Raung 3.344 mdpl : Memulai Perjalanan (2)

“Chid lo dimana? Gue udah di senen nih sama Lora. Gue di depan Indomaret”

SMS itu tersangkut di HP ku. Rupanya sms dari Fadli. Dia sudah berada di stasiun senen bersama Lora. Beberapa miscall juga bersarang di layar.  Maklum, aku lebih suka men-silent HP ku. Lebih senang dengan kondisi yang sunyi. Kecuali untuk waktu-waktu tertentu jika perlu diaktifkan.

“Gue masih di jalan nih. Di atas metromini. Sepuluh menit lagi insyaallah nyampe”

“Lo udah nukerin tiket belum? Kode booking lo berapa? Ntar biar gue tukerin”

“Belum gue tukerin. Ini kodenya 3769D23″

“Oke. Gue tunggu di depan Indomaret. Gue cetak dulu nih tiket. Biar bisa langsung masuk peron”

Gerimis mewarnai awal perjalananku. Hujan siang ini semakin menambah warna tersendiri. Jakarta kehujanan. Semoga saja tidak kebanjiran. Kalau macet sudah pasti.

Metromini melaju dengan santai. Aku tak peduli dengan tatapan penumpang lain kepadaku yang seolah mau pindah rumah. Dengan ransel segede ini tentu akan menjadi pusat perhatian. Terlebih naik ke Metromini saja tadi sempat kesulitan. Dan aku memilih untuk duduk di kursi paling belakang yang mempunyai tempat duduk lumayan panjang. Tidak mengganggu penumpang lain dan aku tidak kerepotan harus menurunkan ransel ini.

Sebentar lagi sampai poncol. Orang-orang masih sibuk dengan hujan yang membasahi dagangan-dagangan mereka. Ternyata stasiun senen lebih rapi. Lama sekali aku tak mampir ke sini. Banyak sekali perubahan. Tempat parkir lebih luas sehingga enak dipandang mata. Bangunan yang tak rapi dihancurkan dan diganti dengan bangku-bangku istirahat bagi penumpang kereta. Segera kucari tempat Fadli dan Lora menungguku. Tepat di samping penukaran tiket.

“Abang ini mau ke Surabaya juga loh”, tiba-tiba Lora memperkenalkan beberapa orang yang membawa Ransel.

“Oh ya? Mau kemana bang? Semeru?” kataku.

“Iya. Rencana mau ke Semeru lewat tumpang”, jawab pendaki necis itu.

“Kenapa gak sekalian ke Malang aja bang lebih dekat?”

“Sekalian mau jemput teman di Surabaya. Nanti ke Malangnya bareng-bareng”

“Owh, sukses deh bang kalau begitu. Salam ya buat Mahameru”

“Ok bang”

Kulihat Fadli masih antri untuk menukarkan tiket kami. Sedangkan Lora melanjutkan obrolannya dengan kawan barunya itu. Aku? Aku masih sibuk menghela nafas karena harus lari-lari setelah turun dari metromini tadi. Sesembari mengecek apa saja yang kurang atau ketinggalan.

“Chid nih, udah jadi tiketnya. Kita langsung masuk aja”, kata Fadli.

“Iya kalian duluan aja deh. Aku masih ribet dengan bawaanku nih. Takut ada yang ketinggalan”

“Ok. Lora, masuk yuk. Udah mau berangkat nih kereta. Bareng sama abang-abang itu juga yang mau naik Kertajaya”, teriak Fadli ke Lora.

Suasana stasiun senen hari ini sangat ramai. Wajar sih. Semingguan ini kan memang hari-hari libur. Libur akhir tahun. Dan pasti banyak sekali penumpang yang berjubel di depan pintu masuk. Padahal jadwal kereta masih beberapa jam lagi. Sampai-sampai PT KAI harus mengeluarkan kebijakan kereta tambahan untuk mengangut penumpang libur akhir tahun ini.

 

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>