Raung 3.344 mdpl : Ali dan Gadis Penjual Jamu Gendong (5)

“Mana Fad temen lo si Ali. Mau datang jam berapa dia”

“Ini katanya masih di jalan. Tunggu aja bentar lagi juga nyampe sini. Tunggu di situ aja yuk. Tuh ada bangku panjang. Lumayan buat selonjoran”

”Oh iya ya. Ajakin Lora tuh yang katanya masih ngantuk. Biar bisa tiduran di situ”

”Lor, sini nih. Enak kalau mau tiduran”

”Iya abang”

Pagi ini Surabaya di sekitar Stasiun Pasar Turi masih terlihat sepi. Meskipun lalu lalang kendaraan cukup ramai, banyak warung makanan yang belum buka. Beberapa toko kelontong dan toko bangunan sudah membuka gerai jualan mereka. Kursi kayu yang kami dudukin ini hanyalah salah satu dari kursi tunggu toko yang belum buka.

Di seberang jalan ada sesuatu hal yang unik. Sebuah mobil seperti pickup tapi bentuknya tanggung. Kalau pickup mempunyai ruang terbuka belakang hampir tiga kali ruang sopir. Nah kalau mobil yang kulihat ini kebalikannya. Ruang terbuka belakang hanya sepertiga dari ruang sopir. Dan bemper depan mobil mirip dengan bemo di Jakarta. Ujung depannya berbentuk elips. Sehingga kalau dilihat secara keseluruhan terlihat lucu. Mobil penumpang bukan, Pick Up juga bukan. Sepertinya lebih difokuskan untuk double fungsi. Bisa digunakan untuk mengangkut orang di dalam ruang depan dan juga bisa digunakan untuk mengangkut barang di sebelah ruang terbuka belakang.

Surabaya yang kuketahui dari media-media sepertinya bersih. Walikotanya sangat gencar membangun taman dan mencintai keindahan. Namun di sekitar Pasar Turi seperti masih belum tersentuh oleh dinas pertamanan dan kebersihan. Genangan bekas air hujan masih terlihat di sana-sini. Dan trotoar untuk pejalan kaki terlihat kotor tidak terawat. Semoga saja ibu walikota itu bisa menyentuh kawasan di sekitar sini.

“Eh, kalian gimana jadinya. Mau Raung apa Argopuro? Serius nih”

“Kalau gue pengennya ke Raung Fad. Tapi Argopuro juga boleh sih. Tuh tanya Lora deh mau kemana dia”

“Gimana Lor?”

“Aduh bingung. Temen-temen di grup Whatsapp ngasih saran malah ke Raung. Aku pengennya Argopuro”

“Nah terus gimana tuh. Gue pengennya bareng-bareng. Jangan misah. Gue pengen jalan bareng sama kalian. Kita sama-sama”

“Ke Raung berapa total anggota timnya abang?”

“Jumlah pasti anggotanya belum tahu. Nanti tanya si Ali. Ada ceweknya juga dari Kediri baru gabung kata Ali”

“Ih bisa buat temen dong kalau ada ceweknya. Tapi aku juga sudah hubungin Tika, temenku yang mau ke Argopuro. Bingung deh”

“Udah Raung aja. Barengan kita. Biar seru. Masak mau pisah sih”

“Ih Bang Fadli. Bingung. Pengen Raung tapi jangan sekarang”

“Lha terus gimana. Keputusan harus diambil nih biar kita bisa gerak”

“Hmmm… Kasih waktu 5 menit deh buat Lora”

Lora masih berpikir untuk mengambil keputusan. Apakah akan ke Argopuro atau Raung. Dia terlihat mengobrak-abrik isi Blackberry nya. Sesekali menengadah ke atas seperti berpikir kemudian membaca pesan masuk berkali-kali. Waktu berjalan sangat cepat. Detik demi detik meninggalkan posisi jarum jam yang berputar di pergelangan tangannya. Sedangkan Aku dan Fadli masih menunggu jawaban Lora sekaligus menunggu kedatangan Ali yang akan menjemput kami.

“Fad, Ali ke sini pake apa? Kalau bawa motor emangnya cukup kita bertiga? Atau dia bawa teman buat jemput kita? Bawa mobil, sewa angkot, naik taksi, atau gimana?”

“Gak tahu nih. Gue gak tanya. Kayaknya sih dia bawa motor. Soalnya habis jemput kita, nanti dia langsung kerja”

“Terus pas dia kerja, kita ditaruh dimana? Maksudnya kita dijemput buat dibawa kemana?”

“Tadi si Ali bilang, sekalian kita diminta menjenguk Mas Gandy. Orang pertama yang gue hubungi sebelum Ali. Dia di Rumah Sakit sekarang. Kena Tipes. Jadinya dia gagal berangkat. Yang ngegantiin dia buat ngurus karmantel dan lainnya ya si Ali”

“Astaghfirullah. Jadi yang ngajakin lo ke Raung malah nggak jadi karena tipes?

“Iye. Padahal dia yang punya alat lengkap buat panjat-panjat. Karabiner, Karmantel, Webbing itu punya dia semua. Nah si Ali itu yang ngegantiin bawain itu semua”

“Owh. Kalau gue jadi ke Raung masih ada gak persediaan alat buat gue?”

“Katanya sih ada. Dia yang pegang omongan”

“Oke guys. Aku udah ambil keputusan nih. Berdasarkan pertimbangan alasan-alasan yang ada dan hasil pemikiranku selama 5 menit tadi. Bismillah. Aku pilih Raung”, tiba-tiba Lora menyela.

“Yakin nih. Kalau Ragu-ragu mending gak usah. Raung bukan gunung main-main lho”

“Iya yakin abang”

“Bener? Gak nyesel nih gak jadi ke Argopuro. Terus si Tika dan Rombongan Argopuronya gimana?”

“Mereka lewat Bremi-Baderan. Gak jadi lewat Baderan-Bremi sama Bang Sendal Jepit Item. Kalau lewat Bremi nanjaknya minta ampun”

“Raung juga. Puncaknya lebih extreme malahan’’

”Gak papa, kan ada kalian di sekitar Lora. Hihihi”

“Berarti udah yakin mau ke Raung?”

“Iya abang. Insyaallah. Mantep”

”Deal ya”

“Iya”

“Yaudah berarti kita fix nungguin Ali. Berangkat ke Raung bareng-bareng sama rombongan mereka”

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>