Monthly Archives: May 2015

Kisah Lisa dan Ayahnya yang Menjadi TKI

Niat Menjadi TKI di Malaysia
Bicara mengenai buruh migran, ada salah seorang ayah dari teman baikku yang bekerja sebagai TKI di Malaysia. Teman baikku namanya Lisa. Ketika ayah Lisa meninggalkan Indonesia, dia masih kelas 2 Sekolah Dasar. Lisa kecil sangat dekat sekali dengan ayahnya sehingga ketika ayahnya pergi dia merasa sangat kehilangan. Namun rasa sedih itu harus segera dikesampingkan untuk sementara agar dapur tetap mengepul. Dengan berat hati ayah Lisa harus meninggalkan keluarga, kampung halaman, dan juga Lisa anak kesayangannya.

Lisa mempunyai seorang adik yang masih balita. Ketika ayahnya pergi, Lisa diasuh oleh nenek dari ayah. Sedangkan adiknya diasuh sendiri oleh ibunya di tempat yang berbeda. Oleh karena itulah Lisa merasa tidak memperoleh kasih sayang dari ibunya. Lisa semakin dekat dengan keluarga ayahnya. Terlebih Lisa sering berbicara di ujung telepon dengan ayahnya yang bekerja di kebun sawit di daerah Johor Malaysia. meskipun sibuk bekerja sebagai buruh, ayah Lisa sering meluangkan waktunya untuk menelepon keluarga di kampung halaman. Sebulan sekali ayah Lisa mengirimkan uang untuk kebutuhan sekolah Lisa dan adiknya serta membiayai kehidupan keluarga.

Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Bulan berganti bulan.
Tahun berganti tahun.
Hingga akhirnya ayah Lisa berkesempatan untuk pulang ke Purworejo, Jawa Tengah. Dia sudah dianggap sebagai orang sukses yang bekerja di negara orang. Bertahun-tahun tidak pulang kini ayah Lisa tampil dengan suasana yang berbeda. Lisa senang bukan main ketika ayahnya datang. Dia peluk ayahnya. Dia cium pipi dan keningnya. Tergambar kebahagiaan dari wajah Lisa. Semua warga kampung menyambut kehadiran ayah Lisa dengan berdatang ke acara kenduri di rumahnya. Pesta kecil-kecilan berbagi kebahagiaan dan rezeki.

Kabar yang Mengejutkan
Beberapa hari setelah pulang ke Purworejo, ayah Lisa menceritakan kisah senang dan sedih selama di Johor. Cerita tentang keuletannya terkait pekerjaan sehari-hari sebagai buruh kebun kelapa sawit. Karena prestasinya tersebut ayah Lisa diberi bonus untuk pulang ke Indonesia. Sehingga dia harus kembali lagi ke Malaysia setelah beberapa minggu kemudian. Hal yang sangat mengubah perjalanan hidup Lisa adalah ketika ayahnya bercerita bahwa dia sudah menikah dengan gadis Indonesia yang juga bekerja di Johor. Cinta lokasi sesama TKI di kebun sawit.

Keputusan ayah Lisa tersebut membuat sedih seluruh keluarganya. Yang paling terpukul adalah Ibu Lisa. Sang ibu tak pernah diberi kabar sama sekali paling tidak suaminya meminta izin untuk menikah kembali. Dan tiba-tiba saja suaminya membawa kabar yang sangat mengejutkan. Dia dimadu. Dia dikhianati oleh suaminya yang memperistri gadis Purworejo juga. Ibu Lisa akhirnya meminta cerai. Dan hal ini berdampak serius pada kehidupan Lisa.

Setelah kejadian tersebut, kebahagiaan keluarga mereka sirna saat itu juga. Ketika ayah Lisa kembali ke Johor, Lisa masih dititipkan pada neneknya sedangkan adiknya diasuh oleh Ibunya. Dengan kejadian tersebut hubungan Lisa dan ibunya agak renggang. Lisa lebih memilih tetap diasuh sang nenek daripada ibunya sendiri.

Ikatan Batin Ayah dan Anak
Beberapa tahun kemudian ayah Lisa berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Malaysia. Hal yang sangat disayangkan. Namun keputusan ayahnya tersebut tidak menghalangi Lisa untuk tetap menyayangi ayahnya. Sesekali jika Lisa mempunyai rejeki, dia pergi ke Malaysia untuk menjenguk ayah dana adik tirinya. Begitu juga sebaliknya. Ayahnya pergi ke Indonesia untuk menjenguk Lisa dan kampung halamannya.

Lisa kini sudah dewasa. Dia berhak untuk menentukan masa depannya sendiri. Ikatan batin antara ayah dan anak yang berbeda kewarganegaraan dan berbeda wilayah tidak serta merta hilang begitu saja. Komunikasi masih tetap berlanjut. Ayah yang dicintainya sewaktu kecil itu tak berubah di matanya, tetap menyayangi dan mengasihi Lisa seperti ketika masih bayi dan anak-anak. Ketika Lisa menikah nantinya, tentu ayah biologisnya itulah yang akan menjadi wali nikah. Itu yang sangat diharapkan Lisa dari ayahnya.

TKI Juga Sama Seperti Kita
TKI sebagai buruh migran tidak serta merta mendapatkan perlakuan buruk di begara tujuan. TKI juga bukan pekerjaan yang buruk. Tinggal bagaimana cara kita memandang kehiduan mereka. Pekerjaan mereka juga sama dengan pekerjaan PNS, Karyawan, Pekerja Lapangan, Dokter, Produser dan lain-lain di negara ini. Hanya saja mereka berbeda wilayah yang dipisahkan oleh kedaulatan. Konsekwensinya adalah jauh dari keluarga. Mereka melakukan itu bukan tanpa sebab. Di negeri ini kurang sekali lapangan pekerjaan yang cocok untuk ayah Lisa dan orang-orang senasib. Oleh karena itu mereka lebih memilih hijrah dn mengadu nasib ke Luar Negeri hanya untuk sesuap nasi dan menghidupi keluarganya. Niat yang sangat mulia.

Tentu tidak semua TKI bisa sukses dan berhasil. Tergantung dari usaha dan nasib. Ada majikan yang sangat kasar memperlakukan TKI adapula majikan yang sangat baik. Begitu juga dengan kisah-kisah lain yang orang awam tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya kehidupan mereka. Seperti kisah ayah Lisa dan problematika keluarganya. Mereka juga manusia biasa yang memiliki kisah asam manis kehidupan. Mereka ingin dimengerti sama seperti kita pada umumnya.

Tulisan Ini Diikutsertakan Lomba Blog Buruh Migrant Indonesia Bersama Melanie Subono