Piye Kabare? Enak Nang Kampung To?

123f

Kalau melintasi sungai di waktu dan moment yang tepat, jangan heran kalau banyak masyarakat dayak tidak memakai pakaian. Ritual tiap pagi dan sore hari : mandi, cuci, kakus. Bagi anak-anak bermain di kali adalah suatu hal yang sungguh menyenangkan.

Sungai adalah sahabat paling akrab bagi mereka. Jantung kehidupan. Kalau ditanya, ‘emang adek ga takut ada buaya?’ itu sama saja kita mengebiri hajat-hajat mereka.

Tepatnya di Desa Segulang, berjarak 3 jam dari Desa Rantau Malam, 2 orang anak laki-laki bermain ban di tengah sungai dengan kedalaman 2 meter. Ketika kami menyapa mereka, mereka tampak gembira dan tersenyum pada kami.

Tanpa pikir panjang, kami mengarahkan lensa kamera ke arah mereka. Responnya sangat luar biasa. Mereka berpose di depan kamera sambil melambaikan tangannya. Pada dasarnya mereka senang bertemu dengan orang-orang non pedalaman. Seolah-olah mereka ingin memberi pesan kepada para tamu-tamu yang singgah di desanya, “Piye kabare? Enak nang kampung to?”

Ya benar kata kalian dek. Lebih enak hidup di kampung. Udaranya sejuk, hawanya segar, dan mendamaikan. Tidak seperti di Jakarta, yang setiap hari kami disuguhi asap knalpot metromini. Kalian terbebas dari suara bising mesin-mesin tua di jalanan, bajaj dan kopaja. Setidaknya kampung kalian mendapatkan tempat tersendiri di hati kami. Yang mana jika kami merasa rindu kami akan coba mengingat semua kenangan yang sudah kalian berikan.

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>