Raung 3.344 mdpl : Seandainya Saja (9)

Kami memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang. Sebelah jendela kanan ada Fadli kemudian Lora dan aku duduk paling kiri. Di sebelahku ada sepasang suami istri kira-kira berumur 50-an. Sama seperti ibuku. Sedangkan paling pojok ada bapak-bapak yang sedang tertidur pulas.

“Mas, jagung mas”, seorang penjual jagung menawarkan dagangannya padaku.

“Lora mau jagung?” kataku.

“Boleh-boleh”

“Saya beli 3 ribu ya mas”

“Oh iya mas”, kemudian penjual jagung itu mengeluarkan kantong plastik dan memasukkan 7 buah jagung ke dalamnya. “Matur Nuwun ya mas”, lanjutnya.

“Oh iya mas sama-sama”

Wow murah banget ya. Tiga ribu dapat 3 buah jagung. Berarti sebuah jagung sekitar 400 an rupiah. Di Jakarta saja sebuah Jagung harganya tiga ribu. Ternyata sepasang suami istri yang duduk di smapingku tadi juga membeli jagung. Sambil makan jagung kuajak mereka mengobrol agar tidak bosan.

“Asli daerah sini ya pak?”

“Iya mas. Nanti saya turun di daerah Rambipuji. Lha sampeyan?”

“Saya mau ke Kalibaru pak”

“Oh. Nanti sampeyan turun di Jember. Terus naik bis tanggung ke arah Banyuwangi. Turun di Kalibaru. Di depan stasiun saja turunnya, banyak Ojek di sana”

“Nggih pak”

Bapak tersebut kemudian membagi jagungnya kepada istrinya yang berada di samping kiri.

“Bapak kaliyan Ibu ke Jember liburan apa menjenguk saudara?”

“Lagi kepengen muleh kampung ae mas. Aku kerja di Surabaya karo bojoku. Pas liburan muleh”

“Owh. Kula juga mangkat saking Surabaya pak tadi. Cuman transit saja sih dari Jakarta”

 

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>