Kecupan Terakhir 5

02

Senyuman palsu yang keluar dari bibirku pun terasa getir. Salah tingkah apa yang harus kulakukan. Tak mungkin aku menitikkan air mata karena saat itu aku tak bisa

 

Air Mataku Sudah Kering

”Ibu mana? Teleponmu kasih ke ibu”, sahutku.

”Bu, telepon dari Mas”, sebuah suara adikku di ujung telepon yang samar-samar dan tidak begitu jelas.

”Halo?”, sebuah suara dari HP adikku yang tidak asing kudengar, suara seorang wanita yang kusayangi. Ibuku.

”Halo. Ada apa Bu? Abah kenapa?”

”Cepet pulang. Abah gak papa. Cuma sakit dan Ibu bawa ke Rumah Sakit. Abah menanyakan namamu terus. Kalau bisa naik pesawat saja biar cepet sampai rumah. Gak usah panik. Abah gak papa. Sakitnya yang dulu kambuh lagi. Biasa saja bak usah kesusu. Pokoke cepat sampai”, tambahnya lagi.

”Lha saiki nang rumah sakit ngendi?” tanyaku.

”Nang rumah sakit Dr. Iskak. Tenang ae, wes enek Ibu kok sing ngurusi. Ndak usah mikir. Ndak usah kesusu. Ndang golek tiket pesawat yen enek sing cepet tekan Surabaya”

 

Aku segera mengakhiri telepon dengan wajah cemas yang kusembunyikan di hadapan teman-temanku setelah bermain futsal. Sebuah hari yang mengejutkan tepat dihari kelahiranku yang keduapuluh tiga. Pasalnya saat itu aku menraktir teman-temanku bermain futsal. Dan disaat yang sama pula sebuah berita mendegupkan jantungku lebih kencang dari biasanya. Sebuah ulang tahun kedua puluh tiga yang penuh kejutan. Well.

 

”Tahu jadwal pesawat tercepat gak buat ke Surabaya?”, tanyaku pada teman disampingku yang berasal dari Jogjakarta dan Kediri.

”Kalau tiket pesawat di agen tiket Gambir ae. Tinggal pilih. Nanti kalau beli di Soekarno-Hatta malah kerepotan. Soalnya ada beberapa terminal yang maskapainya beda-beda”, jawab temanku asal Kediri.

”Mau pulang sekarang? Emange ada apa kok mendadak?” Tanya temanku lagi yang berasal dari Jogjakarta.

”Abahku sakit di rumah sakit”, sahutku.

”Sakit apa?”

”Ndak ngerti. Dikasih tahu kabar Ibu diminta pulang cepat doang”

”Ya wes ntar tak anterin ke agen tiket Gambir sehabis futsal ini”

”Oke”

 

Aku segera bergegas pergi ke kost untuk menyiapkan beberapa pakaian dan sekedar membersihkan diri dari keringat yang lengket sehabis futsal. Pukul 11.45 WIB aku baru siap berangkat ke Gambir bersama seorang temanku asal Kediri. Sesampai disana beberapa maskapai sudah penuh oleh booking calon penumpang. Maklum, hari ini hari minggu dan esok harinya bertepatan dengan liburan anak-anak sekolah. Aku baru bisa mendapatkan maskapai tercepat pukul 16.00 WIB. Okelah aku ambil jadwal penerbangan itu meski risikonya aku tak bisa mengecup terakhir kali orang yang kusayangi.

Ditengah-tengah kecemasanku menunggu jadwal keberangkatan pesawat muncul firasatku bahwa ayahku sudah tiada lagi. Adapun orang-orang yang mengabariku bahwa ayahku sudah sehat di rumah sakit kuanggap angin lalu. Banyak sekali yang menghubungiku dan meyakinku agar percaya bahwa ayahku sudah sembuh. Namun entah kenapa aku berpikiran tak mempercayai mereka. Aku yakin ayahku sudah tak ada. Dan keyakinanku benar-benar mencapai puncak ketika kakak keponakanku berbicara tentang kehidupan saat di warung kecil itu. Meski tidak secara eksplisit menyebutkan bahwa ayahku benar-benar tiada tetapi aku merasakan aura pembenaran firasatku. Padahal aku sempat bimbang dan melakukan pembenaran akan pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa ayahku masih hidup. Dan kebimbangan itu sirna seketika saat firasatku benar-benar menjadi kenyataan.

Setelah kakak keponakanku menghabiskan makanan nasi kucing dan beberapa gorengan, kami bergegas melanjutkan perjalanan pulang. Saat dirumah aku mendapati saudara-saudara ibuku. Kakak perempuannya yang berasal dari kota Malang, Jombang dan adik perempuan ibuku yang berasal dari kota Lumajang. Mereka menyambutku dengan penuh senyuman. Aku sudah tahu. Ya, aku sudah tahu senyuman itu adalah cara konyol untuk menenangkan dan menyambut kedatanganku. Aku sudah tahu ayahku sudah tiada sejak firasatku muncul pertama kali ketika sehabis futsal itu.

Senyuman palsu yang keluar dari bibirku pun terasa getir. Salah tingkah apa yang harus kulakukan. Tak mungkin aku menitikkan air mata karena saat itu aku tak bisa. Bukan karena tidak merasa kehilangan seseorang yang menjadi inspirasiku namun memang tidak bisa. Entah kenapa. Mungkin air mata kesedihanku sudah kering untuk membasahi hatiku agar tetap basah. Agar tetap down to earth dan menerima segala kenyataan yang pahit ini.

Seorang ayah yang kupanggil abah. Abah yang belum pernah kukecup kening dan pipinya dengan penuh kasih sayang. Bukan karena sombong namun karena egoku yang masih malu-malu. Seseorang yang mengajarkanku tentang arti hidup dan kehidupan. Kini telah meninggalkanku dengan cepat. Kini hanya menyisakan kenangan dan beberapa goresan kehidupan yang pernah diajarkannya padaku. Hanya beberapa kata terakhir yang kuingat dari telepon dua hari sebelum hari Minggu. Jaga adik-adikmu

Akupun sempat membaca pesan terakhirnya yang dia kirim sendiri padaku. ”Matur suwun”. Mungkin kata-kata itu muncul karena aku sudah menjelaskan bahwa aku sudah meyakinkan abah untuk menjaga adik-adikku. Kecupan terakhir yang menjadi cita-citaku pun kini hanya menjadi memori yang tak pernah kesampaian. Abah sudah dikebumikan sehabis sholat Ashar. Wujudnya kini tak ada. Dan kecupan terakhir itu hanyalah mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan. Mungkin aku berkesempatan mengecupnya dalam mimpi. Semoga saja.

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>