Petuah Pohon

123l
Meminjam judul buku seorang pujangga dari Desa Guci kaki Gunung Slamet, Zia Ul Haq, bahwa sebatang pohon pun katanya juga bisa memberikan beberapa petuah. Wah hebat sekali dong berarti. Ya tentunya pohon-pohon di dalam hutan ini punya banyak sekali petuah, seperti halnya Derai-Derai Cemara yang ditulis Chairil Anwar.

Cemara menderai sampai jauh 
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Kalau Chairil Anwar memakai pohon cemara dalam bait pertamanya, jangan harap di hutan Kalimantan ada pohon cemara. Yang ada hanyalah pohon Meranti, kayunya laris manis untuk bahan furniture dan konstruksi bangunan.

Chairil Anwar menggambarkan Cemara dalam puisinya yang dahannya merapuh di kala senja. Artinya perjalanan alami manusia akan segera berakhir saat hidup sudah mulai menua. Itukah arti petuah pohon Cemara?

Oh iya ada lagi.

Gilbert Martin dalam Drums Along the Mohawk punya pandangan yang lain tentang petuah pohon. Sang tokoh menganggap daun-daun gugur dari tangkainya adalah sebuah tanda datangnya bahaya. Sunyi, hening, sepi : keadaan yang menenangkan namun bisa juga membuat manusia terlena. Terlena karena merasa sudah bahagia di zona nyaman namun musuh sudah mengintai dari segala penjuru. Dan itu sering tidak kita sadari.

~It’s Quiet Out There, Too Quiet~

Ah. Mungkin pohon-pohon di pedalaman kalimantan ini sudah terlalu renta untuk bisa berbicara. Biarpun besar dan seringkali membuat mata terpana, mereka enggan memberitahu kita sebenarnya apa petuah yang ada di dalam dirinya. Bisa jadi satu dengan yang lain mempunyai petuah yang berbeda-beda.

Seperti pohon ini, misalnya. Deretan pohon-pohon raksasa yang saya temukan sebelum memasuki hutan durian. Yang dipucuknya terdengar nyaring kepakan sayap burung Enggang. Burung endemik yang satu sayapnya bisa mencapai 1 meter.

Atau suara pekikan nyaring Kelempiau, jenis kera yang bulunya dijadikan aksesoris Pangeran Burung Suku Dayak. Bisa juga lirikan tajam seekor beruang yang hidup di atas pohon namun enggan mengganggu manusia jika tidak diganggu.

Saya jadi merasa enggan untuk meraba-raba petuah apa saja yang sudah diberikan beberapa pohon di hutan ini. Bukan takut untuk meraba tapi terlalu banyak hal-hal yang bisa diraba. Yang pasti, petuah pohon yang ingin mereka sampaikan adalah:

Jaga dan lindungi kami dari raungan mesin gergaji
Agar kami tetap kokoh berdiri
Tidak tumbang
Tidak hilang
Tidak lekang dimakan zaman
Yang siap memanjakan paru-parumu
Dengan udara yang kuberikan pada duniamu

#HutanMeranti

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>