Personifikasi Sebuah Puisi

puisi-bahasa-sunda

Dia memberikan keindahan seperti gadis yang menampakkan aura kecantikannya. Namun sepenuhnya puisi bukanlah seorang gadis.

 

Ilmu Fisika, Matematika, Kimia, Biologi, dan ilmu terapan lainnya adalah simbol kecerdasan dan membuat kita semakin modern jika mempelajarinya. Namun dengan sebuah puisi kita mampu menemukan titik kedamaian di setiap sisi humanis umat manusia. Puisi yang selama ini digadang-gadang sebagai lambang keindahan mampu menembus rigiditas pola pikir manusia yang terkenal sangat logis.

Menurut wikipedia, pengertian Puisi (berasal dari bahasa Yunani kunoποιέω/ποιῶ (poiéo/poió) = I create) adalah seni tertulis di mana bahasa digunakan untuk kualitas estetiknya untuk tambahan atau selain arti semantiknya. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa bahasa yang digunakan adalah sebuah majas/gaya bahasa. Paling banyak yang digunakan adalah majas personifikasi, metafora, hiperbola, pars pro toto dll. Sedangkan saya sendiri lebih senang memakai personifikasi di setiap diksi tulisan.

Puisi bukanlah sekedar tulisan usang yang selalu terpampang dan diperagakan di atas panggung pertunjukkan. Lebih dari itu, puisi mampu mengeksplorasi jiwa-jiwa ideologis dan pertumpahan segala bentuk ide. Hanya saja perwujudannya tidak seperti essay atau karya tulis ilmiah yang selalu diikuti aturan baku. Puisi lebih bebas untuk terbang mengangkasa tanpa harus takut dengan gelapnya sangkar.

Pada dasarnya memang jiwa manusia seperti itu, ingin bebas tanpa adanya sebuah aturan yang mengekang. Namun kembali ke sisi humanis, puisi tetaplah mempertimbangkan keberadaban. Mencintai segala bentuk keindahan dan memahami setiap kegundahan hati.

Perbedaan mendasar dalam makna puisi terletak pada asbabun nuzul atau latar belakang puisi itu dibuat. Jika kurang memahami hal tersebut bisa menimbulkan ambiguitas persepsi pembaca dalam menafsirkan setiap kata. Namun pada perkembangannya, ambiguitas itu semakin menjadi daya tarik tersendiri karena mengolah pola pikir pembaca dengan konsep sesuai dengan keyakinan pemahaman masing-masing. Artinya cara tafsir setiap orang tidak sama.

Puisi seolah menjelma sebagai seorang gadis yang sangat sulit ditebak karakternya. Semakin lama kita masuk ke dalam semakin bingung dengan sikap gadis itu. Semakin kita mendekatinya perlahan dia akan berpura-pura menjauh dan menjaga jarak. Di sinilah letak rasa penasaran itu dan sebuah puisi memberikan itu. Dia memberikan keindahan seperti gadis yang menampakkan aura kecantikannya.

Namun sepenuhnya puisi bukanlah seorang gadis. Puisi tetaplah rentetan kata-kata yang membentuk kalimat untuk mendefinisikan tujuan si penulis. Puisi tetaplah indah meskipun dia tak dipersonifikasikan bak seorang gadis jelita. Keindahannya bukan terletak pada tubuhnya melainkan inner beauty di setiap balutan maknanya. Puisi adalah kecantikan yang tak terdefinisikan.

 

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi

Penulis Antologi Puisi ”Gadis Bergaun Bidadari” dan Novel Tetralogi “Sebatang Alif”

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>