Psikologi Bahasa dan Tarian Sastra

sastra

 Kelenturan inilah yang menjadi celah untuk menuangkan ide dan pemikiran melalu sastra. Selanjutnya akan dipersonifikasikan sebagai tarian sastra

         

Bahasa menyatukan bangsa. Adagium tersebut memang benar adanya. Bahasa merupakan alat komunikasi paling ampuh untuk menyatukan segala perbedaan. Bahasa mampu mewujudkan tatanan nasional yang dimengerti oleh semua lapisan warga negara.

Dalam komunikasi modern, bahasa lebih mudah dipahami dengan adanya kecanggihan alat komunikasi. Perbedaan bahasa bukanlah sebuah hambatan untuk bekerja sama antar negara. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya sangat dibutuhkan psikologi bahasa untuk memahami pengertian-pengertian.

Psikologi bahasa merupakan perwujudan dari adanya komunikasi intens antara subyek dan obyek. Gaya berkomunikasi seseorang mampu didefinisikan melalui sebuah tulisan. Dan menurut beberapa penelitian, tulisan mampu mengidentifikasi karakter dari penulis. Di sinilah peran psikologi itu. Tulisan yang dimaksud dapat menggambarkan rasa penulis. Mampu memunculkan sisi humanis seseorang yang tersembunyi sekalipun. Karena tulisan adalah sebuah rasa. Ia mampu memberi rasa itu dan manusia mampu untuk merasakannya.

Banyak sekali karya sastra modern yang mewujudkan rasa tulisan dalam psikologi bahasa. Meskipun dalam karya sastra lama juga banyak ditemukan psikologi itu namun tidak jelas siapakah subyek tulisan dimaksud. Karena memang jarang karya sastra lama memunculkan siapa empunya. Akan lebih mudah memahami secara psikologi bahasa dalam perkembangan sastra modern.

Ditinjau dari segi keindahan dan diksinya, sastra mengalami perkembangan yang cukup fleksibel. Kelenturan inilah yang menjadi celah untuk menuangkan ide dan pemikiran melalu sastra. Selanjutnya akan dipersonifikasikan sebagai tarian sastra. Tarian sastra dapat diwujudkan dalam tulisan jika sang penulis mempunyai pandangan, pemikiran, cipta-karsa-rasa, dan keberanian. Di luar konteks keberanian untuk menuangkan ide sehingga menjadi sebuah tulisan, ada beberapa sisi psikologi yang mempengaruhi penulis yaitu bahasa.

Penulis hanya mempunyai 2 senjata yakni kertas dan pena. Bagaimana cara seorang penulis memberikan sentuhan pena berupa goresan dalam selembar kertas pun berbeda-beda. Tergantung bagaimana cara menempatkan pena, posisi kertas dan keberanian. Sebuah pepatah indah juga berlaku untuk sebuah tulisan, “Tuhan bersama-orang-orang yang berani”.

Banyak orang awam membandingkan antara berani dan nekad itu perbedaannya tipis. Yang membedakan keduanya adalah potensi dan kondisi. Orang berani melakukan sesuatu  karena merasa punya potensi sedangkan orang nekad melakukan sesuatu karena kondisi yang terpaksa. Dari sisi ini kita dapatkan lagi arti sebuah psikologi.

Psikologi bukanlah definisi yang rumit, bukan pula pemikiran yang sangat sempit. Psikologi ada dalam sebuah bahasa. Ada dalam sebuah tulisan sastra. Ada dalam keberanian. Psikologi bahasa selalu hadir di setiap tulisan seseorang. Oleh karena itu beranilah untuk menulis.

 

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi

Penulis Antologi Puisi ”Gadis Bergaun Bidadari” dan Novel Tetralogi “Sebatang Alif”

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>