Teka-Teki Sondang

 

 

Kini kita hanya bisa menebak dan menerka aksi Sondang yang masih misterius dan menjadi teka-teki. Paling tidak aksi Sondang bisa dijadikan sejarah yang menyisakan pertanyaan besar dan meninggalkan spekulasi hingga sekarang.

 

Masih ingat dengan Sondang Hutagalung? Mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK) yang membakar diri di depan Istana Negara Jakarta. Peristiwa yang sempat membuat heboh media tanah air akhir tahun lalu itu kini tak ada kabarnya lagi. Berita tentangnya tertutup oleh berita-berita panas yang tak kalah menariknya jika ditilik dari sisi politik dan komersial. Cerita Sondang sudah habis bersamaan dengan kontroversi kematiannya.

 

Kematian Sondang masih menyisakan misteri dan teka-teki. Beberapa media menyebut, kematian Sondang mirip dengan peristiwa revolusi melati ketika presiden Tunisia, Zine El-Abidine Ben Ali digulingkan. Presiden yang berkuasa selama 23 tahun itu harus dipaksa untuk lengser dari kursi panas. Sebelumnya seorang pedagang di Tunisia, Mohammad Bouazizi, melakukan aksi bakar diri karena lapak untuk berdagang buahnya dibongkar paksa oleh keamanan setempat. Bouazizi yang sebelumnya menganggur dan mencoba berdagang namun dirusak oleh aparat kemudian mengadu ke balai kota. Tetapi pengaduannya tidak ditanggapi oleh pemerintah setempat. Sehingga dia nekat membeli dua botol bensin dan membakar diri di depan gedung Gubernur. Aksi Bouazizi ini memicu reaksi publik Tunisia yang merasa peduli dengan perjuangan Bouzizi meskipun pada akhirnya Bouazizi sendiri meninggal setelah aksi bakar dirinya. Rakyat Tunisia melakukan demonstrasi besar-besaran yang disebut Revolusi Melati sehingga menyulut perubahan di negaranya. Sampai akhirnya presiden Tunisia, Ben Ali, dilengserkan jabatannya sebagai kepala pemerintahan.

 

Secara gamblang, media di Israel menyebut kematian sondang adalah rentetan dari revolusi Melati seperti di Tunisia. Media-media tanah air juga mengendus kemungkinan tersebut namun tak sebesar hembusan media asing. Hal ini dikarenakan kondisi politik tanah air saat awal desember tahun lalu masih stabil. Beberapa media mencoba mengarahkan kemiripan bakar diri Sondang untuk meniru revolusi Melati di Tunisia agar revolusi tersebut merembet ke Indonesia. Namun pihak Istana dengan tanggap menangkap peristiwa itu sebagai sesuatu potensi yang menyulut stabilitas keamanan. Pihak Istana menganggap aksi nekat Sondang bisa menginspirasi rakyat Indonesia untuk melakukan hal serupa seperti yang terjadi di Tunisia.

 

Entah disengaja atau tidak, ketika sehari setelah Sondang membakar diri, beberapa aktifis HAM berdemonstrasi. Aktifis yang menamakan dirinya BENDERA menuntut keadilan HAM atas pembakaran diri Sondang. Sondang adalah aktifis pejuang HAM Munir yang tergabung dalam Kontras. Dan munculnya aksi demonstrasi ini dicurigai sebagai sekenario untuk melakukan revolusi Melati seperti yang terjadi di Tunisia. Sondang hanyalah umpan sedangkan perjuangan setelah Sondang akan diteruskan oleh penggiat HAM lainnya. Saat itu beberapa hari setelah Sondang membakar diri, Sondang belum bisa dikenali karena dia tidak membawa identitas apapun. Tapi mengapa para penggiat HAM muncul setelah Sondang membakar diri?

 

Meskipun memang benar jika ada skenario mengarahkan iklim politik agar mirip Bouazizi yang terjadi di Tunisia, pihak Istana lebih dahulu membungkam kemungkinan tersebut. Dan lagi-lagi disengaja atau tidak beberapa hari kemudian muncul berita yang tidak kalah heboh yaitu tertangkapnya Nunun Nurbaeti di Thailand. Tersangka kasus pengedar cek pelawat pejabat Gubernur BI Miranda Goeltoem itu tiba-tiba menutupi berita Sondang yang beberapa hari sebelum Nunun tertangkap selalu menghiasi layar kaca. Dan sejak Nunun tertangkap berangsur-angsur berita tentang Sondang dilahap waktu seiring dengan kematiannya. Aksi bakar diri Sondang dianggap biasa saja dan hanya dianggap sebagai angin lalu.

 

Sondang dan Bouazizi memang berbeda. Bouazizi melakukan aksi bakar diri karena dia didzalimi oleh pemerintah Tunisia. Sedangkan Sondang? Bakar dirinya tidak jelas motifnya. Walaupun belakangan setelah Sondang diketahui identitasnya sebagai aktifis HAM tetapi motif bakar dirinya masih abu-abu. Dan hal inilah yang memunculkan spekulasi aksi Sondang Hutagalung oleh berbagai pihak. Aksi Sondang heroik atau sebuah kekonyolan belaka?

 

Terlepas dari spekulasi yang beredar, jika saja tidak ada faktor Nunun Nurbaeti bisa jadi publik digiring untuk memberikan simpati berlebih kepada Sondang sehingga memunculkan celah untuk mengkudeta pemerintahan seperti di Tunisia. Tapi hal itu tak terjadi. Apakah penangkapan Nunun Nurbaeti juga di skenario setelah adanya kasus Sondang? Bisa jadi iya bisa jadi tidak. Tergantung dari sisi manakah kita memandang masalah ini.

 

Yang jelas misi dari kelompok-kelompok yang ingin menggulingkan pemerintahan gagal. Para brutus itu kurang bisa memahami situsi politik Indonesia yang mengakar. Jika benar mereka ingin menggulingkan SBY dengan memberi umpan Sondang untuk di blow-up media agar bisa serupa Revolusi Melati di Tunisia, Brutus-brutus itu tidak punya kekuatan lebih untuk menumbangkan rezim sat ini. Paling tidak aksinya telah dibungkam terlebih dahulu. Pihak Istana juga cerdas memahami situasi saat itu. Selain ada perhatian khusus dari Istana terhadap Sondang yang terluka bakar 98% kasus Nunun dimanfaatkan untuk menutup semua celah terjadinya chaos. Ketika media mengangkat kasus Nunun besar-besaran, agenda para brutus itu menjadi kacau dan kembali merayap bawah tanah.

 

Sondang memang aktifis, muda, enerjik dan idealis. Dengan kondisi seperti itu gampang sekali dimanfaatkan oleh orang-orang yang menginginkan idealisnya untuk kepentingan kelompok-kelompok tertentu. Apakah Sondang ditunggangi atau melakukan aksinya sendirian publik masih bertanya-tanya. Kasus Sondang sampai saat ini seperti dikubur hidup-hidup mengingat pihak Istana sangat mewaspadai ancaman-ancaman yang akan mengganggu pemerintahan yang sah. Kini kita hanya bisa menebak dan menerka aksi Sondang yang masih misterius dan menjadi teka-teki. Paling tidak aksi Sondang bisa dijadikan sejarah yang menyisakan pertanyaan besar dan meninggalkan spekulasi hingga sekarang.

 

#Rawatengah-Gedung Angkuh, 31012012

pict

This entry was posted in Sentuhan Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>