Charity Trip : Kunjungan ke Panti Asuhan Anak di Lereng Gunung Rajabasa

Sekilas Gunung Rajabasa

Puncak Gunung Rajabasa

Puncak Gunung Rajabasa

Gunung Rajabasa merupakan gunung berapi dengan kerucut vulkanik yang terdapat di Selat Sunda di bagian tenggara dari Sumatera, terletak di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Memiliki puncak kawah dengan lebar 500×700 meter dengan bagian daratan rawa, gunung berapi diselimuti dengan berbagai vegetasi. Gunung ini mempunyai kawah purba yang sudah ditumbuhi rerumputan dan tanaman liar. Masyarakat sekitar menyebut kawah ini dengan Danau Rajabasa karena di musim hujan kawah ini membentuk danau untuk menampung air.

Daya tarik dari kawasan kawah ini adalah adanya Batu Cukup. Batu Cukup merupakan sebuah batu gunung yang konon berapapun orang yang duduk di batu tersebut akan termuat semuanya. Sekitar kawah ini merupakan habitat hewan penghisap darah, pacet. Gunung Rajabasa kurang lebih berjarak 5 km dari Kota Kalianda ke arah selatan, terletak tidak jauh dari pantai sehingga gunung ini bisa terlihat dari laut pada penyeberangan Merak - Bakauheni.

Ide Charity Trip

Bersama Kepala Panti Asuhan Anak

Penyerahan Bantuan Secara Simbolis

Pada awalnya kami hanya bermaksud mendaki gunung Rajabasa yang dikenal sangat mistis oleh warga sekitar. Tim dari Jawa : Rany, Ai, Mara, Haryanto, Aldi, Manson, Dede, dan saya sendiri Ochid. Sedangkan Tim dari Sumatera : Erlyn, Iyan, Dwi, Deddy dan 2 teman Iyan dari Cicak Kalianda yang menyusul kami di sore harinya.

Dua minggu sebelum hari H, saya mengusulkan kepada teman-teman agar perjalanan kali ini tidak hanya sekedar mendaki gunung saja. Saya mengusulkan agar sebelum mendaki gunung Rajabasa, rombongan kami bisa mengajar adik-adik usia sekolah di sekitar lereng gunung. Ternyata tanggapan teman-teman sangat luar biasa. Banyak yang bergerak sendiri untuk mencari donatur untuk kegiatan charity trip ini. Kami mengumpulkan dana dari teman-teman dekat dan para donatur hingga total dana mencapai Rp 1.520.000,- Adapun dana tersebut dibelanjakan alat-alat tulis dan bahan-bahan pokok.

Dari teman-teman di Lampung menyarankan agar kami mengunjungi Panti Asuhan Anak saja. Hal ini disebabkan masyarakat di sekitar lereng gunung tergolong sebagai masyarakat mampu. Oleh karena itu kami memutuskan untuk fokus di satu titik yaitu Panti Asuhan Anak Harapan Bangsa.

Di Panti Asuhan Anak ini total ada 90 anak-anak usia TK sampai dengan SMA. Anak asuh yang sudah lulus SMA diperkenankan untuk kembali ke masyarakat, bekerja dan berkeluarga di lingkungan asalnya. Satu orang anak setiap hari di jatah Rp 18.500,- untuk 3 kali makan, transport sekolah dan uang jajan. Seminggu 3 kali ada siraman rohani di musholla panti asuhan untuk kebutuhan rohani anak-anak.

Di panti asuhan ini diterapkan peraturan yang sangat ketat yaitu tidak boleh ada HP, tidak boleh merokok, dan harus menaati jam malam. Kalau membandel bisa dikenai sanksi sita HP sampai dikembalikan ke penanggung jawab asalnya masing-masing. Ada cerita yang sangat menyentuh ketika kami bertatap muka dengan ketua pengasuh. Setahun lalu ada keluarga Chinese yang menitipkan anak asuhnya yang berusia 10 tahun ke panti ini. Kebetulan keluarga Chinese itu beragama Katolik. Syarat Panti Asuhan ini adalah anak-anak harus mengikuti kegiatan yang diadakan panti asuhan termasuk pengajian 3 kali seminggu itu. Keluarga Chinese itu keberatan. Kemudian Kepala Panti menyarankan agar anak itu dititipkan ke Panti asuhan yang bernuansa Katolik juga. Setelah berkeliling antar panti, keluarga Chinese itu lebih cocok kalau anak asuhnya dititipkan ke panti di Kalianda tersebut karena tidak dipungut bayaran apapun.

Setahun kemudian keluarga Chinese kembali lagi di panti asuhan dan mengajak anak asuh yang dititipkan selama setahun tersebut untuk kembali pulang karena sang Ibu Angkat rindu. Namun anak cewek yang beranjak remaja itu menolaknya. Selain sudah yatim piatu, di panti asuhan inilah dia mendapatkan kawan dan orang yang perhatian padanya. Tanpa maksud merendahkan orang tua angkatnya, gadis remaja itu menolak halus dan memilih tinggal di panti asuhan.

Setelah mendengarkan cerita dari Kepala Panti Asuhan Anak Harapan Bangsa, kami berpamitan untuk meneruskan perjalanan ke Desa Way Belerang untuk memulai pendakian Gunung Rajabasa.

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>