Kyai Sontoloyo 3

 

Desas-desus yang beredar Kyai Sontoloyo mempunyai ilmu langit. Hal ini karena kepandaian beliau dalam ilmu agama. Bahkan ada yang bilang Kyai Sontoloyo adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijaga

 

Sebenarnya tidak ada yang special dari sosok Kyai Usman alias Kyai Sontoloyo. Kyai Sontoloyo adalah adik dari Bu Nyai Ali, istri dari Kyai Ali. Hanya saja dari sisi jabatannya sebagai lurah pondok, pak kyai mempunyai tanggung jawab dalam keamanan dan manajemen pondok. Hal apapun terkait administrasi dan seluk beluk pondok pesantren selalu berhubungan dengan Kyai Sontoloyo. Sedangkan Kyai Ali tidak mengurusi teknis administrasinya. Kyai Ali tentu sebagai aktor utama dalam mengurus dan mengarahkan kebijakan sehingga visi dan misi pondok pesantren lebih berkembang seiring tuntutan zaman.

 

Meskipun Kyai Sontoloyo adalah lurah pondok dan adik sepupu dari Kyai Ali, beliau tidak pernah sok jaga image. Prinsipnya adalah apapun yang ingin dilakukan, ya lakukanlah. Asal tidak melanggar aturan pondok. Kyai sontoloyo tak pernah malu untuk berteriak dan bersorak-sorak ketika Gonzalo Higuain atau Karim Benzema menjebol gawang lawan. Sang kyai adalah Madridista alias fans berat Real Madrid. Terlebih saat-saat el-clasico pertandingan Madrid versus El-Barca. Tak pernah satu kali beliau melewatkannya. Pernah satu kali beliau absen nonton bareng di warung Cak Mat, warung pondok. Hal itu karena Kyai Sontoloyo harus menemani Kyai Ali pergi ke Madura untuk mengisi pengajian di daerah Pamekasan. Dan saat itu aku tidak mengikuti berita apakah Kyai Sontoloyo nonton pertandingan itu atau tidak.

 

Tapi anehnya, sepulang dari Pamekasan, semua pecandu bola di pondok pesantren tahu kalau Kyai Sontoloyo sedang murung. Bukan karena ada masalah besar yang disimpan, tapi karena Madrid kalah oleh seteru abadinya Barcelona. Yang jadi pertanyaan, bagaimana bisa beliau tahu Barcelona mengalahkan Real Madrid? Padahal Kyai Sontoloyo itu sangat gagap teknologi alias gaptek. Kalaupun mau update score di internet jelas saja beliau tidak bisa. Jangankan update score, memakai handphone saja dia tidak bisa cara melakukannya. Yang paling mungkin adalah nonton bola secara langsung. Tapi dimana? Lha wong pertandingan Real Madrid versus Barcelona digelar jam 2 dini hari. Sedangkan untuk perjalanan naik mobil Pamekasan-Kediri butuh waktu 5-7 jam. Dan rombongan pengajian Kyai Ali datang setelah sholat subuh. Artinya saat pertandingan el-clasico para kyai masih berada di jalan. Lalu bagaimana Kyai Sontoloyo bisa tahu hasil akhir pertandingan itu?

 

Hal inilah yang menjadi perbincangan di kalangan santri sampai sekarang. Desas-desus yang beredar Kyai Sontoloyo mempunyai ilmu langit. Hal ini karena kepandaian beliau dalam ilmu agama. Bahkan ada yang bilang Kyai Sontoloyo adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijaga. Orang yang bilang begitu adalah Cak Mat. Jelas saja Cak Mat berpikiran seperti itu sebagai orang awam. Dia menganggap Kyai Sontoloyo sama bengalnya dengan Sunan Kalijaga. Tingkah lakunya yang tidak wajar dan asal –asalan sebagai kyai dipersepsikan mirip tingkah laku Sunan Kalijaga sewaktu menjadi perampok. Meskipun Bengal dan mantan perampok, sunan Kalijaga menjadi waliyullah. Cak Mat pun tak mau kalah. Dia mempersamakan Kyai Sontoloyo yang juga Bengal mampu mengetahui update score Real Madrid-Barcelona tanpa melihat pertandingan. Dan tentunya sebagai orang penjaga warung pondok yang sudah lama di sana Cak Mat mengetahui seluk beluk pondok pesantren termasuk keistimewaan lain dari Kyai Sontoloyo.

 

Jelas menurutku pemikiran Cak Mat adalah pemikiran yang keblinger. Bagaimana mungkin dalam islam ada system reinkarnasi? Dalam islam hidup ya hidup. Hidup karena atas kuasa Allah. Tidak ada reinkarnasi. Tidak ada jiwa yang terlahir kembali karena manusia hanya diberi kesempatan di dunia hidup hanya sekali. Dan apa saja yang sudah dikerjakan di alam dunia akan dipertanggungjawabkan di alam akhirat. Meski sebelum ke alam akhirat harus melewati dulu alam kubur yang juga di tes oleh pertanyaan Munkar dan Nakir. Jika amalan di dunia buruk maka si mayit akan mendapat siksa kubur dan sebaliknya jika amal mayit ketika di dunia bagus maka akan mendapat nikmat kubur. Jadi jelas tidak ada reinkarnasi dari orang-orang terdahulu.

 

Sedangkan Cak Mat tetap kukuh kalau Kyai Sontoloyo itu adalah reinkarnasi Sunan Kalijaga. Meskipun berkali-kali diingatkan dan disindir oleh santri-santri senior atau ustad-ustad pondok yang mampir di warungnya, Cak Mat tetap tidak mempedulikan omongan orang-orang itu. Dia ngotot pendapat dan keyakinannya itu benar karena dia lebih lama tahu tentang Kyai Sontoloyo daripada santri-santri yang mondok di pondok pesantren. Jika diingatkan oleh santri atau ustad jawabnya selalu, “Mas, saya ini lebih lama tinggal di pondok daripada sampeyan. Saya tahu perilaku Kyai Sontoloyo. Saya tahu apa saja yang dikerjakannya kalau sholat. Kalau dzikir bagaimana, kalau puasa bagaimana, kalau memberi nasihat bagaimana. Saya tahu semua Mas. Saya tinggal disini bukan hanya menjual kopi saja. Saya juga mengamati pergerakan kyai, ustad maupun santri disini dari tahun ke tahun. Jadi keanehan dan keajaiban Kyai Sontoloyo saya tahu semuanya. Saya juga tahu masa kecilnya karena dulu dia juga mondok disini. Kalau gak percaya tanya saja Bu Lik Minah, istri saya. Meskipun saya bodoh pelajaran agama tapi saya masih bisa ngaji mas. Saya bisa membedakan mana ini mu’jizat orang, mana yang bukan. Dan saya yakin seyakin-yakinnya kalau Kyai Sontoloyo itu adalah titisan waliyullah. Reinkarnasi sunan Kalijaga. Luarnya saja kelihatan Bengal. Tapi ilmunya luar biasa. Sampeyan saja yang belum tahu.”

 

Dan karena keyakinan Cak Mat itulah beberapa santri terutama santri-santri yang masih terbilang baru ikut terpengaruh pemikiran konyol Cak Mat. Maka dari itu isu-isu reinkarnasi Sunan Kalijaga oleh Kyai Sontoloyo selalu menjadi isu terhangat dan terpelihara sampai sekarang. Bukan karena isu tentang Kyai Sontoloyo ini selalu diproklamirkan Cat Mat, tapi karena ulah santri-santri itu sendiri yang menjadi berubah setelah mendengar cerita Cak Mat. Mereka sering memperbincangkan keistimewaan Kayai Sontoloyo versi Cak Mat kepada teman sekamar atau teman ngaji dan sekolah. Dimana-mana santri di lingkungan pondok pesantren selalu memperbincangkan keunikan Kyai Sontoloyo. Bahkan kepopuleran Kyai Sontoloyo melebihi profil dari Kyai Ali sebagai pimpinan pondok pesantren. Orang-orang lebih suka bercerita seluk-beluk Kyai Sontoloyo sebagai lurah pondok yang jabatannya lebih rendah daripada Kyai Ali.

 

Apalagi Cak Mat, selalu menjadi fans setia Kyai Sontoloyo. Jika ditanya bagaimana dengan Kyai Ali? Hanya sedikit saja dia bisa menjelaskan. Selain Kyai Ali jarang di pondok pesantren untuk mengisi ceramah-ceramah pengajian di luar pondok, Kyai Ali juga bukan tipe orang seperti Kyai Sontoloyo. Kyai Ali lebih tawadlu’ dan tidak nyleneh seperti Kyai Sontoloyo. Kyai Ali lebih suka hal-hal formal layaknya Kyai-Kyai di Jawa yang suka ngaji kitab kuning, mengisi ceramah, mengimami sholat jamaah, sarungan, dan berkata secukupnya saja. Jadi tidak banyak yang bisa di korek dari keseharian Kyai Ali. Tidak ada yang unik, istilah dari Cak Mat. Hidupnya datar-datar saja, tidak menarik untuk dibahas.

 

Sebenarnya Cak Mat sendiri adalah anak dari pengasuh Kyai Ali di masa kecil. Ibu Cak Mat sudah lama mengurus Kyai Ali kecil. Jauh-jauh datang dari Sampang Madura ke Kediri hanya untuk memohon diri kepada Kyai Maksum, Ayah Kyai Ali, untuk menuntut ilmu di pondok pesantrennya. Berhubung ibu Cak Mat sangat setia kepada Kyai Ali, dia menawarkan diri mengurus putera-puteri Kyai Maksum, termasuk Kyai Ali salah satunya. Sampai tidak berapa lama kemudian, akhirnya ibu Cak Mat dilamar oleh penjual kopi di warung pesantren. Hingga kini warung kopi itu diturunkan kepada Cak Mat sebagai pengelolanya.

 

Meskipun sejak kecil berada di lingkungan keluarga Kyai, Cak Mat tetap saja tak bisa menguasai ilmu agama dengan cukup baik. Hal ini karena memang latar belakangnya yang malas-malasan ngaji sewaktu muda. Apalagi kalau sudah berurusan sama bola, pasti Cak Mat tak mau ketinggalan. Bahkan rela bolos ngaji secara sembunyi-sembunyi hanya untuk mengikuti turnamen dan nonton bola. Sejak kecil memang dia bandel dan keras kepala. Makanya sampai sekarang sifat keras kepalanya itu masih tetap menjadi sifat utamanya. Terbukti dengan keyakinannya yang dipegang kuat bahwa Kyai Sontoloyo adalah reinkarnasi dari Sunan Kalijaga. Diberitahu bagaimanapun tetap ngeyel. Teguh pendirian.

 

Pernah suatu saat dia menghembuskan isu Kyai Sontoloyo itu mempunyai darah keturunan dari Sahabat nabi yang keras wataknya, Umar bin Khatab. Isu itu sempat santer terdengar hingga ke luar pondok. Beberapa warga masyarakat dari luar desa pun sempat heboh kala itu. Cerita dari mulut ke mulut yang dihembuskan Cak Mat pertama kali ditangkap membabi buta oleh warga masyarakat yang percaya begitu saja. Cak Mat ini memang sosok yang unik. Istilah populer sekarang dikenal dengan lebay. Melebih-lebihkan sesuatu perkara yang sebenarnya sepele dan belum diketahui benar tidaknya. Dan parahnya masyarakat mempercayai begitu saja pernyataan-pernyataan yang keluar dari mulut Cak Mat. Penduduk di sekitar pondok pesantren memang mengenal Cak Mat dekat dengan keluarga pondok. Oleh karena itulah penduduk mengira Cak Mat masih ada darah keluarga pondok. Padahal kedekatan Cak Mat dengan keluarga pondok tidak ada hubungan darah, hanya ibu Cak Mat pernah mengasuh keluarga Kyai Ali.

 

Cak Mat paling tidak terima kalau Kyai Sontoloyo disebut-sebut sebagai Kyai blangsakan alias tidak ada potongan kyai, oleh santri baru yang baru seminggu masuk pondok. Kupingnya akan panas kalau mendengar hal-hal negatif terkait sepak terjang Kyai Sontoloyo. Bahkan omongan Munif dan John alias Parjono yang nongkrong di warungnya Cak Mat.

 

“Mosok sih kang Kyai model kayak Kyai Usman itu punya potongan kyai? Lha wong tingkah lakunya kayak mantan Napi gitu. Blangsakan nggak kayak kyai pada umumnya”, ujar Munif, santri baru yang baru masuk seminggu di pondok pesantren saat ngopi di warungnya Cak Mat.

 

“Lha aku baru masuk 3 hari saja sudah dipisuhi. Jancuk! Sontoloyo tenan kowe. Siapa yang gak sakit dikatain kayak gitu? Sama kyai pisan. Kyai Usman yang katanya punya ilmu laduni itu”, tambah Munif dengan muka kesal.

 

“Kowe isih enak mung dipisuhi. Lha aku? Baru dua jam setelah bapakku pulang dari pondok aku disuruh ngepel Masjid. Bayangkan Masjid yang luasnya 3 kali lapangan bola itu kudu selesai dipel sebelum Maghrib. Padahal nyuruhnya Bakda Ashar. Sendirian lagi. Apa nggak copot semua tulang-tulangku pas Maghriban?”, kata Parjono yang biasa dipanggil John itu.

 

“Loh emange kowe salah opo John? Sampai segitunya kyai Sontoloyo menghukummu kayak begitu?

 

“Haha. Kalau diingat-ingat aku jadi kelihatan bego. Memang aku yang salah. Aku yang lugu dan cupu. Datang dari lereng gunung Budheg daerah Boyolangu Tulungagung, gak tahu apa-apa tentang suci dan najis.”

 

John kemudian menyeruput kopi yang mulai dingin itu. Sesekali memain-mainkan ampas kopi dengan sendok dan menaruhnya di tatakan gelas. John mulai mengeluarkan sebuah kotak dari gulungan sarung yang menggumpal dibagian perutnya. Sebatang rokok dikeluarkannya dari kotak itu dan dia menyulut api dengan korek yang sedari tadi sudah tergeletak di samping gelas kopi. Kepul asap di warung kopi Cak Mat mulai bertambah dengan asap yang dikeluarkan rokok John. Menambah suasana semarak kepungan asap rokok seperti layaknya membakar dupa. Mengepul dan berputar-putar dibawah langit-langit warung yang terbuat dari anyaman bambu itu.

 

“Najise kepriye John? Kowe nguyuh nang masjid?”, Tanya munif penasaran.

 

“Ora”

 

“Lha terus ngopo kok bisa sampai ngepel seluruh bagian Masjid?”

 

“Asline simple banget masalahe. Tapi kyai usman menganggap apa yang kulakukan adalah masalah besar”

 

“Lha yo opo? Ditakoni kok panggah mbulet ae to kowe?” Munif kesal dengan pernyataan John yang berputar-putar tak tepat sasaran.

 

“Sabar to Mun. Kowe iki kok ora sabaran banget”, ucap John sambil menghisap rokoknya sampai berbunyi kretek-kretek di bara api ujungnya itu.

 

“Sakjane ngene ceritane Mun. Sakdurunge Ashar daripada setelah masuk pondok nggak ngapa-ngapain, aku nyapu-nyapu Masjid. Nyapu masjid sampai muter-muter bagian masjid. Nah terus jeda Ashar. Bubar Ashar aku kebelet pipis. Nah berhubung aku nggak ngerti najis pas jaman semono, air kencing nggak kusiram. Pokoknya asal kencing aja. Udah selesai ya udah. Langsung aku balik ke masjid dengan telapak kaki yang masih basah. Entah itu basah karena air kencing atau lantai kamar mandi yang selalu basah. Hahaha”

 

“Lha terus opo hubungane dengan ngepel masjid?”

 

“Nah lucunya di sini. Plus menunjukkan kebegoanku soal agama. Setelah jamaah Sholat Ashar bubar, aku masuk masjid. Berhubung tadi kerjaan nyapuku belum beres ya tak lanjutkan sampai ke pojok-pojok masjid. Terus Kyai Sontoloyo menghampiriku di dalam masjid”, kata John sambil menyentil rokok untuk membuang abunya yang sudah hampir terjatuh itu.

“Terus Piye John ceritane?”, tanya Munif penasaran.

 

“Ya jelas Kyai Usman tanya ke aku gini”, John sambil menirukan perkataan Kyai Usman.

 

—————-

 

“Kamu santri baru ya?”, tanya Kyai Usman.

 

“Nggih Kyai”, jawab John.

 

“Tadi tak perhatikan kamu sehabis dari kamar mandi pergelangan kakimu nggak basah. Memangnya sudah disiram air kencingnya?”

 

“Mboten kyai. Lha wong tadi tempat ngambil airnya nggak ada. Ya nanti sehabis nyapu saya nyari tempat air untuk saya siram”, jawab John sopan dan halus.

 

“Terus sehabis itu kamu masuk masjid?”

 

“Nggih kyai. Nyapu saya sebelum Ashar tadi belum selesai. Tinggal yang bagian pojok-pojok saja”

 

“Sebelum nyapu masjid yang pertama kali tadi kamu juga kencing di kamar mandi itu?”

 

“Nggih kyai”, jawab John singkat.

 

“Ambil ember dan kain pel sekarang. Pel seluruh bagian-bagian masjid yang pernah kamu sapu. Tak tungguin. Pokoknya sampai suci”

 

“Loh kenapa harus di pel kyai. Lha kan sudah saya sa….”

 

“Kamu mau tahu kesalahanmu? Telapak kakimu yang basah sehabis kencing yang nggak disiram itu dan kamu gunakan jalan-jalan untuk menyapu ke seluruh bagian masjid, itu najis. Berarti kamu telah menodai masjid ini dengan najis yang kamu bawa dari kencingmu. Artinya lantai masjid ini jadi najis. Dan jamaah Sholat Ashar yang barusan bubar itu sholat di tempat yang najis. Kesimpulannya, sholat jamaah Ashar pondok pesantren tadi tidak sah dan kamu penyebabnya. Kamu harus menanggung semua dosa sholat jamaah yang tidak sah sendirian. Tapi sebelum itu hukuman buat kamu mengepel lantai seluruh bagian masjid sekarang. Sebelum Maghrib harus sudah selesai. Dan aku sendiri yang bakal mengawasimu ngepel lantai”

 

———————

“Hahaha, aku bener-bener nggak akan melupakan kejadian itu seumur hidup pokoknya. Konyol !”, John masih saja menghisap rokoknya dalam-dalam. Seperti beban hidupnya sirna kalau sudah terlampiaskan dengan rokok.

 

“Pantes saja John. Kyai Usman marah. Lha wong kamu ngacak-ngacak masjid dengan najis. Berarti beliau itu orangnya keras ya”, Munif menimpali.

 

“Namanya juga santri baru. Aku juga masih belum ngerti apa-apa tentang agama. Bapakku aja yang ngotot masukin aku ke pondok ini. Bahkan hanya karena hal sepele najis saja aku sudah merasakan semprotan Kyai Sontoloyo itu. Kyai yang benar-benar aneh”, ucap John sambil meneruskan profesi sebagai ahli hisab sebatang tembakau di mulutnya itu.

pict

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>