Kecupan Terakhir 4

kejutan

Deg. Tiba-tiba saja hatiku merasa ada yang menekan. Berarti firasatku selama ini benar

 

Surprise… !

Kakak keponakanku itu mengambil nasi kucing dan lauk gorengan yang masih tersisa di tempat makanan. Maklum, jam sebelas begini hanya tersisa beberapa makanan yang belum habis terjual. Jam-jam begini juga sudah agak sepi orang berkeliaran di jalanan. Di warung kecil itupun hanya ada aku dan kakak keponakanku yang baru datang membeli makanan.

 

”Hidup itu sudah ada yang mengatur, betul gak?” tiba-tiba dia memberikan pertanyaan itu kepadaku sembari duduk bersila di tikar yang disediakan penjual gorengan.

 

Aku menganggukkan kepala saja karena aku masih dalam keadaan makan. Aku juga masih belum keluar mood untuk ngobrol panjang lebar. Agak sedikit kecewa sih, karena aku ingin sampai di rumah. Ingin makan dirumah kalau itupun ada makanan meski sudah kenyang.

”Rejeki, jodoh, hidup, mati kan Allah yang ngatur. Kapan datangnya kita nggak tahu. Hanya bisa sabar dan berserah diri. Adakalanya manusia harus ikhlas dengan ketetapan Allah. Meski kita harus kehilangan orang-orang yang kita sayangi dalam waktu cepat”, tambahnya.

 

Deg. Tiba-tiba saja hatiku merasa ada yang menekan. Berarti firasatku selama ini benar. Minggu pagi, 26 Juni 2011 handphone-ku dipenuhi belasan miscall dan SMS. Namun aku baru bisa membuka HP sekitar pukul 09.30 WIB. Itu karena mulai jam 08.00 WIB aku bermain futsal di Pasar Baru bersama teman-temanku. Selama 1,5 jam aku berada di lapangan dan tidak sekalipun memegang HP yang kutaruh didalam tas. Baru saat keadaan lelah aku sempatkan buka-buka HP barangkali ada SMS masuk dan ternyata banyaknya SMS dan Miscall itu cukup membuatku curiga.

 

”Kok tumben ya banyak SMS dan Miscall di HP ku pagi ini”, gumamku lirih.

”Mungkin penting kali”, sahut teman disampingku.

Sebuah panggilan menggetarkan HP ku dan spontan saja aku memencet tombol terima telepon.

”Halo?”

”Halo, ada apa?”

”Halo, halo?”

 

Panggilan telepon dari ibuku tak disahut. Padahal aku sudah menerima teleponnya. Mungkin ada masalah jaringan. Kucoba menelepon balik ibuku. Hanya bunyi suara tut-tut-tut yang bisa kudengar. Sekali lagi aku menelepon nomor ibuku dan kudengar nada suara yang sama. Tak bisa dihubungi.

Aku mengalihkan calling ke nomor adik perempuanku, anak ketiga yang masih SMA. Tetap saja aku tak bisa menghubungi teleponnya karena jaringan sibuk atau lagi error.

Kenapa semua orang tidak bisa dihubungi? Ada apa?, Gumamku.

Aku mencoba menghubungi adikku laki-laki yang masih kuliah di Universitas Brawijaya.

 

”Halo. Dik ada apa telepon?”

”Cepet pulang Mas”

”Ada apa?”

”Pokoknya cepet pulang, Abah sakit”

”Sakit Apa? Halo? Abah sakit apa?”

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>