Kentut

 

Apa yang salah dengan negara ini? Kentut selalu berputar-putar di area pemerintahan. Mencederai sistem, mengobrak-abrik tatanan, menelanjangi aturan yang sudah dibuat dan menyalahgunakan wewenang sudah menjadi bagian siklus teratur untuk menjalankan roda birokrasi. Kentut adalah representasi sistem korup yang takut dengan mafia dan para brutus.

 

Kentut biasanya dicritakan negatif bagi orang-orang yang mencium baunya. Dihujat, dihina bahkan dianggap sebagai perbuatan rendahan yang pernah dilakukan dimuka bumi. Apalagi jika kentut itu bersuara. Pelakunya bisa jadi malu seandainya kentut itu dikeluarkan di muka umum dan didengar oleh seluruh orang yang ada di tempat itu. Akhirnya kentut yang dikambinghitamkan. Padahal tanpa kentut manusia bisa apa?

 

Orang kentut tidak perlu banyak akal atau orang yang cerdas. Justru malah dipertanyakan jika ada orang yang tidak bisa kentut. Habis operasi berapa juta? Hanya karena sebuah kentut orang rela merogoh gocek selangit. Kentut yang dianggapnya biasa dan keberadaannya dilupakan dan dicap streotip itu mampu membalas pola pikir sempit orang-orang yang merendahkannya. Kentut bisa merubah logika menjadi tidak logis. Maka sepantasnyalah kita harus mensyukurinya.

 

Kentut. Ibarat dalam sebuah pemerintahan seperti politisi-politisi yang tidak jujur dalam berpolitik. Ketika politisi itu mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan mereka dengan rakus memakan sendiri. Jika mendapat keburukan mereka membagi-bagi kepada teman-temannya sesama politisi. Begitulah kentut. Ketika seseorang kentut, hanya orang itu yang mendapat kelegaan. Sedangkan sisa kentut, bau dan rasanya, disebar kepada orang-orang disekitarnya.

 

Kentut bisa terjadi dimana saja. Dalam dunia pendidikan ketika biaya menjadi penghalang terbesar untuk menjadi orang cerdas, kentut bisa terjadi disana. Pendidikan yang pada dasarnya hak setiap warga negara terpaksa dikebiri oleh brutus dan mafia anggaran. Mereka yang mendapat uang hasil korupsi dari dana pendidikan APBN dan konsep pendidikan untuk rakyat hanya menjadi sebuah angan yang harus ditebus dengan uang setinggi langit. Sekali lagi pendidikan hanya dijadikan bancakan dan direndahkan seperti kentut.

 

Dalam eksekutif, kentut sangat jelas terlihat. Ketika para pemimpin negeri ini mengumbar janji-janji kampanye saat pemilihan umum. “Jika aku menjadi ini aku akan lakukan itu. Jika aku terpilih memimpin daerah ini aku akan memajukan semua hal-hal itu”, itulah beberapa janji-janji mereka saat mengumpulkan massa. Namun entah janji-janji itu dikemanakan saat mereka terpilih menjadi pemimpin. Mengucapkan janji ibarat berkata-kata biasa tanpa ada tendensi sanksi moral jika tak dilaksanakan. Lagi-lagi kentut yang dideklarasikan dalam setiap perjuangan pemimpin untuk meraup suara kursi eksekutif. Kentut sangat berkembang disini.

 

Bagaimana dengan yudikatif? Meskipun kebanyakan yang duduk dalam kursi yudikatif bukan politisi tetapi setiap keputusan para penguasa yudikatif mempunyai motif politis dan konflik kepentingan. Keputusan-keputusan yang dibuat hanya bersifat normatif tanpa mempedulikan keadilan di lapangan. Yang tersakiti semakin disakiti sedangkan orang-orang kaya dengan leluasa menggunakan uangnya untuk mengatur jalannya acara. Kentut pun semakin merajalela. Kentut yang semula dianggap hal yang tabu diangkat dan dipuja-puja dalam sistem yudikatif. Dan akhirnya ketegasan hukum hanya seperti kentut. Terlihat sehat di sisi aturan namun sakit dan bau dalam implementasinya.

 

Apa yang salah dengan negara ini? Kentut selalu berputar-putar di area pemerintahan. Mencederai sistem, mengobrak-abrik tatanan, menelanjangi aturan yang sudah dibuat dan menyalahgunakan wewenang sudah menjadi bagian siklus teratur untuk menjalankan roda birokrasi. Kentut adalah representasi sistem korup yang takut dengan mafia dan para brutus. Oknum itu telah menjelma menjadi penguasa bayangan yang menggerus kekuasaan pengauasa yang tidak taat hukum.

 

Kentut. Sistem yang sangat mencederai nurani rakyat. Ketika para pemimpin menikmati jabatannya masing-masing dan rakyat hanya menerima baunya yang tidak sedap. Pelanggaran etika sudah menjadi kebiasaan sehingga kentut bisa dilakukan dimana saja. Kata mereka, “Kentut kan hak kami, kenapa kalian protes?”.

 

#Gedung Angkuh, 17022012

pict

This entry was posted in Coretan Puisi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>