Kecupan Terakhir 2

sukasayang-300x225

Seandainya aku hilang kendali, perokok-perokok itu sudah kupukul dengan genggamanku yang sudah mengepal ini. Aku tak peduli mau berkelahi dengan mereka.

 

Emosi yang Hilang

Terbersit dianganku, kecupan terakhir yang ingin kulakukan rasanya sudah tergantikan saat aku di atas sini. Dia sudah bahagia meski aku tak sempat mengecupnya. Aku merasa bahagia, dan aku bisa merasakan kecupanku di keningnya meski aku tak bisa menjangkaunya. Tapi saat itu aku merasakan kebahagiaan yang mengelilingiku. Padahal hakikatnya saat itu aku masih gundah gulana. Aku terjebak antara retorika terpesona dan kebingungan. Mungkin ini yang dinamakan cinta tak tersentuh. Aku ingin mengecupnya untuk terakhir kali.

Surabaya. Mega merah menyelimuti langit Juanda, kerlip lampu neon bersambungan seolah menyambut kedatanganku di kota pahlawan ini. Adzan Magrib sudah berkumandang. Tak terasa sudah satu jam lebih aku mengangkasa. Aku bergegas mencari-cari Musholla, meski dengan bantuan seorang Cleaning Service.

 

“Mas, Musholla sebelah ngendi ya?”

“Oh, niku mas. Sampeyan mlaku wae nang arah kiwo. Musholla tengen dalan”

“Suwun Mas. Oh iyo sekalian tangklet. Lek badhe teng Terminal enake numpak opo yo Mas?” tanyaku.

“Sampeyan numpak Damri ae Mas nang lantai ngisor cedak pintu masuk. Langsung nang Terminal niku. Mengko sampeyan mara tengen, ono dalan mengisor nurut ae sampe lawang mlebu. Nang kono wes akeh Damri jejer. Sampeyan numpak sing parkir paling ngarep ae”

“Suwun Mas”, balasku. Aku segera bergegas pergi ke Musholla untuk menjalankan sholat Maghrib.

 

Setelah melakukan kewajibanku, Sholat Magrib aku bergegas menuju ke lantai bawah. Sambil berjalan, sambil minum air. Maksudnya aku memandang di sekeliling. Bersih. Rapi. Indah. Itu kesan pertama saat aku memperhatikan sekelililng Bandara Juanda di kota terbesar ke dua ini. Bandara Soekarno-Hatta saja kalah kelas menurutku. Dan pikiranku benar. Di depan pintu masuk terdapat tulisan “Selamat Atas Keberhasilan Bandara Juanda menjadi Bandara Terbersih Se-Indonesia”.

Satu-satunya pikiranku saat itu adalah ingin segera sampai di rumah. Malam itu pukul 18.35 WIB. Kemungkinan aku sampai di rumah pukul 11.00 WIB. Perkiraan jarak Surabaya ke Tulungagung memakan waktu 4-5 jam. Selama perjalanan menuju Terminal Bungurasih Surabaya pun pikiranku tak tenang. Masa bodoh dengan segala penumpang, kondektur, dan sopir di bus Damri itu yang bercanda ala guyonan Jawa Timuran. Aku memang ada di Surabaya, namun pikiran dan hatiku sudah berada di rumah.

Bungurasih ternyata tak berbeda dengan terminal-terminal lain di Indonesia. Tetap saja semrawut dengan sopir bus dan kondektur yang menawarkan bus mereka kepada calon penumpang. Suasana terminal yang mirip dengan Terminal Terboyo saat aku transit di Semarang sebelum pergi ke Jepara setengah tahun lalu. Berhubung suasana sudah gelap, aku acuhkan mereka dan memilih bus yang sekiranya cepat berangkat ke Tulungagung meski harus menunggu beberapa saat agar bus itu penuh dengan penumpung.

Boleh dibilang saat itu aku lupa caranya makan. Sebungkus nasi yang kubeli sebelum naik ke dalam bus itu tak membutuhkan waktu lama untuk kulahap. Seperti melahap lalapan. Lima menit sudah ludes. Aku memakan bungkusan nasi itu seperti orang kelaparan. Memang aku benar-benar lapar.

Sepanjang perjalanan aku selalu memikirkan rumah. Bagaimana sambutan orang-orang rumah kepadaku nantinya. Pikiranku sudah berkecamuk diantara kepulan asap rokok beberapa orang laki-laki yang menganggap bus itu adalah miliknya sendiri. Mereka sungguh tak tahu adat bagaimana caranya merokok. Seharusnya asap rokok yang mereka hisap ditelan lagi ke dalam paru-parunya. Enak saja mereka mengebulkan asap di atas kepalaku. Aku memang bukan perokok dan aku sangat sebal dengan orang merokok yang tak tahu sopan santun.

Seandainya aku hilang kendali, perokok-perokok itu sudah kupukul dengan genggamanku yang sudah mengepal ini. Aku tak peduli mau berkelahi dengan mereka. Meski nantinya dikeroyok atau dihajar beramai-ramai aku acuh. Meski harus berhadapan dengan orang-orang Surabaya yang berbeda dengan orang Solo yang lemah lembut, aku berani. Kalau jantan, satu lawan satu. Akan kuhadapi. Saat itu emosiku sudah berada di ubun-ubun. Namun nuraniku menghambat tanganku untuk tidak melayangkan satu-dua pukulan ke muka mereka. Aku hanya bisa memendam rasa dongkol ke dalam hati yang sudah berkecamuk ini.

Sejam, dua jam, dan ternyata dugaanku meleset. Bus yang kutumpangi hanya butuh waktu 2,5 jam untuk sampai di Terminal Tulungagung. Kuakui memang sepanjang perjalanan sopir itu ngebut bukan main. Bak naik Roller Coaster, perut sampai terguncang-guncang. Kalau aku saat itu adalah aku saat jaman SMA, aku sudah mabuk. Goyangan segini masih kecil dibandingkan goyangan Metromini atau Kopaja di Jakarta. Bus kecil yang menjadi salah satu raja jalanan Ibukota karena ugal-ugalan. Negeri ini memang sangat aneh. Namun aku terima karena aku mencintai negeri ini apa adanya. Salah satunya aku hanya ingin mengecup pipi dan dahi orang yang kusayangi untuk terakhir kalinya. Entah sempat atau tidak!

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>