Charity Trip : Buku Baru Untuk Anak-Anak Kampung Adat Piliana

Binaiya, The Memorable Story

Binaiya adalah sebuah gunung yang terletak di Pulau SeramMaluku di negara Indonesia. Gunung Binaiya merupakan gunung  tertinggi di Provinsi Maluku dengan ketinggian 3.027 meter di atas permukaan laut (mdpl) masuk ke dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah. Provinsi Maluku. Gunung ini membentang di Pulau Seram dan masuk ke  dalam lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 hektar, atau sekitar 20% wilayah Pulau Seram. Gunung Binaiya juga dikenal dengan nama ‘Mutiara Nusa Ina’.

Anak-Anak Kampung Adat Piliana

Ketika kami sampai di desa Piliana nampak sebuah sekolah yang sudah usang. Konon sekolah itu adalah saksi mati kerusuhan Ambon di tahun 98 an. Tembok dan genteng menghitam di sana-sini bekas kebakaran. Kini sekolah tua itu hanya ditumbuhi ilalang dan rerumputan. Sekolah baru sedang tahap pembangunan di belakang rumah ketua adat piliana.

Ada sekitar 100 kepala keluarga yang tinggal di sani. Sebelum kami sampai di rumah kepala adat, kami dikejutkan oleh jeritan seorang ibu tidak jauh dari rumah bapak kepala adat. Pada hari itu bertepatan dengan meninggalnya seorang balita. Jeritan itu adalah pertanda jalan keikhlasan seorang ibu mengantarkan anaknya ke surga. Semakin keras jeritannya semakin cepat anaknya menuju ke surga. Begitu kira-kira kepercayaan warga sini yang sudah mengenal agama yakni agama kristen.

Ada perasaan takut juga ketika kami masuk kampung sini. Berdasarkan cerita teman-teman dari Ambon, kampung adat Piliana merupakan salah satu kampung yang ikut diserang kerusuhan Ambon. Gap antara muslim dan kristen sangat kental pada saat itu. Permusuhan terjadi dimana-mana tanpa pandang saudara atau kawan. Semua yang tidak seagama dianggap lawan. Memory tentang kerusuhan itu masih sangat membekas di benak teman-teman kami dan itu ikut menjalar pada daya nalar kami dari luar Maluku.

Alhamdulilah sambutan bapak kepala adat Piliana sangat bagus. Kami dijamu berbagai makanan ringan seperti pisang mentah yang digoreng diberi gula dan teh hangat. Syukur sekali karena saat itu hujan turun dengan lebatnya. Kami beruntung diberi tumpangan berteduh dan makanan penghangat badan. Kami ngobrol ngalor ngidul dengan bapak kepala adat. Bapaknya sangat ramah dan welcome terhadap pendatang muslim seperti kami.

Kami memberikan buku-buku tulis untuk anak-anak Piliana secara simbolis. Berhubung sekolah sedang libur, kami berikan buku-buku tersebut kepada bapak adat piliana agar diberikan kembali kepada adik-adik usia belajar di sini. Sungguh damai di kampung terpencil ini. Tidak ada asap motor, tidak ada bising kendaraan, dan tidak ada kemacetan seperti di Jakarta.

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>