Kali ini teriakannya tidak terbendung. Mengerang kesakitan.

“Ah… Aduh, Aduh”, hanya ada satu sumber suara dalam heningnya hutan.

Kami kira Pendi diserang Beruang. Hewan buas yang masih hidup di pedalaman hutan kalimantan selain burung enggang. Kami penasaran dan mempercepat langkah untuk mengetahui apa yang terjadi para rombongan depan.

Suasana benar-benar kacau. Kami tak tahu apa yang akan kami lakukan jika Pendi benar-benar di serang beruang. Masalahnya, hanya Pendi dan Darwin yang punya senjata khas untuk menyerang balik beruang. Kalau Pendi saja mengerang kesakitan seperti itu, tamat sudah kami.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

“Jalan cepat bang. Buruan!” Sebuah suara menyuruhku berjalan cepat. Apa daya aku tak bisa jalan cepat. Selain membawa beban jalurnya juga menanjak.

“Auw..”, sebuah benda menusuk paha belakangku. Tapi tak kupedulikan. Perih.

Ketika sampai di pohon tumbang, kudapati Ary meringis sambil menangis. Wajahnya lemas dan sayu. Dia terlihat memegang kepala dan jari tangannya.

“Tadi suara siapa bang yang teriak? Kirain diserang beruang”, tanyaku.

“Dia diserang tawon rimba. Padahal sudah kusuruh dia jalan cepat tapi malah menghalau dengan tangan. Ya malah diserang”, jawab Pendi.

Ary kena 4 sengatan tawon. Kepala, jari, betis, dan pantat. Sedangkan aku kena sengatan di kaki dan kawan yang lain rata-rata kena di jari tangan. Hanya pendi yang tidak terkena sengatan.

“Padahal disini bukan sarangnya tawon bang. Sarangnya jauh, sebuah pohon tumbang yang bolong. Mungkin kita pas lagi apes saja ketemu tawon”, tambah Pendi.

Sepanjang perjalanan Ary tak henti-hentinya meringis kesakitan sambil memegang jari tangannya. Seharian bekas gigitan itu menjadi bengkak dan memerah. Perih.

Ary yang jauh lebih kuat jalannya daripada aku, agak sedikit ngedrop badannya. Jalannya menjadi kacau dan melambat. Dia mengeluh pusing dan seluruh badannya menjadi panas. Sedangkan hari sudah malam. Kami harus terus berjalan agar bisa bertemu dengan sumber air. Kalau tidak ketemu, habis sudah malam itu. Persediaan air sudah habis.

“Bang kita balik saja yuk ke desa Rantau Malam. Aku sudah tak kuat. Badanku demam”, katanya sambil memelas dan agak sedikit terisak.

Tak bisa kubayangkan jika kami langsung jalan putar arah saat malam itu juga. Mau sampai desa jam berapa? Semuanya juga lelah. Airpun tak ada. Mau bunuh diri, jalan malam-malam di tengah hutan pedalaman kalimantan? Di jalur yang tak jelas patokannya apa? Bagaimana kalau bertemu suku primitif Uuud? Hellow. Now we are in Borneo bro.
Aarrgghhh….

#SowaTahutung

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>