Raung 3.344 mdpl : Sang Penebar Racun

Fadli sudah siap di atas motor Ali. Dengan susah payah, kerilnya yang segede kulkas itu digendong dengan naik motor. Mereka berbalik arah melewati depan stasiun Pasar Turi. Kemudian melewati Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang pernah menjadi kebun binatang se Asia Tenggara. Tujuan mereka adalah ke rumah sakit tempat dimana Gandy dirawat karena tipes.

“Bang Fadli sudah pernah nanjak kemana saja nih? Kayaknya udah expert banget. Hehehe”, canda Ali sambil mengendarai sepeda motor.

“Alah. Gue mah pendaki kacangan. Buat seneng-seneng doang. Refreshing…”

“Et dah. Bohong banget. Gak mungkin. Pasti kalau kemana-mana sama bang ochid ya”

“Nggak juga sih. Gue kenal pertama sama dia itu waktu di Salak. Itu juga temennya si Agung, temen gue pas di Ciremai. Terus pas puasa tadabbur alam di Papandayan. Pernah ketemu di Bukit Penyesalan waktu ke Rinjani tapi gak satu tim. Terakhir ya ke Raung ini”

“Oh. Berarti udah kemana-mana dong”

“Ya deket-deket sini aja lah. Hehe”

“Kalau mbak Lora?”

“Kenal pertama sama dia pas nanjak Ramadhan juga. Gabungan beberapa tim. Akhirnya gue ajakin deh tuh anak ke Gede-Pangrango, Cikuray, Papandayan lagi. Jadinya ya lumayan akrab”

“Oh mbak Lora juga sudah sering naik juga ya. Tak kirain malah newbie loh”

“Lah dia awal nanjak kan april 2013. Tapi hampir tiap minggu nanjak mulu hidupnya. Kuat juga tuh”

“Owh, pantesan tadi tak lihat kok style nya kayak bukan pendaki”

“Ngawur aja lo. Biar gitu-gitu dia ¬†atlet taekwondo loh”

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>