Kecupan Terakhir 1

11

“Sudah lepaskan saja Bu, jangan menunggu aku. Aku masih di Jakarta”, bunyi SMS kepada ibuku.

 

Minggu, 26 Juni 2011

Pukul 14.05 WIB dan aku sudah satu setengah jam duduk di kursi tunggu ini. Jadwal boarding pass masih setengah jam lagi. Padahal aku ingin segera sampai di Bandara Juanda Surabaya. Apa boleh buat, aku hanya bisa mendapatkan tiket tercepat hari itu pukul 16.00 WIB. Ya, hari ini adalah hari minggu dan hari-hari berikutnya adalah musim liburan sekolah.

Langkahku masih cukup tegap saat menyiapkan tas ransel untuk boarding pass di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu masih pukul 14.35 WIB. Artinya aku harus menunggu lagi satu setengah jam setelah masuk bandara. Saat itu pikiranku hanya fokus dan ingin segera sampai di Surabaya. Ingin sekali rasanya meninggalkan ibukota secepatnya. Seandainya ada pesawat yang berangkat lebih cepat, rasanya aku ingin menjadi penyusup meski harus bersembunyi di bagasi barang. Tapi rasanya itu tak mungkin. Aku tak sebodoh yang kupikirkan.

Kecupan terakhir, salah satu keinginanku sesampai aku di rumah nantinya. Mengecup kedua pipi dan kening yang selama ini aku malu untuk melakukannya. Ucapan untuknya yang ingin kukatakan, I Love You. Lagi-lagi aku berpikir seandainya ada Doraemon disini dan aku bisa meminjam pintu kemana saja, dan. Ah, aku membuyarkan lamunanku.

Antara pasti atau tidak, aku masih ragu. Sesekali aku merasa gundah, gelisah, dan pasrah menyatu. Namun semua tertutup oleh senyuman manisku, mungkin orang-orang yang melihatku mengira aku sedang bahagia. Sesekali kulempar tatapan kearah parkir pesawat berharap pesawat segera siap berangkat. Namun yang kulihat hanya pesawat yang terparkir seperti patung. Tak ada pergerakan. Statis. Diam. Sedangkan maskapai lain kulihat sudah beberapa kali melepaskan armada pesawatnya mengantarkan orang-orang di ruang tunggu seberang sana. Dan rasanya aku ingin berganti maskapai penerbangan, tapi ini sudah injury time. Tak bisa.

 

“Sudah lepaskan saja Bu, jangan menunggu aku. Aku masih di Jakarta”, bunyi SMS kepada ibuku.

 

Tak ada balasan. Tak ada jawaban. Tak ada respon. Mungkin orang-orang mengira aku sudah tahu. Padahal itu hanya sebuah firasat yang tak terarah. Menurutku sih begitu.

Aku bergegas setelah pintu pesawat dibuka dan aku mendapatkan kursi nomor 2 dari belakang. Aku tak berpikir dimana posisiku, yang penting aku segera sampai di Surabaya. Huh, Sebuah kota yang 5 tahun lalu aku hanya menumpang hidup selama sebulan di daerah Sukolilo. Dan saat ini aku harus menuju kesana setelah sekian lama tak menginjakkan kaki disana. Dan kali pertama pula aku harus terpaksa naik pesawat, tak ada pilihan lain agar cepat sampai.

Gerakan-gerakan pramugari yang katanya memang standard procedure itupun aku acuhkan. Peduli amat dengan mereka. Aku hanya mengamati luar jendela, menunggu saat-saat lepas landas. Seandainya pramugari itu mengecup keningku, mungkin saat itu aku tak akan menyadarinya. Lamunanku sudah teramat jauh untuk melihat tingkah laku pramugari yang kata orang-orang memang cantik. Tapi aku tak peduli. Aku tetap menatap jendela melihat landasan pacu yang memanjang sepanjang garis horizon. Aku tak sabar untuk terbang. Ya, aku ingin segera terbang. Meninggalkan Jakarta yang angkuh.

Detik demi detik berlalu. Pesawatku sudah tak menjamah tanah lagi. Gesekan awan putih mulai merancukan pandanganku ke luar jendela. Terlihat Gelora Bung Karno seperti huruf O dari atas sini. Sangat kecil, dan akhirnya lenyap dari pengamatanku. Aku sudah tak bisa melihat lagi hijaunya bumi. Awan Sorus berwarna putih seperti melekuk-lekuk membentuk samodera yang indah. Kalau yang kutumpangi ini adalah kapal pesiar, rasanya aku ada di laut lepas. Atau di laut arktik yang dipenuhi gumpalan es berwarna putih polos. Sangat indah. Subhanallah.

Gumpalan awan di luar jendela pesawat bergerak gerak lincah. Baru kali ini aku melihat keindahan kehidupan di angkasa. Bak khayalan sewaktu kecil. Saat itu aku ingin menari-nari di atas awan. Memegang pedang dan bertarung melawan gathotkaca dalam dunia pewayangan. Aku bangga jadi superstar. Aku meliuk-liuk indah diantara gumpalan awan sorus dan terbang jungkir balik di atasnya. Dan akhirnya saat ini, Minggu Sore tanggal 26 Juni tepat di saat hari lahirku yang ke 23 aku melakukan impianku. Meski tak jungkir balik atau membawa pedang dan bertarung dengan Gathotkaca, tapi aku melihat keindahan lain sisi Bumi. Putih, mengelilingi cakarawala. Mungkin hanya sebuah kaca bening yang menghalangi sentuhan tanganku dengan awan. Awan begitu indah. Awan, maukah engkau menemaniku saat aku turun ke bumi nanti?

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>