(Catatan Perjalanan) Ekspedisi Sukhoi, Membelah Gunung Salak Cidahu-Cimelati

a4

“Ranger. Tim Sweeper masih di HM 45. Vita mengalami Hypothermia !!!”

 

‘’Don’t Judge The Book From The Cover”

Pepatah itulah yang selalu melekat di benakku setelah ekspedisi reruntuhan Sukhoi di Gunung Salak tanggal 14-16 Juni 2013. Pepatah itu juga yang akan mengingatkan kita bahwasanya untuk mendaki gunung jangan selalu melihat gunung dari ketinggian mdpl-nya melainkan lihatlah medan yang akan kita hadapi. Dengan begitu kita tidak akan pernah meremehkan sesuatu hal yang belum kita coba. Jangan lihat fisiknya, tapi lihatlah apa saja yang ada di dalamnya. Don’t Judge The Book From The Cover. Sebuah catatan perjalanan yang tidak akan kulupakan seumur hidup. Pertaruhan antara hidup dan mati bersama teman-teman pendaki Salak. Bahkan ada pendaki senior yang menyebut kami sebagai “Rombongan Pendaki Nekat dan GILA”. Karena pendakian kali ini benar-benar gila. Mungkin hanya rombongan kami yang melakukan pendakian seperti ini. Beberapa anggota tim tumbang, nge-drop, terkena hypothermia dan nekat hingga mendekati darurat. Perjalanan yang sangat berisiko.

 

Hari Pertama, Jumat 14 Juni 2013

Sore itu aku sudah bersiap untuk packing peralatan dan logistik untuk ke Salak. Malam ini rencana Meeting Point di Stasiun Bogor tepat pukul 20.00 WIB. Segala peralatan sudah kusiapkan termasuk P3K dan hal-hal terkecil yang dibutuhkan. Setelah kurasa lengkap dan ready segera kugendong saja keril yang menggunung itu. Tak lupa menyiapkan Kamera DSLR Canon 600D dengan full battery.

Setelah menjalankan Sholat Maghrib Ma’al Isya’ segera kubergegas ke stasiun Juanda, Pasar Baru. Jam menunjukkan pukul 19.10 WIB sedangkan Commuter Line akan tiba 19.20 WIB, kutunggu beberapa menit. Kereta akhirnya muncul dari arah Jakarta Kota, masih sepi dan terlihat kosong. Tak terlihat penumpang yang berjejal. Padahal hari ini adalah hari Jumat, biasanya penuh dengan tumpukan manusia. Gondangdia, Manggarai, Tebet gerbong semakin sesak oleh manusia. Keril yang kugendong ini semakin menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarku yang juga penumpang kereta. Karena sudah merasa tak nyaman menjadi pusat perhatian dan juga sudah mulai sesak, aku segera turun di Stasiun UI Depok. Sekedar menghirum aroma dinginnya malam. Lega rasanya meski harus melanjutkan setengah perjalanan lagi. Sembari menunggu Randhy yang berjibaku dengan dua tenda hasil pinjaman. Sementara itu juga menunggu Dimas yang masih sibuk foto-foto dengan gadis berkerudung merah di dalam Commuter Line dari arah Jakarta. Mungkin itu adalah gadis idamannya sehingga harus menjadi pemuja rahasia seperti itu. Kalau perjalanannya dibuat sinetron akan kuberi judul “Cintaku Tersengat Gadis Berkerudung Merah” atau “Gadis Berkerudung Merah dalam Kereta”. Sayangnya dia kurang mendalami peran sebagai aktor intelektual. Padahal sudah ku-Whatsapp dia untuk bertanya berapa nomor sepatu gadis itu.

Dimas akhirnya mengikutiku turun di Stasiun UI. Tak berapa lama kemudian Randhy muncul dari kegelapan bersama 2 tenda yang ditentengnya. Kami menunggu beberapa personil lagi yang juga naik commuter line. Rombongan Vita, Bang Anton dan Ryo sudah menunggu kami tepat di depan pintu gerbong ketika kereta berhenti di UI. Kami bertiga bergabung dengan mereka menuju Stasiun Bogor. Seperti biasanya, ketika para pendaki berkumpul pasti akan heboh. Dan itu terbukti dengan obrolan Vita dan Bang Anton yang sangat mencairkan suasana. Suasana semakin renyah ketika mereka menceritakan perjalanan konyol sebelum naik kereta. Vita yang memelas kepada Tukang Ojek untuk berputar-putar di sekitar Pasar Minggu dan dia hanya membayar Rp 5.000,-. Vita yang terlihat ceria dan modis sekali inilah yang bakal mempunyai pengalaman tak terlupakan seumur hidupnya pada edisi pendakian kali ini.

Kurang lebih pukul 21.15 WIB kami tiba di stasiun Bogor. Beberapa personil sudah siap menunggu di seberang Stasiun Bogor menunggu rombongan dari Jakarta. Setelah saling menunggu kedatangan anggota tim, akhirnya personil telah lengkap dan siap berangkat menggunakan Truk yang telah disewa menuju Cidahu Sukabumi pukul 22.00 WIB. Personil Cowok terdiri dari : Agung, Topan, Anton, Nday, Fadli, Rosyid, Very, Adi, Ryo, Randhy, Pepeng, Hafid, Dimas, dan Risto. Personil Cewek terdiri dari : Vita, Oci, Tri, dan terakhir si bungsu newbie Melani yang masih kelas 2 SMK. Khusus Melani pendakian kali ini adalah pendakian perdananya. The real adventure dimulai dari sini.

 

Hari Kedua, Sabtu 15 Juni 2013

a3

Kami tiba di Pos penjagaan Gunung Salak via Cidahu pukul 00.30 WIB. Bersiap-siap untuk tracking dengan bawaan masing-masing. Beberapa orang  memakan sepotong roti dan biskuit serta seteguk air sebagai tambahan energi. Topan yang hobi makan nasi tawar sebelum melakukan pendakian tidak lupa dengan bungkusan nasi tawar yang digenggamannya sebagai sumber energi. Kemungkinan dari sore hari dia belum makan nasi. Ckckck.

Setelah dirasa siap semuanya, pukul 01.15 WIB kami berkumpul membentuk sebuah lingkaran. Berdo’a sesuai agama dan keyakinan masing-masing agar dalam pendakian episode ini semua selamat sampai tujuan. Tim mulai dibagi menjadi 3 yaitu : Leader (Agung), Middle (Bang Pepeng) dan Sweeper (Bang Adi). Mereka dibekali satu Handy Talky masing-masing sebagai alat komunikasi.

Vita adalah personil yang merasakan ada keanehan dan kejanggalan sebelum dimulainya pendakian. Tapi keanehan itu disembunyikannya dalam-dalam. Dia belum mau menceritakan kepada teman-temannya. Dengan berbekal “kecelakaan” saat di Jambangan, Gunung Semeru, dia mampu merasakan sebuah dimensi lain berbentuk pintu gerbang yang sangat besar dan tingginya menjulang. Entahlah, hanya dia yang mampu melihat makhluk dunia lain secara gamblang di antara rombongan kami. Dari cerita dia setelah pendakian, saat awal kami melakukan tracking ada seorang tambahan personil yang tak dikenalnya mengikuti rombongan kami. Laki-laki sebaya memakai kupluk, tas ransel dan alat pendakian lengkap. Kata Vita, laki-laki itu adalah pendaki yang meninggal di gunung Salak. Kapan dan kenapa meninggalnya Vita masih belum mengerti. Hanya sebatas itu yang dia tahu. Di tambah lagi dari sisi penglihatan dia, ada sepasang bola mata sedang memperhatikan gerak-gerik aktivitas kami. Seorang kakek-kakek yang dipenuhi dengan bulu berdiri di sisi kanan gerbang masuk. Padahal sepengetahuanku tidak ada penjaga pos saat itu karena sudah larut malam. Tidak ada siapa-siapa. Terlebih Bang Anton sebelum naik foto-foto di sebelah kanan gerbang dan aku yang memotretnya. Namun Vita hanya diam dan tak memberitahukan kami akan keberadaan “personil tambahan” dan kakek yang dilihatnya itu. Mungkin salah satu alasannya adalah agar kami tidak panik ketika dalam perjalanan.

Dalam perjalanan aku hanya merasakan keheningan, gelap dan rasa angin malam yang begitu sejuk menembus paru-paruku. Menembus memori otakku untuk merasakan sensasinya. Menghujam seluruh angan-anganku untuk kembali mengumpulkan mimpi-mimpi dan cita-cita yang sempat tercecer. Sebuah sikap keoptimisan yang menerjang dalam sendi-sendi darahku akibat suasana yang damai malam itu. Berbeda dengan situasi di Jakarta. Setiap gang, setiap jalan, setiap tempat selalu dikepung oleh asap polusi pekat dari besi-besi tua jalanan. Besi tua yang seharusnya tak layak jalan dan diganti dengan moda transportasi baru. Kemacetan parah membuat frustasi setiap orang yang mengalaminya. Tapi di sini, di lereng Salak ini, semuanya berubah. Alam telah mengajarkan setiap orang untuk selalu hidup harmonis dan dinamis. Alam mengajarkan manusia untuk selalu menghargai ciptaan tuhan dan mensyukuri segala apa yang diciptakannya. Agar bisa dinikmati seutuhnya oleh dirinya atau keturunannya kelak. Bahwa hidup secara alami mampu mengendalikan metafisika dalam tubuh agar selaras dengan kedamaian.

Lagi-lagi Vita. Cewek periang dan berdandan modis ini masih saja sibuk menangkap aktivitas lain selain rombongan kami. Di tengah perjalanan menembus gulita, dia mendengar suara wanita sedang meringkih kesakitan. Seperti suara wanita hamil sedang meringis ingin melahirkan anaknya. Karena rasa penasaran suara apakah itu, Vita mengarahkan headlamp-nya ke sebelah kanan semak-semak mencari sumber suara yang didengarnya. Alangkah kagetnya dia, setelah melihat sesosok wanita meringis kesakitan berada di semak tersebut. Dia ketakutan dan memanggil-manggil Ryo yang setia menjadi bodyguardnya untuk segera mendekat. Ryo diminta mendekat agar kalau Vita menemukan kejanggalan lagi dia mempunyai teman sebagai pegangan. Beberapa langkah setelah kejadian itu, dia mendengar suara raungan. Meraung-raung. Tapi hanya sebatas mendengar saja. Dan dia belum bisa meyakinkan raungan itu, apakah suara Harimau atau Kucing Hutan. Entahlah.

Sedangkan aku, aku hanya orang biasa yang hanya ingin menikmati perjalanan ini tanpa gangguan. Bukan karena tidak apa-apa tapi karena aku memang tidak bisa melihat apa-apa kecuali pohon-pohon rimbun yang hanya diterangi samar-samar seberkas cahaya rembulan. Jalur pendakian yang masih berupa batu terlihat jelas dengan headlamp yang menjurus kebawah mencari arah jalurnya. Sesekali kudengar suara Agung yang memegang HT berkomunikasi dengan Tim Middle Bang Pepeng dan Sweeper Bang Adi.

Sampai kami melewati sebuah batu besar setelah menyeberang sungai kecil. Vita sebagai pengendali alam lain melihat sosok yang tak berani dia lihat di atas batu besar. Mungkin sosok yang sangat menyeramkan sehingga dia mengalihkan pandangan. Dia hanya berjalan di sampingnya saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Setelah melewati banyak tumbuhan tumbang sehingga terlihat seperti tempat terbuka, perjalanan kami semakin dekat dengan Simpang Bajuri, tempat kami akan membongkar logistik dan mendirikan tenda. Sungai-sungai kecil yang alirannya cukup dinamis sering kami lewati. Hingga kami telah sampai di Simpang Bajuri. Dan tepat di bawah Simpang Bajuri ada sungai yang lumayan besar dengan aliran air cukup deras. Sungai terakhir dan pasokan air terakhir sebelum puncak. Kami tiba di Simpang Bajuri pukul 03.29 WIB.

Vita tak henti-hentinya menemukan kejanggalan aktivitas di luar nalar manusia. Aktivitas dunia lain selalu bisa dilihat dengan matanya. Ketika kami sampai di tempat camp, dia tak mau beranjak sedikitpun dari tempat duduknya. Bahkan ketika kami mulai mendirikan tenda. Sebelumnya, dia memperhatikan anak-anak kecil sedang berkejar-kejaran. Padahal tak ada personil kami yang membawa anak kecil.  Entah itu tuyul atau apa tapi berdasarkan pengakuan dia anak-anak itu mukanya terlihat sangat tua dan sangat pendek perawakannya. Saat kami datang, anak-anak kecil itu berlarian ke semak-semak sambil mengintip aktivitas kami.

Oh ya. Simpang Bajuri adalah persimpangan antara jalur menuju puncak Salak 1 dan Kawah Ratu. Di jalur sebelah kiri yang menuju Kawasan Wisata Kawah Ratu dia melihat sosok wanita sedang bergelantungan di pohon sedang melihat ke arahnya. Vita seperti melamun. Aku membuyarkan lamunan Vita dengan membongkar semangkuk Nasi Padang yang kubawa dari rumah sebelumnya. Kuah tahunya basi karena mengandung santan. Hanya tersisa Ayam Goreng yang kubungkus terpisah dengan nasinya.

“Yang mau nasi padang silakan merapat”, kataku pada rombongan.

Vita mengeluarkan sebuah bungkusan yang berisi Orek Tempe dari dalam tasnya. Katanya Orek Tempe ini adalah buatan ibunya. Pantas saja lha wong Vita sendiri nggak bisa masak. Hahahaha. Bang Anton, Dimas, dan Melani segera melahap nasi padang yang kubawa tadi. Di saat kami asyik makan entah darimana tiba-tiba seekor ular sebesar jari kelingking berwarna hitam-kuning keemasan sudah berada di dekat tempat makan kami. Seketika itu juga kami terkejut bukan main. Personil cewek spontan teriak-teriak, “Ular-ular”. Dengan sigap bang adi menangkap kepala ular tersebut hanya memakai tongkat dan memegangnya. Hingga akhirnya dia membuangnya dan tidak kami bunuh. Setelah tragedi ular itu, kami melanjutkan menyantap sisa nasi tadi. Melani, gadis yang paling junior di antara kami rupanya sedang kelaparan. Nasi yang dalam wadah itu dia yang paling terakhir menghabiskan. Maklum, baru kali ini dia pertama mendaki. Sekali mendaki langsung Gunung Salak. Ckckckck.

Masih ingat ‘’Personil Tambahan’’ yang misterius tadi? Ternyata dia duduk di dekat Vita, berada di tengah-tengah aktivitas kami. “Sial”, kata Vita dalam hati. Hanya saja dia ingin ikut perjalanan kami bukan mengganggu. Hanya mengikuti perjalanan saja. Mungkin dia sekaligus ingin memastikan kami agar sampai Simpang Bajuri dengan selamat, tidak salah jalur. Aku yang sedari tadi berencana menunggu bintang di langit ternyata tak muncul-muncul juga. Padahal suasana fajar sebelum subuh cerah sekali. Sambil menunggu Sholat Subuh, kuaktifkan Handphone Butut yang terpaksa diikat karet ini agar tidak error. Kalau tidak diikat habis sudah. Aku hanya ingin mengecek apakah masih ada sinyal dan ternyata ada. Meski terkadang sinyalnya putus-nyambung. Sedangkan teman-teman yang lain mulai menyalakan kompor untuk menghangatkan badan dan memasak air panas untuk membuat kopi atau jahe hangat. Bang Anton sudah siap menyeduh kopi yang dikeluarkan dari dalam tasnya. Sebagian lagi sudah terlelap bersama para bidadari dalam mimpi. Kecapaian seharian tidak tidur sejak berada di atas Truk dari Bogor.

 

Medan Lumpur Apocalypto

a6

Waktu menunjukkan pukul 04.45 WIB. Setelah mengambil air wudlu kami menyiapkan lapak untuk sholat di sebelah kiri tenda. Kami sholat subuh secara berjamaah. Kata Vita, yang gak ikut sholat karena seorang kristiani, saat kami sholat berjamaah dia melihat cahaya terang yang terpancar dari tubuh kami. Pantulan sinar itu membuat makhluk-makhluk kasat mata di sekitar kami menyingkir jauh. Namun ada sosok yang mengikuti kami sholat. Seorang kakek penjaga Simpang Bajuri. Padahal saat salam aku tak melihat kakek yang dimaksud Vita. Wow!

Mataku terasa berat sekali. Tak kuasa aku untuk lama membukanya. Sedari malam belum tidur sejak naik Truk. Meski mata terpejam namun tidak benar-benar pulas. Akhirnya terlelap juga dalam mimpi. Baru beberapa menit memejamkan mata untuk tidur, tenda sebelah yang diisi Agung, Topan dan Oci berisiknya minta ampun. Membunyikan peluit seperti seorang wasit saja. Teriak-teriak tak jelas kayak hutan ini milik mereka saja. Bercanda dengan suara sangat lantang. padahal aku tidur hanya berjarak 1 meter saja dari tempat mereka masak. Ternyata mereka sedang memasak nugget. Ya ampun betapa berisiknya mereka sampai mata ini enggan terpejam kembali. Argh….! Kepalaku jadi pusing karena kaget oleh suara mereka. Jadinya tidur ayam alias tidak benar-benar tidur. Ah sudahlah. Percuma juga tidur kalau tak nyenyak.

“Hayuk kawan-kawan, sudah jam 08.00 WIB. Kita harus prepare untuk summit”, kata Agung di setiap tenda.

“Kita gak makan dulu gung? Buat isi perut. Sekedar masak mie instan atau jahe hangat gitu?’’ kataku.

“Nanti kita masak aja di puncak. Biar balik lagi gak kemalaman. Cuma 3 jam kok dari sini. Yang penting bawa air banyak dan snack secukupnya”

“Waduh. Bakalan lemas lagi nih nanjaknya. Kejadian Summit Semeru bulan kemarin bakal terulang kembali hari ini. Ya sudahlah pasrah saja, paling juga nahan 5 jam-an’’, batinku.

Di Semeru aku dan rombongan tidak makan terlebih dahulu sebelum summit attack dari Kalimati. Hal ini karena kekhawatiran seorang teman yang menganggap ritual masak dan makan itu kelamaan sehingga nantinya takut tidak dapat Sunrise. Dan bodohnya aku ikut saja meski perut keroncongan. Cuma berbekal menghisap madu.

Kami ke puncak Salak 1 hanya membawa air dan snack seadanya. Beberapa teman malah tak membawa air terutama para Srikandi. Karena perkiraan nanjak ke puncak butuh waktu 3 jam, tidak lama. Jadi tenda beserta logistik lainnya ditinggal. Kami ke puncak tidak membawa logistik yang sangat berarti. Tidak sarapan, kurang tidur alias tidur ayam yang cuma terpejam lengkap sudah mengiringi perjalanan kami.

Awal pendakian meninggalkan Simpang Bajuri track-nya masih seperti gunung lainnya. Tanah dengan campuran bebatuan dengan jalur naik-turun. Beberapa saat setelah itu kami harus melewati medan lumpur dan akar. Di sini kami harus pandai-pandai memilih medan agar tidak terperosok ke dalam lumpur. Sangat disarankan memakai sepatu pendakian, bukan sandal. Hal ini disebabkan beberapa teman kesulitan menggunakan sandal. Setiap kali terperosok ke dalam lumpur sedalam mata kaki, jari-jari mereka tertusuk akar atau tersangkut akar. Dan akhirnya berdarah atau sobek. Belum lagi sepengamatanku sepanjang perjalanan, banyak sekali sampah berupa sepasang sandal yang bergelimpangan di tengah-tengah medan lumpur. Kemungkinan rusak ketika dipakai pendaki untuk melewati lumpur. Sampah sepatu juga pernah kulihat sekali. Hal ini semakin menegaskan kalau medan gunung salak memang kurang ramah untuk sandal/sepatu yang kurang kuat. Jadi para pendaki yang ingin naik Gunung Salak harus mempersiapkan sepatu yang mempunyai ketahanan ekstra.

Aku pernah iseng mencoba berapa dalam sih hamparan lumpur yang kami lewati di sepanjang jalan. Sebelumnya kami melewati pinggiran lumpur yang masih padat, yang dipinggirnya masih ada tanaman rambat. Jadi masih safety untuk dilewati. Di salah satu  hamparan lumpur, aku mengetes kedalaman lumpur menggunakan kayu setinggi pinggang orang dewasa. Setelah kucelupkan ke dalam lumpur tersebut, ujung kayu yang kusentuh masih saja ingin masuk ke dalam. Wow! Apakah ini lumpur hidup? Kalau kuteruskan kemungkinan bisa setinggi dada orang dewasa atau leher atau bahkan kepala. Ckckck. Sekali masuk medan lumpur ini pasti orang bakal kesulitan untuk keluar lagi. Paling tidak butuh usaha ekstra. Terlebih lagi jika hujan sudah turun. Akan sulit memilih medan padat untuk melewati jalur pendakian ini. Bisa-bisa jatuh ke dalam hamparan lumpur yang sangat dalam itu. karena memang jika tergenang air terlihat seperti genangan di atas tanah biasa.

Ngomong-ngomong tentang medan lumpur, Aku jadi teringat kisah Jaguar Paw dalam film Apocalypto. Jaguar Paw berhasil kabur dari eksekusi panah mematikan dari suku jahat yang dipimpin Zero Wolf. Bermula dari anak panah yang menembus perut Jaguar Paw dari panah Zero Wolf. Sehingga anak Zero Wolf, Cut Rock, sudah bersiap untuk mengeksekusi mati Jaguar Paw dengan Pentungan Gada yang dipenuhi paku. Namun Jaguar Paw berhasil mengelabuhinya, sehingga dia dapat membunuh Cut Rock dengan ujung panah yang sudah dicabut dari perutnya. Betapa marahnya Zero Wolf melihat kejadian itu. Anaknya mati ditangan Jaguar Paw, seorang suku pemburu yang berhasil lolos dari medan panah.

Singkat cerita Jaguar Paw berhasil melarikan diri dari kejaran Zero Wolf dan pasukannya. Di tengah pelariannya, Jaguar Paw terperosok ke dalam lumpur hidup yang semakin menyedot tubuhnya ke dalam tanah ketika dia banyak bergerak. Padahal rombongan Zero Wolf masih mengejar Jaguar Paw tepat di belakangnya dan bersiap mengeksekusi Jaguar dengan peralatan suku hutan yang lengkap. Nah lumpur yang telah menjebak Jaguar Paw itulah yang mirip dengan medan lumpur di Gunung Salak via Cidahu. Apa jadinya kalau ada pendaki terperosok ke dalam lumpur itu? Medan yang belum pernah kutemui di beberapa gunung yang pernah kudaki. Jaguar Paw yang menjadi raja hutan saja sempat kesulitan untuk keluar dari lumpur hidup itu. Apalagi kami? Subhanallah.

Dalam beberapa perjalanan kujumpai medan-medan lumpur seperti itu tetapi alhamdulilah kami berhasil melewatinya meskipun sering juga kami terperosok ke dalam lumpur di pinggirannya. Seperti para petani yang berjibaku dengan lumpur di sawah. Celana dan sepatu kami belepotan penuh dengan lumpur. Semakin dirasakan semakin berat. Medan yang harus kami hadapi selanjutnya adalah batang pohon yang melintang di tengah jalan, daun berduri yang menghalangi jalan, akar dan ranting yang menyulitkan kaki melangkah dan track-track yang sudah mulai terjal. Beberapa kali kami saling menunggu teman-teman Middle dan Sweeper yang masih tertinggal agak jauh di belakang.

 

Badai Angin, Petir Menggelegar dan Bakteri Sukhoi

a1

Hujan mulai mewarnai perjalanan kami. Aku yang sudah menyiapkan jas hujan sedari rumah, ternyata tertinggal di rumah. Tak kubawa. Ya sudahlah, pasrah. Biar hujan menerjang tubuhku dengan senang. Hujan adalah keindahan dan ingin menyatu dengan keindahan itu. Meski risiko kedinginan dan basah tentunya. Beberapa teman sudah memakai raincoat. Untungnya ada Agung membawa payung sehingga aku bisa berteduh di bawahnya.

Medan yang kami hadapi selanjutnya lebih ekstrim. Setelah melewati pohon-pohon besar yang terjal, kami harus melewati jalur setapak yang sangat rawan untuk longsor. Sebelah kanan ada vegetasi tanaman yang lebat namun berupa jurang. Sedangkan di sebelah kiri ada tebing curam yang hanya dipagari tanaman rambat. Itupun tanah dipinggirnya sangat labil untuk longsor jika diinjak. Kami bisa melihat pemandangan tebing-tebing curam di sebelah kiri jalan, yaitu punggung gunung Salak 2. Sungguh indah, menjuntai seperti jari yang menari-nari. Kami juga bisa melihat asap belerang dari Kawah Ratu. Namun begitu, kami harus tetap berhati-hati. Jangan sampai hilang fokus. Sekali kami terpeleset, habis sudah. Kami menyebut jalur ini sebagai Jembatan Shirotol Mustaqim karena memang bentuknya seperti jembatan jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh 1 orang. Jika ada pendaki yang berjalan dari arah sebaliknya kami harus mencari tempat yang aman untuk menjadi pijakan, apakah itu pohon besar atau turun kembali mencari tanah lapang. Di beberapa sisi yang tanahnya ada akarnya juga terlihat bolong. Sehingga kami bisa melihat jurang dari bolongan itu. Sepanjang perjalanan kami harus fokus agar tidak goyang ke kiri atau kanan. Topan pernah mencoba medan setapak itu dengan menggoyang-goyangkan tanah di bawah kakinya. Dan ternyata tanahnya bergoyang alias tidak padat. Lagi-lagi aku berpikir seandainya hujan sangat deras ada kemungkinan tanah ini longsor jika dilalui banyak orang. Tahu sendiri kan tebingnya seperti apa? Seperti Sukhoi yang jatuh di gunung ini tahun lalu. Nyaris 90 derajat bahkan lebih. Masya Allah. Kami menemukan sekitar 3 jembatan model begini di sepanjang perjalanan. Tapi dengan proses naik-turun bukit terlebih dahulu. Menegangkan.

Tim Leader berjalan seiring dengan Tim Middle. Sedangkan Tim Sweeper masih jauh dibelakang. Setelah berhasil melewati Jembatan Shirotol Mustaqim dengan selamat tanpa ada yang cedera, akhirnya kami harus melewati Tanjakan Cinta. Oci yang menamakannya begitu. Sebenarnya bukan Tanjakan Cinta seperti di Ranukumbolo menuju Oro-Oro Ombo di Semeru, melainkan tanjakan dimana kami sesekali dapat mencintai medan ini dengan mencium tanah di atas kami. Saking terjalnya medan sehingga kami harus merayap seperti Spyderman. Bukan tidak mungkin pula kami mencium tanah itu berkali-kali. Perkiraanku kemiringannya kurang lebih 85 derajat. meskipun terjal, kami sangat terbantu dengan tali webbing yang sudah tersedia di sana. Entah siapa yang memasang tali tersebut. Tinggal merambat menggunakan tali tersebut untuk menuju tanah di atasnya. Harus berhati-hati juga karena sebelah kanan kami adalah jurang curam. Terlebih hujan rintik-rintik masih mengguyur kami. Sehingga jalur pendakian semakin licin. Asyik sih namun sangat menegangkan. Tanjakan Cinta seperti ini kuhitung ada 3 kali kami harus melewatinya. Bergantian dengan Jembatan Shitol Mustaqim yang kami temui tadi. Melani, Oci, dan Tri Septi sangat menikmati tanjakan seperti ini. Bergelantungan kemudian foto-foto ala Tarzan. Terlebih Melani, gadis berjilbab ini baru pertama kali mendaki gunung namun tak takut ketinggian. Maklum, dia mengikuti ekstrakurikuler pencak silat hingga 2 perguruan meski masih duduk di bangku kelas 2 SMA. Meskipun begitu sifat manjanya tak bisa disembunyikan. Jika merasa capek dia pasri nyeletuk, “Kak, kalau sudah sampai puncak, turunnya pakai Helikopter aja ya?”

Setelah melewati beberapa bukit naik-turun, akhirnya kami sampai pada HM 50 atau KM 5 pada pukul 13.55 WIB. Melani sudah kegirangan teriak “Puncak, Puncak, Puncak.” Seperti iklan teh botol yang ketika sudah sampai atas si ulat teriak “Pucuk, Pucuk, Pucuk.” Ketika sampai puncak hujan yang semula rintik-rintik berubah sangat deras. Petir menyambar-nyambar dengan kilatan yang sangat jelas di langit. Kami kedinginan dengan baju basah karena air hujan. Kami segera mendekat ke gubuk dadakan warga Cimelati yang didirikan untuk peristirahatan sementara. Para Srikandi kami amankan di dalam kayu yang beratapkan terpal. Sebenarnya daerah ini sudah masuk kawasan larangan police line yang sudah terpasang. Batasannya adalah makam Eyang Salak. Namun apa boleh buat, hanya tempat itu yang aman untuk berteduh dari hujan deras, kilatan petir dan badai yang tiba-tiba menerjang perjalanan kami. Hingga saat itu kondisi para Srikandi dan beberapa pendaki cowok drop seketika.

Tim Leader dan Middle sudah sampai puncak sedangkan berdasarkan pemantauan melalui komunikasi via HT, Tim Sweeper masih di HM 45. Terkait police line tadi, aku yang sampai puncak duluan dicegat oleh warga Cimelati yang menjadi petugas pengangkut puing-puing Sukhoi Super Jet 100 buatan Russia yang menabrak tebing Gunung Salak. Ketika aku akan melewati gubug terpal dekat shelter yang sudah melewati batas police line, seorang warga menghadang.

“Mas dilarang masuk kawasan sini. Kalau mau berteduh di shelter itu saja”, kata bapak setengah baya itu. Padahal Shelter itu juga sudah dipenuhi tenda pendaki dan beberapa pendaki yang berteduh dari hujan.

“Memangnya kenapa pak?”, tanyaku.

“Di sini kawasan terlarang. Sterilisasi dari virus dan bakteri sisa-sisa Sukhoi. Makanya dipasang Police Line di sekitar sini. Kami hanya mengingatkan kalian saja”

“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang-orang sini terkait bangkai Sukhoi”, batinku.

Aku segera berbalik dan menumpang berteduh di gubug terpal dadakan di belakangku. Beberapa teman sudah berteduh juga di situ. Hujan semakin deras, badai membuat air hujan terasa lancip seperi paku kecil menerjang tubuhku. Aku sendiri semakin kedinginan karena hanya memakai kaos lengan panjang, tak membawa raincoat atau Jaket anti air. Sedangkan logistik ditinggal semua di bawah. Kami mulai kelaparan karena sejak berangkat tidak sarapan. Terlebih hampir semua personil belum merasakan nikmatnya tidur.

Kuberanikan diri masuk ke dalam gubug terpal dadakan itu untuk permisi numpang berteduh. Aku, Hafid dan Pepeng mulai masuk karena hujan di luar sudah tak memungkinkan untuk basah-basahan. Topan yang sedari tadi memagang payung besi tiba-tiba melempar payungnya jauh-jauh.

“Kenapa pan?”

“Nyetrum”

Setelah kami masuk gubug dan izin masuk, sudah ada warga Cimelati yang berteduh di dalam yaitu Andre dan Cepi. Mereka adalah salah satu dari beberapa warga desa yang ditugaskan untuk mengangkut reruntuhan Sukhoi agar bakteri atau virus tidak mencemari aliran air menuju perkampungan penduduk. Karena penduduk di sini sangat menggantungkan hidupnya dari mata air gunung Salak.

“Kami hampir sebulan di sini mas. Tiap seminggu sekali turun ke bawah. Biasanya juga jam segini gak pernah hujan, panas. Hari ini saja hujannya sangat deras. Biasanya kami kesulitan mencari air. Kalau mau cari air harus turun dulu selama sejam ke bawah”, kata Andre menghangatkan suasana.

“Oh ya kang, aku tadi dilarang masuk di depan. Memang benar ada virus?” tanyaku.

“Iya mas. Sudah hampir sebulan ini kalau nggak salah. Saya beserta beberapa warga ditugaskan di sini untuk mengangkut reruntuhan Sukhoi. Untuk menghindari efek penyakit yang menular, sebelum naik kami harus divaksin terlebih dahulu di pos bawah. Kebetulan petugas medisnya hari ini sedang tidak di sini”

“Memang pernah ada kejadian ya kang?”

“Ada. Ada Polisi Hutan yang berkeliling di reruntuhan Sukhoi beberapa waktu lalu. Ternyata dia terluka dan lukanya membusuk dan hampir diamputasi. Tapi alhamdulilah sembuh. Makanya warga desa takut penyakit ini sampai ke pemukiman sehingga mereka minta harus ada sterilisasi dari pemerintah”

“Tapi gubug ini melewati batas police line. Aman gak ya?”

“Insya Allah aman. Gak papa. Tenang saja”

“Alhamdulilah”, batinku. Agak takut juga sih masuk kawasan penuh dengan bakteri penyakit yang bisa menular. Terlebih dengan tragedi Sukhoi yang sampai sekarang puingnya masih ada dan berpotensi menularkan penyakit. Dan kami berada di kawasan terlarang itu.

Aku, Hafid, Pepeng mengobrol banyak dengan mereka berdua. Tentang masalah Sukhoi, Embah Salak, kenapa mereka ada di sini dan macam-macam. Hanya sekedar mengalihkan perhatian dari rasa dingin yang merasuk tubuh.

 

Antara Puncak Salak dan Hypothermia

a7

“Ranger. Tim Sweeper masih di HM 45. Vita mengalami Hypothermia !!!”, Sweeper Adi mengabarkan pada kami lewat HT. Hypothermia adalah gejala kedinginan yang dapat merenggut kesadaran seseorang secara perlahan. Penderita Hypothermia harus selalu dalam kondisi tidak tidur atau selalu sadar agar tidak kebablasan.

Seketika itu juga kami terkejut. Hujan masih sangat deras. Petir menyambar-nyambar. Badai angin masih kencang. Kami tak bisa berbuat apa-apa selain berteduh, berdoa dan menghangatkan badan dengan peralatan seadanya. Para Srikandi Melani, Oci dan Tri Septi juga sempat kedinginan dan wajah mereka terlihat pucat karena kelaparan. Tak ada makanan kecuali makanan kecil untuk mengalihkan perhatian rasa lapar di perut. Topan yang membawa kompor dan gas segera menyalakannya untuk mereka bertiga. Untuk menghangatkan badan agar kesadaran selalu stabil. Tidak tidur atau pingsan. Menjaga agar tidak terkena Hypothermia. Dan ternyata ketakutanku benar. Melani si bungsu akhirnya tak tahan dengan dingin, menggigil. Dia bilang, “Kak, aku kedinginan. Kakiku gak kerasa kalau digerakin”.

Tri Septi dan Ochi yang bersamaan tiba dengan Melani segera menghangatkan badan Melani. Kami minta air panas ke gubuk dadakan yang kami tumpangi untuk si Melani dan menyalakan kompor untuk menghangatkan badan. Setelah merasa hangat Melani mengganti celana yang basah dengan celana yang kering agar tidak merasa dingin lagi.

Kembali ke HM 45. Berdasarkan cerita tim Sweeper, mereka mendirikan flysheet untuk berteduh karena hujan. Bang Adi, Ryo, Randy, Fadli, Bang Anton, Nday, dan Vita masih berada di bawah, 500 m dari puncak. Vita yang sedari awal pendakian sudah mengalami gejala keanehan aktivitas lain dari makhluk Gunung Salak ini, kini harus berjibaku dengan Hypothermia. Bermula dari hujan yang sangat deras, Vita yang memakai celana pendek dan kaos pendek mulai merasa kedinginan. Tim Sweeper berteduh ramai-ramai di bawah flysheet. Bang Anton mulai mencairkan suasana dengan menyetel lagu soundtrack sinetron Wiro Sableng dan Kera Sakti. Lagu kesukaan dia. Mungkin juga pernah menyetel lagu Doraemon, pokoknya lagu anak-anak di Odong-Odong dikeluarin semua. Nostalgia masa kecil.

Vita yang semula duduk tersenyum wajahnya mulai pucat. Bayangkan saja tidak sarapan sebelum pendakian. Perut sudah keroncongan. Ditambah belum tidur semalaman tubuh langsung dipacu bekerja keras. Vita merasakan matanya berkunang kunang, badan dingin sekujur tubuh, dan kaki kram. Maggnya mulai kambuh.

Vita merasa sangat lemas. Perlahan dia tumbang dipangkuan Randhy. Randhy mengira Vita tertidur karena memang kecapekan selama di perjalanan. Rencana ngetrack 3 jam sampai puncak kini sudah 6 jam perjalanan belum juga sampai puncak. Vita terlihat tertidur sangat pulas hingga akhirnya Randhy tersadar bahwa Vita tak bergerak.

“Vit…”, Randhy mulai menggoyangkan badan Vita namun Vita tetap tak mersepon. “Vit kamu kenapa Vita, Jawab dong suaraku”.

“Bang Adi Vita gak sadar”, teriak Randhy kepada semuanya.

Pantas saja tim Sweeper kelabakan. Bang Adi memanggil-manggil Vita yang tak sadarkan diri itu. Dia awalnya tak mendengarnya namun karena terus dibangunkan oleh Bang Adi dan kawan-kawan akhirnya Vita siuman. Fadli teriak-teriak seperti orang kesetanan berusaha membangunkan Vita. Ryo bersuara dengan lantang seperti Presiden Soekarno berpidato di atas mimbar, berapi-api. Tetap saja Vita belum membuka matanya, tak sadarkan diri dan lemas itu yang hanya bisa dirasakannya. Dalam ketidaksadarannya Vita berkhayal ingin makan Tongseng dan menyelam di dalam kuah Tongseng. Imaginasi yang aneh.

Akhirnya berkat teriakan Tim Sweeper, Vita mulai agak sadar. Terlebih Fadli menampar wajah Vita menggunakan telapak tangannya yang seperti telapak kuli bangunan itu, “Plak, Plak, Plak !” berkali-kali. Bang Adi dengan cekatan membungkus tangan dan kaki Vita dengan plastik agar hangat. Fadli dan Ryo membuka sepatu Vita sedangkan Randy melumuri tangan dan kaki menggunakan minyak kayu putih. Kaki Vita dilap dengan air panas yang sudah dimasak dengan kompor nesting sebelumnya.

Randhy mengangkat badan Vita dan memangkunya agar celananya tidak basah karena aliran air hujan. Dia menjaga badan Vita agar tetap stabil. Padahal badan Vita lumayan berat tapi Randhy tak pernah mengeluh dan tetap memangku Vita. Setelah mulai siuman dan bisa diajak bicara, Bang Adi menyuapi mie menggunakan ranting-ranting pohon. So sweet. Nday dan Bang Anton memasak Mie Instan yang dibawa seadanya dari Simpang Bajuri. Tidak membawa Mie banyak karena memang tujuan masak besar bukan di puncak. Vita sudah mulai sehat. Setelah hujan mereda Vita ganti baju kering menggunakan Flysheet yang digulung di badannya.

“Ranger. Tim Sweeper sudah siap melanjutkan perjalanan summit. Vita sudah mendingan”, Teriak Bang Adi kepada Tim Leader.

Hujan mereda. Waktu menunjukkan pukul 15.35 WIB. Pemandangan Puncak Salak 1 sangat indah. Dari sini kami bisa melihat Puncak Salak 2 di seberang kami, yang dipenuhi dengan tebing terjal. Matahari malu-malu muncul dibalik awan. Cahaya yang menerobos di setiap awan terlihat seperti cahaya surga, menyebar merata menghangatkan bumi. Kami menikmati keindahan puncak Salak 1 sambil menunggu kedatangan Tim Sweeper. Indah. Sejuk dan mendinginkan pikiran. Subhanallah.

Pukul 16.05 WIB Tim Sweeper satu persatu muncul di Puncak Salak ! Horeee…. akhirnya kami bersatu kembali meski harus melewati perjalanan penuh perjuangan. Di puncak ini lumayan lama. Bersih-bersih badan, ganti baju basah, mencuci kaki dan tangan, menikmati ciptaan Allah yang tak ada tandingannya di muka bumi ini dan Sholat Ashar Jama’ Qoshor dengan Dhuhur sebagai ucapan syukur kami kepada sang pencipta. Tak lupa kami mengabadikan gambar di 2.211 mdpl ini dengan penuh sukacita. Bang Anton sang “Wiro Sableng” begitu narsis menggunakan bendera merah putih. Dengan latar belakang Salak 2 dari kejauhan dia bergaya bak model Majalah “Sobek” karena celananya sobek-sobek. Habis ketemu sama Tukul Arwana. Hahaha.

“Sekarang guwe sudah Ganteng karena telah berhasil mencapai puncak Salak 1. Lebih ganteng daripada Ciremai-Linggarjati”, kata dia.

 

Ekspedisi Sukhoi dengan Membelah Gunung Salak-Cimelati

a2

Sunset di sini begitu indah. Hati yang gundah menjadi sebuah kesejukan luar biasa. Aku yang memgang kamera DSLR tak lupa mengambil gambar panorama di atas Gunung Salak. Cekrak-Cekrek hingga tak terasa sudah sejam lebih aku melakukan aktivitas itu. Memang indah meskipun di sebelah kanan agak turun ke bawah terdapat misteri puing-puing Sukhoi bersama Virus dan Bakterinya. Misterius seperti misteriusnya Pesawat Sukhoi buatan Rusia yang modern itu menabrak tebing Salak hingga hancur berkeping-keping tahun lalu. Padahal pilot yang membawa pesawat itu berkewarganegaraan Rusia juga dan mempunyai jam terbang yang sangat profesional. Takdir Allah tak ada yang mampu menghentikan. Jika memang terjadi pasti akan terjadi.

Setelah merasa puas dengan keindahan Salak 1 dan dirasa siap semuanya untuk melanjutkan perjalanan turun kembali, kami berkumpul untuk membicarakan rencana selanjutnya. Pertanyaannya adalah apakah kami akan tetap melewati jalur Cidahu untuk melanjutkan perjalanan? Apakah kami sanggup melewati jalan terjal dengan panorama kanan dan kiri terbing terjal di malam gulita? Apakah kami mampu melewati hamparan lumpur hidup yang pastinya sangat berat dilewati setelah tergenang hujan deras selama hampir 2 jam?

Setelah berdiskusi panjang akhirnya forum memutuskan untuk turun melalui jalur Cimelati. Dengan risiko :

  1. Kami turun di malam hari, jarang ada pendaki yang naik Gunung Salak atau Turun Gunung Salak di malam hari.
  2. Kami tak membawa logistik. Hanya tersisa air hujan yang sudah ditampung dalam botol. Risiko kelaparan dan drop sudah di depan mata.
  3. Tenda, sleeping bag, jaket tebal, dan semua logistik makanan berada di jalur Cidahu. Jika kami memaksa lewat Cimelati maka sampai bawah kami tak akan menemukan makanan.
  4. Tim turun hanya menggunakan modal nekat dan ingin segera sampai bawah. Sebuah luapan emosi yang sangat agresif.
  5. Tak ada satu orang pun dari kami yang pernah lewat Jalur Cimelati
  6. Jalur Cimelati adalah jalur ilegal, jalur porter, jalur SAR. Bukan jalur pendakian resmi. Jika terjadi apa-apa di tengah jalan tidak ada petugas yang bisa membantu.

Sepakat. Kami akhirnya memilih turun via Jalur Cimelati dengan segala risiko yang ada. Jika kami tetap memilih turun via jalur Cidahu maka risiko terbesar jalan sendiri di malam hari berada di depan mata. Jatuh ke jurang jika tidak waspada dan fokus. Dan hampir semua peserta tim masih dalam keadaan kelaparan dan belum tidur semalaman. Hanya tidur ayam.

Pukul 17.35 kami siap turun. Alhamdulilah kami mendapatkan amunisi. Dua orang warga di gubung dadakan tadi, yang sempat kuajak ngobrol panjang lebar, mereka juga akan turun. Sebenarnya mereka kasihan juga melihat kondisi kami. Ya sudahlah sekalian mereka kami minta untuk mengantarkan kami sampai ke pos bawah. Dan kami patungan untuk memberi mereka sedikit tanda terima kasih ketika sampai di bawah nantinya. Andre berada di depan sedangkan Cepi berada di belakang mengawal perjalanan kami. Memastikan kami tidak salah jalur. Memastikan kami sampai bwah dengan selamat.

Perjalanan dimulai kembali. Ternyata jalur Cimelati sangatlah terjal. Mirip jalur Linggarjati Gunung Ciremai. Bedanya adalah hampir seluruh jalurnya adalah lumpur. Lumpur biasa bukan lumpur hidup. Paling tinggi setengah lutut. Cukup berat tapi nikmati sajalah. Perkiraan perjalanan paling lama 3,5 jam. Karena Andre pernah ngebut dari puncak sampai bawah hanya 1 jam. Super sekali orang itu. Jangan-jangan kuncinya ada di sepatu AV boot yang dia pakai. Hahahaha.

Lumpur yang meleleh ini cukup merepotkan kami. Sangat memperlambat perjalanan untuk menuruni jalur terjal. Sudahlah, kami tak bisa pilih-pilih jalan lagi kali ini. Hampir semuanya lumpur, lumpur, dan lumpur. Jarang sekali ada tanah padat yang bisa dilewati. Kalaupun ada itu hanyalah sebatas akar pohon. Tak jarang kami terjatuh berkali-kali. Termasuk aku. Meskipun sudah sangat berhati-hati tetaplah jatuh juga. Entah karena licin, salah pijakan atau kurang stabil menjaga keseimbangan.

Sampai di sini HT tak bisa dipakai. Battery habis sehingga kami harus berjalan merapat satu sama lain agar tak terpisah. Sampai ketika kami turun sekitar 20 menit kami berjumpa dengan rombongan pendaki Bang Irwadi. Hanya aku dan agung yang mengenal dia. Awalnya dia bertanya sama Andre.

 

“Berapa orang bang?”, tanya Irwadi.

“Bang Irwadi bukan?”, agung nyeletuk.

“Iya. Loh ini siapa ya?”

“Agung bang. Kemaren yang kita mau nanjak Ciremai bareng-bareng abang batal ikut”

“Oh ya. Serius nih pada mau jalan malam?”

“Iya bang. Logistik kami di Cidahu. Kami gak sanggup turun malam ke Simpang Bajuri malam-malam. Kanan-Kiri jurang, belum lagi jalurnya pasti licin dan labil. Ada juga yang bolong-bolong gitu bawahnya langsung jurang bertebing”

“Mending kalian balik lagi ke atas deh. Aku punya tenda dan logistik. Di atas juga ada pendakian masal 50 orang kalian bisa nebeng. Gak masalah. Jangan turun malam ! benar-benar rombongan pendaki gila jika kalian melakukan itu” kata Irwadi dengan nada keras dan menantang.

“Ih, apaan nih ini orang main nyuruh-nyuruh aja. Gak lihat apa kita udah capek-capek pengen segera sampai bawah malah disuruh ke atas”, kata Melani dalam hati.

“Enggak deh kang kita turun aja”, kata salah seorang di antara kami. Entah siapa. Di sini personil kami banyak yang lumayan kesal sama Kang Irwadi karena di samping rombongan udah lelah, capek, perut kosong dan beberapa orang dari rombongan yg kondisinya nge-drop, mereka bertekad untuk turun malam ini juga. Dengan bermodal kemantapan hati dan keyakinan.

 

Terjadi diskusi lumayan lama sekitar 7 menit antara Agung dan Irwadi. Sayangnya aku di belakang setelah ketinggalan rombongan, memasukkan kamera ke dalam daypack.

Irwadi memang sudah pernah melakukan pendakian ke Gunung Salak. Dan dia sangat tahu medannya. Apalagi dia adalah saksi hidup track Cimelati seperti apa. Terlebih setelah diguyur hujan jalurnya semakin berat dilalui. Lumpur dimana-mana. Dan setelah dia tahu kami turun tanpa membawa logistik dan peralatan pendakian yang cukup memadai, nadanya semakin keras melarang kami. Wajar saja sebagai seorang pendaki yang telah malang melintang di dunia pendakian dia sangat khawatair dengan keadaan kami. Hanya sebuah headlamp yang bisa kami pakai sebagai penerang.

 

“Okelah, yang penting hati-hati saja. Kalau kalian tetap nekat bisa-bisa sampai bawah besok pagi”, kata Irwadi. “Sekarang gw foto dulu, Inilah rombongan orang-orang yang nekat”, tambahnya.

 

Padahal kami memilih jalur Cimelati berharap bisa lebih cepat. Katanya 3,5 jam sudah sampai bawah lagi. Oleh karena itu hampir seluruh prsonil tim kami yang mendengar ucapan Irwadi mencibirnya.

Kami tetap melanjutkan ke bawah mengingat sebagian besar personil tim tidak mau diajak ke atas lagi. Sudah rindu dengan masakan padang katanya. Akhirnya kami berpamitan dengan Irwadi yang sampai Maghrib belum sampai puncak. Padahal dia berangkat pukul 09.00 WIB dari pos bawah. Irwadi juga berpesan kepada Cepi, yang berada di belakang kami, “Yang sabar ya Mas. Pelan-pelan saja yang penting sampai tujuan dengan selamat.”

 

Cimelati Sungguh Menegangkan !

a5

Lagi-lagi Vita. Cewek indigo yang memperoleh penglihatan setelah nanjak Semeru ini ketakutan untuk turun. Dia meminta Ryo untuk mendampingi perjalanannya. Bang Adi ada di depan Vita untuk menjaga keseimbangan agar bisa jadi pijakan. Fadli ada di belakang sebagai Sweeper. Paling terakhir adalah Cepi agar memastikan kami tidak ada personil yang tertinggal. Kata dia, aktivitas ‘’lain’’ di Cimelati lebih banyak dibandingkan aktivitas ‘’lain’’ saat melewati jalur Cidahu.

Vita melihat sebuah bola mata yang sangat terang benderang memperhatikan aktivitasnya beberapa kali. Tepatnya di belakang Risto. Risto berjalan di depan Bang Adi dan Vita. Selain bola mata terang itu ternyata ada tambahan personil lagi yang bergabung dengan tim kami. Seorang gadis dengan rambut terurai. Berbeda dengan awal pendakian kami yang diikuti oleh pendaki cowok yang sudah meninggal, gadis ini bukanlah seorang pendaki. Kata Vita wajahnya sangat menyeramkan. Makanya dia tak berani memandangnya lama-lama. Gadis ini mengikuti di belakang Risto sejak awal kami mulai perjalanan turun dari puncak. Vita yakin gadis itu adalah bukan anggota tim kami karena hanya dialah yang tidak memakai Jilbab. Sedangkan gadis-gadis berjilbab lainnya sudah berjalan di depan.

Di sebelah kanan jalur yang juga berbatasan dengan jurang, Vita melihat sosok kecil yang sangat kurus. Anehnya muka makhluk itu panjang hingga menyentuh tanah. Rambutnya juga terurai hingga ke tanah. Berjalan agak ke bawah dijumpainya banyak sekali kuntilanak. Dia memanggil-manggil Vita seolah teman dekatnya. Padahal sekali dia memenuhi panggilan itu, sudah ada Jurang yang siap menangkapnya.

Beberapa saat berjalan ada sebuah pohon sangat besar. Di depannya ada dataran yang cukup untuk tempat istirahat. Vita seperti dejavu karena dia seperti mengulang sejarah masa lalu. Memorinya diputar selama hampir 5 menit diperlihatkan bahwa tempat ini adalah sebuah lokasi pertapaan. Banyak orang bertapa untuk meminta kesejahteraan dan kekayaan. Ada seorang bapak-bapak yang sering bersemedi di tempat tersebut lengkap dengan dupa dan sesajen. Hanya Vita yang bisa lihat. Kami hanya berjalan menyusuri jalur pendakian yang penuh dengan lumpur.

Masih ingat personil cewek misterius yang mengikuti kami? Dia masih mengikuti kami hingga kami sampai di pos 4 jalur Cimelati. Pos tersebut merupakan perbatasan antara alam manusia dan alam ghaib. Di sana juga terdapat gerbang masuk yang sangat besar dan sangat tinggi. Di sana kami sempat istirahat sekedar meluruskan badan. Beberapa teman juga sibuk dengan urusan masing-masing, minum tolak angin, buang air kecil dan mengoleskan balsem ke badan.

Melani mengalami kesakitan di telapak kanan kakinya hingga sepatunya harus dilepas dan diberi balsem serta diurut perlahan. Oleh Bang Adi Dia teriak kesakitan ditambah panasanya balsem yang diolesi hampir diseluruh kakinya. Sampai-sampai harus ada air mata yang jatuh dari matanya menahan rasa sakit. Bergelinjang hingga akhirnya panas balsem itu mereda. Dan dia siap untuk mulai berjalan lagi meneruskan perjalanan.

Dalam perjalanan berikutnya masih saja ada aktivitas lain selain aktivitas kami saat menuruni gunung. Namun tak sebanyak aktivitas sebelum sampai gerbang pos 4 tadi. Vita berjalan menyusuri jalur dan mendengar seorang wanita menangis tersedu-sedu memanggil namanya. Dia tak menghiraukan suara itu dan hanya berdoa sepanjang perjalanan. Soalnya kejadian ini seperti terulang ketika dia melewati Jambangan, Semeru. Seperti seseorang yang memanggil untuk sekedar menemui mayatnya. Seram! Di sebelah kanan semak-semak yang masih berbatasan dengan jurang terdengar jelas langkah-langkah kaki.

 

Kami Akhirnya Tumbang Tak Berdaya

Pukul 23.35 WIB kami tiba di Pos 3. Pos yang mempunyai sumber air dari selang yang dipasang penduduk. Kami istirahat sejenak sambil menunggu teman-teman yang lain sampai. Melani tertidur. Dari situ aku sudah mulai khawatir Melani kena Hypo. Aku, Oci, Tri Septi menggoyangkan badannya namun tak ada respon.

“Mel kalau dengar suaraku jawab. Kasih tanda”, kata Oci.

“Mel, mel, mel”, Tri Septi menggoyangkan kepala Melani.

‘’Coba Ci angkat badannya biar tegak. Minta dia melek sebentar”, kataku

Oci mengangkat badan Melani dan menegakkannya. Dengan sabar dia mengusap minyak kayu putih ke tangan Melani agar hangat. Wajah Melani sudah sangat pucat bahkan untuk membuka mata saja sangat berat. Aku yang duduk di dekatnya tak tega melihat kondisi Melani saat itu. Pasti dia sangat lapar. Bukan hanya dia saja sih, kami semua juga lapar. Segera kubuka tas daypack ku dan kuberikan syal tebalku kepadanya untuk menutupi leher Melani dari Angin malam. Sudahlah, jangan dipaksakan. Melani darurat. Sepertinya sudah tak sanggup lagi untuk diajak berjalan.

Kondisi semakin mencekam ketika Vita  kena hypo untuk kedua kalinya. Kesehatannya memburuk. Dia hanya bisa melingkarkan badannya di atas lipatan kaki agar hangat. Ryo langsung melingkari badan Vita agar angin tak menghujam tubu mungilnya. Ryo mengusap-usapkan tangan ke unggung Vita agar hangat dan mengolesi kaki dan tangan Vita menggunakan minyak kayu putih. Akhirnya dia yang jadi superhero lagi. Bang adi jadi superhero nya melani. Hehehe. Ryo membisikkan kata-kata ke telinga Vita, “Tahan ta jangan di manja penyakit nya, bisa ko bisa, Lawan ya lawan. Gue jagain”.

Satu persatu personil tumbang. Bang Anton sudah tak sanggup berjalan karena perutnya kosong, kantuk dahsyat menerjang dan lututnya cedera. Padahal dia orang paling bertubuh besar di antara kami. Saking tak kuatnya dia akhirnya tertidur pulas di semak-semak beralaskan tanah basah. Sudah tak peduli lagi apakah ada ular atau tidak yang penting tidur.

Bang Pepeng, pendaki senior yang sudah malang-melintang di dunia pergunungan akhirnya ikut tumbang juga. Wajahnya sangat pucat. Gejala Hypo. Sedari awal perjalanan turun dia memang sudah kelihatan sakit dengan jalan terpincang-pincang. Jalan pun autopilot. Agung, Topan, Very, Fadli dan Bang Pepeng sebelumnya juga memaksakan berjalan meski sangat mengantuk. Hingga mereka berkali-kali jatuh karena berjalan sambil tidur, autopilot. Tiba–tiba langsung gedebuk dan kemudian bangkit lagi. Berjalan lagi. Begitu seterusnya. Sama seperti Bang Anton, Bang Pepeng tertidur sangat pulas meski dingin menerjang kami perlahan-lahan.

Hafid, sahabat karib Bang Pepeng ikut tumbang juga. Kaos tipisnya tak mampu menahan rasa dingin yang menerjang tubuhnya. Hingga ketika dia butuh jaket langsung kuberikan jaketku satu-satunya kepadanya. Oci dan Tri septi kembali mengoleskan minyak kayu putih kepada mereka bertiga, Bang Anton, Bang Pepeng dan Hafid. Hafid juga mengikuti jejak untuk tidur beralaskan tanah basah. Satu lagi yang sedari tadi masuk angin dan muntah-muntah, Randhy. Sudah mulai tertidur juga. Yang lainnya juga sudah mulai duduk dengan mata terpejam, terlelap dalam mimpi. Masya Allah.

Hanya saja aku tak pernah tertidur meski sangat mengantuk. Oci dan Agung juga. Agung hanya terserang sinus, ingusnya keluar terus menerus dari hidung. Tandanya dia kelelahan juga. Mulai ngedrop. Kami semua dalam kondisi kelaparan. Setelah terbangun, Topan memasakkan Mie Instan untuk Melani dan teman-teman yang ngedrop dengan gejala Hypo. Hanya sebatas untuk mengganjal perut karena kami hanya mempunyai 2 bungkus mie instan saja. Sudah tak ada amunisi logistik lagi untuk mengganjal perut.

Melihat kondisi personil banyak yang tumbang, ngedrop dan mengalami gejala Hypo, aku berusaha ngobrol dengan Agung bagaimana alternatif selanjutnya. Aku punya 2 alternatif :

Pertama : kami melanjutkan perjalanan dengan kondisi sebagian teman-teman ngedrop. Risikonya tumbang di jalan jika dipaksakan. Dan sepertinya Melani tak kuat berjalan lagi meneruskan perjalanan ini.

Kedua : kami tidur di pos tiga dengan fasilitas seadanya. Membuat bivak dari flysheet dan menggunakan dedaunan sebagai alasnya. Risikonya jika keesokan pagi bangun kami masih dalam keadaan lapar, tak ada logistik. Belum lagi tak ada jaminan di sini tak ada binatang buas. Melihat topografinya daerah ini dekat dengan sumber air. Kebiasaan Harimau atau binatang lain adalah jika pagi buta mereka mendatangi sumber air untuk sekedar minum. Jadi sangat riskan jika tetap bertahan di sini tanpa fasilitas apapun. Risiko paling besar. Belum lagi semakin malam udara semakin dingin mencekam. Semakin tak bergerak semakin dingin merasuk tubuh. Bahkan aku saja yang sedari awal pendakian alhamdulilah baik-baik saja kini mulai kedinginan. Apalagi tak memakai jaket.

Rencananya jika kami memilih alternatif kedua kami meminta bantuan Andre dan Cepi untuk meminta bantuan Ranger di bawah. Dan ketika kembali mereka membawakan makanan untuk kami. Tetapi kami ditinggalkan di hutan yang masih sangat lebat ini.

“Di Cimelati gak ada Ranger Mas”, kata Andre.

“Lah tapi bukannya kami sudah izin pendakian di Pos kang?’’ Kata Agung sedikit kesal.

“Gini Gung, Cimelati ini kan jalur illegal, jalur porter, jalur evakuasi. Ya tentu tidak ada pos penjagaan yang ada Ranger untuk menolong kita. Percuma juga menghubungi pos Cidahu, mereka butuh waktu untuk datang ke sini. Bisa-bisa menjelang siang. Toh juga gak dibenarkan kita lewat jalur Cimelati meskipun kita izinnya di Cidahu”, kataku memberi penjelasan.

“Darurat ini gung, aku gak tega lihat kondisi mereka. Baru kali ini soalnya aku melakukan pendakian se-ekstreem ini. Tanpa bekal makanan dan peralatan lengkap. Jadi bagaimana?” tambahku.

“Aduh enaknya gimana ya”

“Darurat gung benar-benar darurat kondisi ini. Aku tambah ngeri kalau kita stay di sini. Itu teman-teman yang ngedrop bisa-bisa kena Hypothermia semua. Serius, risikonya sangat besar. Yang terpenting kita harus ada pergerakan. Moving ke bawah. Sekuat tenaga kita saja. Pelan-pelan juga gak papa. Sesampai mana kita bisa berjalan turun asalkan badan tetap bergerak. Kalau sudah mendekat ke bawah apa-apa kan jadi enak. Mau minta tolong cepat. Mau evakuasi juga cepat. Daripada stagnan di sini tak ada apa-apa yang kita dapat. Harus dipaksa gung!”

Sementara Agung mengondisikan Andre dan Cepi, ditemani Very, aku meminta bantuan Bang Adi untuk membangunkan personil yang tidur. Pokonya harus dipaksa jalan. Lelet juga gak papa. Sekuatnya saja. Termasuk Bang Anton dan Bang Pepeng yang katanya minta ditinggal saja sendirian di hutan saking gak kuatnya jalan. Dengan pengaruh Bang Adi pasti mereka menuruti perkataannya. Bukan hanya luapan emosi sesaat. Kami adalah satu tim. Kalau ada apa-apa dihadapi bersama. Naik bersama turun juga harus bersama. Tidak ada kata meninggalkan. Tidak ada kata menelantarkan. Susah-senang harus dihadapi meski kenyataannya memang sepahit ini.

Tak terasa sudah jam 00.35 WIB. Sejam kami telah menghabiskan waktu untuk beristirahat dan mendiskusikan rencana ke depannya bagaimana. Melani masih terlihat sangat lemah. Akhirnya dia harus digendong oleh Bang Adi agar rencana moving ini tetap berjalan. Headlamp Melani hilang hingga kuberikan Headlamp satu-satunya juga kepadanya.

“Aku nebeng headlampnya Dimas saja jalan dari belakang”, kataku.

Tapi ternyata agung masih mempunyai handphone dengan sisa battery 2 bar. Ya sudahlah aku pakai saja HP nya buat terang-terangan daripada gelap gak tahu jalan.

Kami akhirnya melanjutkan perjalanan. Bang Anton dan Bang Pepeng yang semula gak kuat sudah terpulihkan tenaganya oleh tidur meskipun sesaat. Gantian aku, Dimas, Fadli dan Very yang menjadi sweeper. Yang ngedrop harus jalan di depan semua. Aku teringat, masih ada satu kota madu sachet yang belum kubuka. Segera kubagikan kepada teman-teman untuk menambah tenaga dari manisnya madu itu. meski tak sepenuhnya membantu paling tidak ada amunisi lagi untuk berjalan.

 

Kami Rombongan Pendaki Nekat dan Gila

a10

Kami terigat ucapan Bang Irwadi kalau kami adalah rombongan pendaki GILA. Memang benar-benar gila melihat track nya seperti itu, kondisi banyak yang ngedrop dan tak bawa logistik yang mencukupi. Benar-benar nekat. Tak menyangka aku bisa melakukan ekspedisi seperti ini. Ekspedisi Sukhoi, membelah gunung Salak dari Cidahu-Cimelati, dari ujung ke ujung. Padahal awalnya cuma penasaran barangkali aku bisa menemukan reruntuhan sukhoi. Kilas balik kejadian tahun lalu. Dan ternyata usahaku menemukan kepingan sukhoi terhambat oleh adanya larangan masuk kawasan terjatuhnya sukhoi karena ada sterilasasi bakteri menular.

Oci. Sepanjang perjalanan dari pos 3 ke pos 2 dia selalu mendengar suara harimau mengaum. Hanya saja dia beranikan diri untuk tak menganggap suara itu karena kami turun bersama-sama. Kalau aku sih biasa saja, tak mendengar dan melihat apa-apa karena telingaku masih sakit. Tapi keberadaan mereka bisa dirasakan walaupun tak tampak wujudnya dengan kedua mataku. Aku bisa merasakan kehadiran mereka. Entah itu binatang buas atau makhluk “lain” selain kami. Aku tetap melaju tanpa mempedulikan kanan-kiri. Tetap fokus pada jalur pendakian.

Oci. Seperti saat awal pendakian dari Simpang Bajuri menuju puncak, dia menahan kencing yang sudah di ubun-ubun. Saking takutnya dia sudah tak peduli dengan suara berisik di kanan kirinya. Hingga mendekati pos 2 pepohonan sudah mulai rapi dan tertata. Alang-alangnya juga seperti Savana di Taman Nasional Blauran atau Oro-Oro Ombo di Semeru. Seandainya kami turun pagi atau siang, kami bisa menikmati keindahannya. Jalan setapak yang licin setelah diguyur hujan membuatku harus pandai-pandai menjaga keseimbangan agar tidak mudah terjatuh. Dan terbukti banyak sekali teman-teman yang terpeleset di sana.

Alhamdulilah misi kami berhasil. Padahal awalnya kami tak bertenaga untuk sekedar berjalan. Banyak yang kena geja Hypo, hampir pingsan, cedera lutut dan kaki, serangan pacet, kedinginan dan kebanyakan tidak tahan lapar. Kami memperbanyak minum saja untuk mengalihkan rasa lapar. Harus dipaksakan kalau ingin ada pergerakan dan perubahan. Harus mendekat ke bawah kalau ingin segera beristirahat terlpeas dari segala kondisi tim yang ada. Harus bisa. Manusia hanya bisa berusaha dan memaksakan kehendak diri sendiri agar berhasil sedangkan tuhanlah yang menentukan semuanya.

Hampir semua personil ketika perjalanan menuju pos 2 yang harus melewati hutan cemara, mereka seolah-olah seperti melihat kastil tua di seberang kanan jalan. Ada yang melihat seorang kakek tua memakai jarit/sarung kuno sedang berdiri memperhatikan mereka. Padahal jika senter diarahkan ke sana tidak apa-apa. Hingga akhirnya kami sampai di pos 2. Beberapa personil yang sudah sampai terlebih dahulu beristirahat di bawah pepohonan rimbun dan tinggi. Memejamkan mata. Aku tahu kami kelelahan dan kantuk dahsyat.

Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 03.15 WIB. Aku sadar belum menjama’ Sholat Maghrib dan Isya’ karena sepanjang perjalanan tidak memungkinkan untuk melakukan sholat disamping baju kami sudah lusuh oleh lumpur dan sangat basah. Aku berharap segera sampai ke bawah sebelum subuh dan menemukan mushola untuk menjama’ sholat. Oleh karena itu aku menemani Bang Adi dan Melani yang digendongnya di depan. Tentu juga bersama Andre.

Oci masih saja merasakan auman suara harimau dibalik semak-semak. Tapi dia tak menghiraukannya. Yang dia rasakan dan juga kami tentu saja, adalah rasa kantuk luar biasa. Sampai-sampai beberapa dari kami terjatuh karena autopilot. Tak sadar tidur sambil berjalan. Lampu-lampu dari rumah warga sudah terlihat dekat. Artinya kami sudah mendekat di perkampungan penduduk. Hingga akhirnya kami melewati bak air dari semen untuk menampung air dari atas. Dari sana sudah kulihat jelas bentuk rumah satu per satu. Subhanallah. Indah sekali pemandangan dari sini. Dari kejauhan lampu-lampu kota berkedip-kedip menyambut kedatangan kami. Aku ingin mengeluarkan kamera tapi tak ada tripod. Percuma saja pasti gambarnya akan kabur dan goyang. Ya sudahlah.

Kami harus melewati lolongan suara anjing. Memang benar anjingnya berada di depan kami. Sangat besar. Seolah-olah dia mencegat dan tak suka akan keberadaan akami. Kami sudah merasa ketakutan. Aku yang sedari tadi berjalan di tengah mulai menepi dan mendekat ke Andre. Kata Andre tenang saja, nanti juga dia akan biasa aja. Kucoba untuk berjalan seolah-olah tak menghiraukan gonggongan yang memecah kesunyian dini hari itu. menakutkan. Tapi aku berjalan biasa. Dan alhamdulilah ternyata anjing itu juga tak berbuat apa-apa. Hanya melolong dan menggonggong seenaknya sendiri.

Andre menuntun kami hingga sampai ke sebuah warung kecil. Tepatnya bukan warung makanan tapi warung kelontong biasa. Sepertinya Andre menggedor-gedor pintu pemilik rumah agar membukakannya untuk kami. Karena kami sudah sangat lapar alias kelaparan. Apapun yang ada akan kami libas habis. Seharian kami tidak makan dan itu sangat mempengaruhi emosi dan mental kami. Perut kosong membuat segalanya jadi tidak penting. Karena melalui perutlah energi bisa mengalir ke seluruh tubuh hingga ke otak dan berpikir dengan jernih.

 

Kudeta Rumah Tak Berdarah

a8

Alhamdulilah. Sesampai di sana tak lupa kutunaikan hutangku Sholat Isya’ Ma’al Maghrib. Saat itu jam menunjukkan pukul 03.45 WIB. Kami segera memesan mie instan karena hanya itu yang tersisa. Tri Septi dan Vita membantu memasak mie instan itu di dapur pemilik warung agar cepat bisa disajikan. Karena saat itu yang kami inginkan hanya makan, makan dan makan. Sudah menjadi buas karena kelaparan. Beberapa makanan kecil yang ada seperti roti pun sudah dilahap habis oleh teman-teman.

Halaman ibu pemilik warung yang kecil ternyata tidak dapat menampung kami semua. Untungnya ada sebuah halaman Sekolah Dasar yang cukup untuk membuat kami rebahan istirahat. Sebagian personil beristirahat di sana. Sebagian lagi di rumah ibu pemilik warung. Sepertinya rumah ibu pemilik warung itu telah kami kudeta tanpa pertumpahan darah. Hehe. Setelah mie instan siap, kami makan seperti orang kesetanan. Tak peduli, yang penting makan karena perut keroncongan dari pagi hingga pagi kembali. Bayangkan hampir 24 jam tak terisi dan tubuh diginakan untuk berjalan dan mendaki gunung. Betapa habisnya energi kami.

Kami tak sempat berbincang lama. Setelah makan kami sholat Subuh dan akhirnya langsung tertidur saking ngantuknya. Kami tumbang di medan manapun yang terpenting tidur. Melani yang semula sudah pucat dan lemah tidur di Shofa pemilik warung. Sedangkan kami tidur di lantai. Sudah seperti korban perang.

Esok harinya aku terbangun oleh suara Randhy. Katanya mobil sudah siap. “Jam 8 euy, mobil sudah siap. Pada mau berangkat gak?”

Aku yang masih sangat kantuk itu mendengar suaranya sayup-sayup. Hingga kuberanjak berdiri. Bersih-bersih, menjemur kaos kaki dan sepatu yang basah oleh lumpur. Si ibu pemilik warung ternyata sedang memasak nasi, bakso bogor, dan makanan seperti gado-gado. Langsung saja kami serbu untuk mengisi perut lagi. Amunisi untuk kembali ke Cidahu. Lumayan lama kami menghabiskan waktu di rumah ibu itu. Bercerita tentang pengalaman kami semalam. Ada yang berdebat jumlah rombongan kami ada berapa. Ada yang bilang 19, 20, 21.

Fadli ngotot, “Pas di Pos 3 gw ngitung kepala kalian ada 19 orang”

“Iya aku juga ngitung kalian bolak-balik ada 19 orang”, kata Agung.

“Lah aku juga menghitung pas di perjalanan ada 20 atau 21. Yang benar yang mana ya?”, kata Oci.

Perdebatan ini muncul karena saat awal pendakian kami tidak menghitung jumlah pastinya. Beberapa orang mundur dalam pendakian ini. Kami hanya menghafal nama saja dan wajahnya. Agung, Oci dan Fadli juga tak menghitung berapa jumlah pastinya. Setelah kami hitung saat makan-makan ternyata jumlah kami ada 18 orang. Terus sisa orang yang mereka hitung siapa? Kami hanya bisa bertanya-tanya dalam hati. Entahlah.

Tak terasa hampir mendekati pukul 11.00 WIB kami berbincang-bincang. Si Melani juga sudah tampak Fit. Teman-teman yang awalnya ngedrop dan gejala Hypo juga sudah terlihat bugar. Bang Pepeng dan Bang Anton sudah siap menjadi Wiro Sableng lagi. Malahan Randhy yang sempat masuk angin dan muntah-muntah lah yang semangat membangunkan tidur kami pagi tadi.

Akhirnya kami menyewa sebuah pick up untuk kembali ke Cidahu. Karena tenda kami masih ada di Simpang Bajuri, Jalur Cidahu. Mau gak mau kami harus kembali ke sana. Memulai lagi awal pendakian. Capek sih, tapi apa boleh buat? Nikmati saja. Dari sini Gunung Salak terlihat jelas. “Inikah yang kulewatin semalam?”, batinku. Vegetasinya masih sangat lebat. Gunung Salak nampak gagah di lihat dari lerengnya.

Pick up melaju menuju cidahu. Kami harus melewati teriknya matahari di jalanan Sukabumi. Macet di kotanya. Tak ada bedanya seperti Jakarta. Panas, hingga kami harus mengeluarkan payung dan apa saja yang bisa menutupi kepala kami agar tak terkena panasnya matahari. Bahkan di saat kondisi seperti itu beberapa dari kami sempat tidur. Salah satunya adalah aku. Kok bisa ya? Hahahaha.

 

Rombongan Rambut Gondrong

fpi

Jam menunjukkan pukul 13.10 WIB. Hingga akhirnya kami sampai di pertigaan sebelum menuju kawasan Taman Nasional Halimun-Salak. Di sana pick up berhenti. Kulihat ada banyak sekali manusia berjubah, berambut gondrong dan memakai peci. Agar bisa lewat kami harus bisa melewati portal penjagaan mereka yang dibangun swadaya. Terjadi perdebatan panjang antara kami dan mereka. Mereka tak mengizinkan kami masuk karena kami membawa rombongan wanita. Mereka beranggapan bahwa laki-laki dan wanita yang bukan suami istri dilarang masuk kawasan itu. Bahkan kami lihat di pinggiran jalan banyak muda-mudi yanga terpaksa berhenti. Memutuskan balik badan tak jadi melanjutkan perjalanan.

Perwakilan dari mereka mengatakan bahwa kebanyakan muda-mudi di sini melakukan tindakan mesum saat berada di kawasan kaki gunung Salak. Dengan nada keras mengancam-ancam kami, kami tidak boleh masuk. Selain itu kabar sterilisasi bakteri Sukhoi juga menjadi alasan mereka agar tidak masuk kalau tidak mau tertular. Saat ini memang ada pemindahan bangkai Sukhoi oleh warga yang sudah divaksin. Padahal kami harus masuk karena tenda dan logistik masih di atas. Diskusi semakin memanas. Hampir sejam kami berdiskusi dan menawarkan win-win solution.

Dealnya, kami bisa masuk asalkan para wanita tidak ikut masuk. Rombongan wanita akhirnya kami titipkan di Pesantren Putri milik santri-santri berambut gondrong itu sementara kami ke atas untuk mengambil tenda dan logistik. Menurut informasi wanita bisa masuk jika ada pendakian massal minimal jumalah wanita 50 orang. Sedangkan kami hanya membawa rombongan wanita sebanyak 4 orang. Akhirnya kami meninggalkan para wanita di pesantren putri milik Aang (sebutan untuk kyai di daerah sana). Yang meluncur ke atas adalah rombongan cowok.

Kami tiba di pos penjagaan awal kami mendaki pagi dini hari kemaren pada pukul 14.05 WIB. Tanpa basa-basi kami langsung mendaki kembali. Benar-benar nih, melakukan pendakian naik-turun-naik lagi dalam waktu 2 hari secara berturut-turut rasanya wow sekali. Cuaca juga mendukung, sangat cerah. Karena kami tak membawa beban, hanya daypack saja, kami bisa cepat sampai Simpang Bajuri tempat kami mendirikan tenda dan menaruh semua logistik. Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Satu jam perjalanan kami gunakan untuk ke Simpang.

Topan yang sudah tiba terlebih dahulu masak air untuk membuat kopi dan jahe sekedar menghangatkan badan. Nday membuat Pop Mie untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Beberapa teman yang lain mulai beres-beres dan membersihkan peralatan. Aku dan Agung segera melaksanakan sholat jamak qoshor Dhuhur ma’al Ashar. Tak lama setelah itu mendung dan kabut mulai turun. Cuaca sangat gelap sekali. Padahal jam segini di puncak kemaren sangat cerah dan terang. Rintik hujan dan akhirnya menjadi sangat deras. Deras sekali hingga akhirnya kami berteduh di tenda Randhy yang belum dirobohkan. Barang-barang yang sudah siap kami masukkan ke sini.

Hujan masih mengguyur gunung Salak. Sepertinya kami percuma menunggu hujan reda karena hujan akan sangat lama. Terlihat dari mendungnya di sekitar Simpang seperti mendungnya hatiku. #eaaaaa. Bang Anton merampok Pop Mie milik Nday karena juga sudah lapar. Bercerita tentang cita-citanya ke puncak Salak 2, gunung yang kami lihat saat di puncak Salak 1 kemarin.

“Kalian sudah ganteng kalau sudah sampai puncak Salak 1. Lebih ganteng lagi kalau kalian naik puncak Salak 2”, kata Bang Anton.

“Kapan-kapan ke Ciremai yuk. Kalau sudah naik Salak terus ke Ciremai Insya Allah mah udah lulus ujian”, tambahnya lagi.

Aku hanya bisa tersenyum saja mendengarnya. ‘’Jangan-jangan ini orang akan jadi Wiro Sableng lagi nanti di Salak 2 dan Ciremai”, batinku. Setahuku memang Salak ada 7 puncak, berdasarkan cerita kakeknya Very. Namun yang sering didaki orang hanya Salak 1 dan Salak 2. Salak 3 hingga Salak 7 jarang ada pendakian ke sana. Entahlah.

 

Jalur Pendakian Berubah Menjadi Sungai

Pukul 17.35 WIB kami memutuskan untuk bergerak karena hujan tak kunjung berhenti. Percuma lama di sini nanti kami terlambat turun. Bisa-bisa malam sampe bawah. Dua puluh menit yang lalu Agung, Topan dan Very sudah pamit turun dahulu karena sudah siap untuk turun. Sedangkan aku yang sempat tertidur di tenda mendengar cerita Bang Topan masih berantakan packingnya karena hujan. Hingga akhirnya setelah siap, aku dan risto berjalan beriringan. Mengejar Agung dan kawan-kawan yang sudah turun terlebih dahulu.

Hujan masih sangat deras. Jalan-jalan menjadi licin. Jalur pendakian berubah menjadi sungai dan cukup merepotkan kami untuk melewatinya. Sempat ragu juga, apakah benar ini jalan pendakian tadi? Karena memang aliran airnya sangat deras. Seperti berjalan di atas sungai kecil. Berkali-kali aku terjatuh karena salah ambil pijakan. Tak peduli lagi sepatu basah atau kemasukan pacet di setiap jalannya. Yang penting kami bergerak dan cepat sampai bawah. Sungai dadakan ini sempat mengecoh kami karena sebelah kanan masih jurang curam. Hampir saja kalau tak hati-hati aku yang ada di depan Risto masuk jurang. Masya Allah.

Hingga pada HM 9 aku berhasil menyusul rombongan Agung. Agung terlihat kesulitan Trash Bag yang dipenuhi sampah. Sementara dia membetulkan bawaannya aku melewati dia untuk menerangi jalan di depannya. Hujan deras membuat suasana semakin mencekam. Kami sudah tak bisa memilih jalan karena semuanya sudah dialiri air. Ada yang sampai dia atas mata kaki. Kami harus berhati-hati karena medan menjadi licin. Hingga akhirnya kulihat dua warna merah berbentuk bulat di kejauhan. Yang tak lain adalah lampu sen truk yang sudah menunggu kami. Alhamdulilah sudah melewati gerbang pos penjagaan.

Karena aku sampai duluan kutunggu mereka beberapa deti di depan Pos Jaga sampai akhirnya kudengar suara “Braaaaaak !” Agung terjatuh. Agung terperosok lubang sedalam pinggang orang dewasa. Ternyata hujan telah merusak medan menjadi sebuah lubang. Untungnya dia tidak apa-apa. Kami yang telah sampai terlebih dahulu menunggu yang lain turun di bangunan bambu seperti warung dekat truk berhenti. Sambil mengganti baju yang telah basah oleh hujan. Waktu menunjukkan pukul 18.31 WIB. Kucoba kunyalakan HP dengan powerbank untuk mengetahui kondisi para cewek yang ditampung di Pesantren santri gondrong tadi. Ku SMS, terkirim namun tidak pernah dibalas.

Pukul 19.00 WIB satu persatu teman-teman sudah sampai di Truk. Tanpa pikir panjang segera diangkatnya semua bawaan ke atas Truk agar segera menuju ke bawah menjemput rombongan cewek kami yang ditempatkan sementara di pesantren. Setelah sampai di pesantren wajah-wajah cewek sedikit ketakutan.

“Hayuk kita tinggalkan saja segera pesantren ini”, kata Oci.

Awalnya kami berencana ingin bersih-bersih di pesantren namun kami urungkan karena kondisi sudah tak memungkinkan. Kondisi pesantren tidak mendukung kami untuk berlama-lama di sini.

 

Tragedi Pesantren

Cerita dari para cewek yang hampir 5 jam di sana, mereka ketakutan dengan perlakuan para santri. Dari cerita mereka, ada muda-mudi yang dicegat dan tidak boleh masuk kawasan TNHS. Tapi mereka menantang sehingga harus disidang di hadapan Aang di sebuah ruangan yang dipenuhi para santri. Keempat Cewek rombongan kami, Oci, Melani, Tri dan Vita disuruh duduk di sebuah ruangan aula untuk sidang tadi.

“Ini contoh buat kalian berdua. Mereka disuruh gak ke atas nurut. Mereka turun dan berhenti di sini. Tadi mereka juga sama rombongan cowok. Kalau kalian nurut yan gak kami apa-apain”, kata salah seorang santri sambil menunjuk kepada pasangan muda-mudi yang berpacaran itu.

“Eh kamu jangan melotot ya”, tambah santri lagi kepada cewek yang disidang.

“Lah emang mata saya begini, mau diapa?”, kata cewek itu.

“Eh eh eh. Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya terus bisa seenaknya di sini. Apa perlu kami hadapkan kalian sama Aang langsung?”

“Allahu Akbar ! Allahu Akbar ! Allahu Akbar !”, teriakan para santri yang membahana memenuhi isi aula.

“Sudah hukum saja kang orang kayak gitu. Gak pantas diampuni”, kata santri yang masih remaja.

“Iya kang hukum saja. Biar tahu rasa. Gak diulangi lagi”, tambah santri yang lain.

Sementara rombongan cewek dari kami hanya terdiam. Meski mereka dijadikan contoh sebagai penurut aturan tetap saja mereka ketakutan. Baru kali ini mereka disidang seperti ditengah orang-orang FPI yang terkenal keras membela agama. Terlebih santri-santri itu berambut gondrong sehingga menambah aroma keganasan mereka.

Aku yang mendengarkan cerita Vita saat di pesantren setengah dengar setengah tidak. Selain karena kedinginan karena bajuku basah, sepatuku yang sudah basah ini sulit untuk dilepas. Karena terhalang kaki teman-teman. Kalau tidak kulepas 2 jam seperti ini bisa-bisa aku masuk angin. Ini saja kepala sudah agak pusing setelah hujan-hujanan tanpa memakai jas hujan. Tak berapa lama teman-teman akhirnya tumbang juga. Mereka terlelap dalam dunia mimpi. Sedangkan aku masih sibuk mengurusi pacet yang menempel di tanganku sebelah kanan. Perasaan tadi sampai bawah gak kena pacet nah ini tiba-tiba langsung ada pacet di tangan. Aneh.

Sesampai di seberang Stasiun Bogor waktu menunjukkan Pukul 22.35 WIB. Sepertinya tidak ada lagi jadwal commuter line menuju Jakarta. Teman-teman yang besok berangkat kerja sudah tak sabar ingin segera pulang. Melani besok masih masuk sekolah. Sehingga rombongan terpecah menjadi 2 bagian. Yang satu langsung pulang menggunakan transportasi seadanya meskipun harus putus nyambung, sedangkan yang satu lagi menunggu commuter line besok paginya.

Aku, Bang Anton, Bang Adi, Bang Pepeng, Hafid, Nday, Dimas dan Risto rela menginap di pelataran Ruko dekat KFC seberang Stasiun Bogor. Untungnya setelah izin kepada Satpam kami diperbolehkan untuk menggunakan pelataran itu untuk tidur. Dan lagi Satpam Ruko itu memperbolehkan kami menggunakan kamar mandi untuk bersih-bersih dan ganti baju. Setelah sholat berjamaah Maghrib ma’al Isya’ bersama Dimas di pelataran toko itu, aku baru benar-benar bisa memejamkan mata pukul hari Senin 01.00 WIB.

Alhamdulilah Ya Allah. Tak terjadi apa-apa pada rombongan kami. Terima kasih ya Allah telah memberikan pikiran jernih kepada kami, engkau tunjukkan pada kami pilihan-pilihan yang tepat dalam mengambil keputusan. Sehingga meskipun telah terjadi banyak hal yang seharusnya ada evakuasi, kami lalui itu semua dengan kekuatan darimu. Syukurku kepadamu atas segala karuniamu. Hamba hanyalah orang yang lemah yang sangat membutuhkan kekuatan dan petunjukmu. Terima kasih ya Allah.

 

“Alam bukan untuk ditakhlukkan, tapi kita yang harus bisa menakhlukkan ketakutan, kengerian, kegamangan untuk mempelajari sifat-sifat alam.” (Norman Edwin)-

 

 

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi

Penulis Antologi Puisi ”Gadis Bergaun Bidadari” dan Novel Tetralogi “Sebatang Alif”

This entry was posted in Catatan Perjalanan. Bookmark the permalink.

5 Responses to (Catatan Perjalanan) Ekspedisi Sukhoi, Membelah Gunung Salak Cidahu-Cimelati

  1. iwan eko s says:

    terima kasih, atas catatan nya. lusa kami akan mencoba ikut menikmati alam yang ada ada di gunung salak tersebut. semua catatan yang anda buat membuat kami lebih awas dan aware mengenai perlengkapan kami. sebuah catatan yang saya anggap luar biasa membantu. thanks

  2. malvin says:

    Seru banget cerita nya bang, sampai kebawa suasana…!!! Kalo ada waktu nyobain ke gn salak 2, hubungi saya aja, saya dan tim siap antar sampai atas, inshaa allah.

    Malvin
    085218244949

  3. Pingback: Rere

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>