Kecupan Terakhir 3

womanshadow

Apakah karena kondisi ayahnya yang masih dipenjara? Atau ada masalah lain yang ingin disembunyikan padaku?

 

Malam Penuh Kehangatan

Malam ini dingin. Mungkin angin berhembus membawa material salju. Aku hanya memakai kaos tipis dengan celana tentara. Meski membawa jaket, namun aku enggan memakainya dan memilih menaruhnya di dalam tas ransel. Dingin sudah terbiasa buatku, walau Jakarta selalu panas. Aku teringat ketika berada di puncak Gunung Papandayan di daerah Garut, jaket yang kupakai hanya ala kadarnya. Bukan jaket spesialisasi pendaki gunung. Terlebih aku juga tak membawa sleeping bag untuk tidur di tenda. Bayangkan betapa dinginnya saat itu.

Berdiri dipinggir jalan terminal Tulungagung sangat membosankan, hanya menunggu jemputan kakak keponakan. Seorang kakak keponakan, anak laki-laki dari kakak laki-laki ibuku. Namun dia adalah orang yang kuat ketika ayahnya di penjara karena permainan hukum negeri ini. Ayahnya difitnah, dijebak. Aku tahu ketika dia dan ibuku menelepon aku untuk meminjam uang saat aku masih di Jakarta dua minggu sebelumnya. Katanya untuk administrasi kepolisian. Pikirku mana mungkin ada administrasi polisi pakai uang? Yang ada hanyalah pungutan liar polisi nakal.

Sebuah motor mendekat ke arahku. Terlihat seorang yang badannya gempal, memakai sarung dan berjas hitam mirip jaket menepi kepadaku.

 

“Wes suwi?” tanyanya.

“Sekitar sepuluh menitan”, jawabku singkat.

 

Dia menyodorkan sebuah helm yang semula ditaruh dibawah stir kepadaku. Cepat saja aku menaiki motor yang dikendarainya agar lekas berangkat dan sampai rumah. Beberapa meter roda melangkah dari tempatku berdiri tadi aku merasakan keanehan padanya. Jalan motor itu sedikit melambat tak seperti biasanya. Padahal sebelum ini, kakak keponakanku itu hampir selalu ngebut. Jalannya sangat lambat. Apakah karena kondisi ayahnya yang masih dipenjara? Atau ada masalah lain yang ingin disembunyikan padaku? Namun ternyata dengan kondisi seperti itu aku bisa menikmati gemerlapan lampu-lampu kota kelahiranku di malam hari. Sepinya malam yang membuat pikiranku sunyi dan dinginnya malam itu yang merangsek masuk meraba-raba kulitku menyatu dalam indahnya lampu-lampu pijar dipinggiran jalan protokol. Tulungagung, sebuah kota kecil di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur ternyata sangat indah kalau dinikmati dengan hati, terlebih di malam hari.

 

“Kowe anak paling gedhe kudu menehi contoh adike-adike yo?”

 

Tiba-tiba pertanyaan itu keluar dari mulut kakak keponakanku yang mengendarai motor. Sebenarnya aku kurang memperhatikan kata-katanya karena asyik memperhatikan pemandangan di setiap sudut kota. Pemandangan kehidupan malam di kotaku, beberapa penjual jagung bakar yang melayani pembelinya sambil mengipas arang, seorang pekerja jalanan yang menyapu sampah dedaunan rontok dari pohon meranggas di jarak tiap tiga meter, penjual nasi kucing dan nasi patik, tukang gorengan, dan beberapa anak muda yang asyik ngobrol dan nongkrong dibeberapa sudut kota.

 

”Iya”, jawabku singkat.

 

Aku kurang paham yang dia maksud itu apa. Setahuku aku selalu menjadi panutan adik-adikku dan memberikan contoh yang baik untuk mereka. Mulai dari prestasi-prestasiku sewaktu masih sekolah hingga aku bisa melanglang buana di ibukota negara ini, Jakarta. Saat itu perasaanku memang agak getir. Bukan karena ucapan kakak keponakanku yang pernah mempelajari jurus-jurus silat itu, tapi lebih karena hatiku berontak tidak segera cepat sampai di rumah.

 

”Mampir dishik yo, tuku panganan”, dia memencet lampu sen motor ke arah kiri. Tampak penjual makanan kecil dipinggir jalan di daerah Botoran, daerah yang terkenal dengan industri konveksi pakaian.

”Yo sembarang”

”Kowe luwe ra?”

”Ora, wong aku tas mangan kok pas nang Surabaya”,┬áMotor itu perlahan-lahan berhenti hingga dia menegakkan standar motor dipinggir jalan.

”Yen gak luwe ngancani aku mangan dishik yo, sekalian yen pengen jajan jupuk dewe ae”

”Ok. Sip”, jawabku singkat sambil mengambil sebungkus telur puyuh yang berisi tiga butir.

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>