Dan Akupun Terjatuh, Dalam Keheningan Malam



Malam mulai menghitam saat senja tak menampakkan dirinya

Langit gelap mengiringi maghrib yang menggema

Suara adzan melumpuhkanku pelan-pelan

Dan akupun terjatuh, dalam keheningan malam

.

Rona merah di langit itu masih tersisa

Duhai cinta. Dimanakah engkau berada?

Apakah engkau berada di balik awan yang memerah itu?

Atau engkau malu menampakkan jati dirimu?

Aku tahu karena engkau tak cukup waktu mengatakan semua itu

Bahkan gelap pun dengan angkuh menguasai dirimu

Yang sebentar lagi berganti dengan malam kelam

.

Meski hari sudah gelap, aku masih sanggup menatap wajahmu

Di balik gunung, rembulan atau bahkan matahari

Aku masih bisa menemukanmu

Aku masih bisa merasakan hawa sejuk dalam tubuhmu

Yang menerangiku di saat aku kegelapan

Yang memberikanku kehangatan saat aku kedinginan

Yang membangkitkanku saat aku terjatuh

Dalam angkuhnya dunia

Aku masih bisa mencintaimu

.

Hai cinta. Tatkala malam tiba tak sedikitpun aku mengeluh

Karena dengan malam aku dapat memimpikanmu dalam tidurku

Mimpi kita

Mimpi yang menemukan kita berdua

Dalam sebuah melodi nada-nada

Meski engkau jauh aku mendengar suaramu yang indah

Malam tak menghalangiku untuk mencintaimu

Meski aku harus terjatuh

Dan jika malam sudang mulai hening

Tak ada suara selain apa saja yang engkau bisikkan

.

Cinta. Malam adalah anugerah

Malam adalah sebuah kasih sayang

Karena dalam keheningan malam aku masih menemukan cinta

Cinta yang selama ini merenggut pikiranku

Hingga tiap hari aku dipaksa terjatuh

.

#Di bawah cahaya rembulan Jakarta, 25022012

pict

This entry was posted in Coretan Puisi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Dan Akupun Terjatuh, Dalam Keheningan Malam

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>