Raung 3.344 mdpl : Nasi Pecel, Tempe Penyet, dan Pujaan Hati Fadli (3)

Mendarat di Surabaya

Jejak kaki ini sudah menandai tanah surabaya. Kota yang kutinggalkan 7 tahun lalu kini kusambangi lagi dengan misi yang berbeda. Jika dahulu aku harus meninggalkan kota pahlawan ini karena drop out dari ITS, kini kedatanganku untuk menikmati pemandangan kota ini. Sekedar itu saja. Sebenarnya bukan tujuan utamaku ke Surabaya, melainkan ke timur Surabaya. Nah, kemana tepatnya kami pergi masih menjadi perdebatan antara aku, Lora dan Fadli.

Sesampai di Stasiun Pasar Turi, aku masih bingung akan ke Argopuro atau Raung. Fadli lebih mantap memilih ke Raung meskipun dia sebenarnya sangat ingin ke Argopuro. Sedangkan Lora ingin menikmati mekarnya sayap burung merak di Cikasur, Argopuro. Atau bersantai di pinggiran danau taman hidup.

“Chid gimana, keputusannya apa nih? Kalau bisa kita bareng-bareng satu tujuan. Jangan misah. Gue ingin nanjak bareng sama lo”, Fadli memulai pembicaraan.

“Iya nih. Gue masih bingung. Temen lo yang di Surabaya udah sampai mana? Kita tunggu setelah subuh siapa tahu ada pencerahan bagi kita mau kemana”, jawabku.

“Nanti si Ali mau jemput di depan stasiun. Kemungkinan setelah sarapan. Udah, sholat subuh dulu sana. Gampang, fleksible itu mah. Siapa tahu dapat pencerahan setelah sholat”

“Iya. Gue mau cari toilet dulu. Harus muter di luar nih. Masuk peronnya lagi yang susah. Harus nunggu jam 6 pagi. Nitip barang-barang ya Fad”

“Oke”

Suasana pagi di Surabaya hari ini sangatlah cerah. Kicau burung di pepohonan yang menjadi pagar stasiun mengingatkanku pada suasana di desakku. Sebuah desa kecil di Tulungagung, sekitar 5 jam dari Surabaya ke arah pantai selatan. Beberapa pedagang kecil sudah mulai menggeliat menyiapkan barang dagangannya. Warung-warung makan sudah membuka gerai warungnya untuk menawarkan sarapan kepada kami. Nasi Pecel. Tulisan di depan warung yang membuat perutku berisik dan menggerutu. Ingin rasanya segera mencicipi makanan pagi ini. Setelah sholat dan bersih-bersih tentunya.

Tarian Nasi Pecel dan Tempe Penyet

“Fad mau makan dimana? Lora mau makan apa?”, tanyaku pada mereka.

“Lo makan apa? Samain lo aja deh. Nasi Pecel kan?” jawab Fadli.

“Aku mau makan tempe penyet deh, sambelnya maknyus”, kata Lora.

“Tuh di depan ada warung makan. Makan di sini aja yuk biar temen lo yang dari Surabaya itu bisa lihat kita Fad”

“Iya aja deh. Nanti dia juga ngelihat kita kalau lewat. Kan keril kita segede kulkas. Pasti Ali lihat lah. Udah pesen aja ke mbaknya. Sama Es Teh ya”

“Oke”

“Mbak Nasi Pecel 2 ya, tempe penyetnya 1. Sama 3 Es teh”, pintaku ke Mbak penjual nasi.

“Lauknya apa mas?” jawab penjual nasi itu.

“Adanya apa aja mbak?”

“Ayam, ikan, telor, tahu, tempe”

“Pake tempe aja mbak biar gak ribet”

“Tunggu sebentar ya mas”

Sementara mbak penjual nasi itu menyiapkan makanan pesanan kami, Fadli dan Lora tampak asyik berbincang. Sedangkan aku sibuk dengan HP ku.

Fadli bercerita tentang mantan pacarnya dari Jawa Tengah, tepatnya di kota Solo. Mereka sudah lama berdekatan dan sudah mengenal satu sama lain. Nama ceweknya Diana. Fadli merasa cocok dengan Diana begitu juga sebaliknya. Kisah cinta mereka harus kandas karena masalah jarak. LDR atau Long Distance Relationship.

Awal kisahnya memang rumit. Diana merupakan gadis asli Solo dan masih kuliah di Universitas Negeri Solo. Sedangkan Fadli adalah Urang Bandung yang besar di Depok dan bekerja di perusahaan swasta di kawasan Depok. Awal pertemuan mereka masih kurang jelas di cerita itu. Yang pasti mereka sering berkomunikasi lewat SMS, telepon, BBM, Whatsapp, atau jejaring sosial. Mereka sering bertukar pendapat dan pemikiran. Tentang konsep kehidupan, berkeluarga, cinta, atau masalah sehari-hari yang mereka hadapi. Baik Fadli ataupun Diana mempunyai pikiran terbuka untuk menceritakan pribadi masing-masing.

Hanya saja Diana merasa kurang siap jika hubungan mereka dijalankan dengan LDR terlalu lama. Prinsipnya, Diana menginginkan kehadiran sebuah sosok wujud asmara dalam kisah cintanya. Sosok yang bisa menemani dia setiap hari, menenangkan dikala gundah, menentramkan dikala marah, atau mewujudkan sebuah rindu dalam komunikasi tatap wajah. Dan hal itulah yang belum bisa dihadirkan Fadli dalam kehidupan Diana. Fadli juga sadar dia harus membagi waktu antara pekerjaan dan cinta. Namun tidak seperti yang Diana harapkan. Berawal dari itulah Diana dan Fadli sepakat mengakhiri kisah cinta mereka. Dan sekarang, Diana hanyalah sepenggal kisah gadis pujaan Fadli yang tercecar. Cinta dan perasaan memang sulit untuk dipaksakan. Meskipun cinta tetap membara tapi apa artinya jika tak didasari perasaan menerima apa adanya.

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>