Syahwat Politik vs Orgasme Parpol

 

Siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang jadi pecundang atau siapa yang secara legowo mengalah. Asal jangan menjadikan orgasme parpol itu menjadi suatu hal yang kebablasan

 

Semakin mendekati tahun 2014, beberapa partai politik tanah air mulai melakukan manuver-manuver untuk merebut hati rakyat. Tidak hanya itu saja, tokoh-tokoh nasional baik dari parpol maupun non parpol mendadak bermunculan di media sehingga menjadi bahan pembicaraan luas di masyarakat. Baik parpol maupun tokoh nasional sama-sama mempercantik diri agar citra yang beredar “pantas dipilih rakyat”. Itu semua demi melenggang mulus menghadapi pertarungan politik 2014. Persiapan sekitar dua tahun ini sangatlah menentukan masa depan pencitraan. Biar bagaimanapun, perlu melakukan pengenalan pada rakyat atau memperbaiki citra diri yang sudah melekat jelek agar pemilu periode mendatang bisa meraup suara dari mereka.

Wajar, jika partai politik di tanah air berlomba-lomba mempertontonkan keberhasilan kinerja, prestasi maupun pencitraan untuk meraih simpati publik. Meski terkesan dipaksakan, amunisi-amunisi pemenangan parpol itu sudah mulai dicicil mulai dari sekarang. Bahkan persiapan itu lebih dari mempromosikan parpol yakni memunculkan tokoh dari internal parpol untuk diangkat menjadi Capres atau Cawapres. Meskipun masih bersifat spekulasi dan malu-malu, tentunya pemunculan tokoh ini sekaligus menjajal popularitas dan elektabilitas tiap-tiap calon yang diangkat parpol apakah diterima public atau tidak. Sedangkan bagi partai-partai lain yang belum menentukan siapa calon yang akan didukungnya, masih meraba-raba untuk wait and see keputusannya.

Syahwat politik begitu kental menjelang pemilu 2014. Beragam manuver-manuver partai politik dan tokoh-tokohnya mulai bermunculan. Saling serang antar kader atau melakukan character assassination bukanlah hal yang tabu lagi. Pencitraan politik melalui media dengan menonjolkan kebaikan-kebaikan sang tokoh menjadi idola untuk menaikkan rating potensi terpilih. Semua itu dilakukan untuk memenuhi syahwat politik bagi tokoh partai.

Sesekali perlu kita meluangkan waktu melihat beberapa peristiwa di gedung kura-kura. Berbagai peristiwa terjadi di gedung dimana segala kebijakan negeri ini dipertaruhkan. Menariknya tak ada yang tidak terkait dengan politik. Memang gedung itu markas besar para politikus dari partai-partai yang lolos Parliamentary Threshold dari pemilu periode sebelumnya. Akan banyak cerita tentang tikah laku anggota DPR yang beraneka ragam. Dan itu semua dipenuhi intrik-intrik demi syahwat politik pribadi maupun golongan.

Menarik untuk disimak. Bagaimana kondisi kancah politik Indonesia di tahun-tahun sebelum Pemilu 2014 itu digelar. Peristiwa terombang-ambingnya nahkoda partai tengah yang sedang berkuasa Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, yang terlilit kasus Nazarudin, diangkatnya Hatta Rajasa sebagai capres dari PAN, pengukuhan Abu Rizal Bakrie sebagai capres dari Golkar atau munculnya tokoh-tokoh baru yang layak diperhitungkan seperti Dahlan Iskan (Menteri BUMN), Sri Mulyani Indrawati (World Bank), Mahfud MD (Ketua MK), serta Joko Widodo (Walikota Solo). Belum lagi beberapa manuver dari partai oposisi Gerindra yang masih mengangkat wajah lama Prabowo sebagai ikon. Hanura dengan Wiranto, Megawati yang identik dengan PDI Perjuangan dan tak kalah menariknya dengan sikap politik PKS sebagai partai yang masuk dalam koalisi pemerintah namun bertingkah bak oposisi. Ancaman baru dari partai baru yang tengah menyusun kekuatan politis maupun media, Nasional Demokrat (Nasdem), yang dipelopori oleh Surya Paloh yang juga kita ketahui sebagai mantan petinggi Golkar. Warna-warni politik menuju 2014 sudah semakin nyata. Terlebih SBY yang juga Ketua Dewan Penasihat Partai Demokrat tak akan maju dalam pemilihan mendatang.

Syahwat politik yang muncul belakangan ini tak bisa dilepaskan dari orgasme parpol untuk meraih kemenangan di tahun 2014. Partai politik di tanah air begitu “ngebet” untuk bersaing meraih kemenangan. Target pun sudah dirancang tiap-tiap partai agar bisa menggolkan tujuan politik mereka di 2014. Syahwat politik partai politik yang semula malu-malu dan masih abu-abu itu kini berubah menjadi orgasme yang menjadi-jadi dan menggairahkan untuk melakukan manuver-manuver politik di kancah nasional. Bukan berarti di tahun-tahun ini parpol itu mengeluarkan semua jurus-jurusnya, tetapi paling tidak sudah ada kejelasan politik dari tiap-tiap partai untuk menggairahkan suasana politik.

Kita tak pernah tahu hasil dari syahwat politik parpol yang sedikit berubah menjadi orgasme itu. Paling tidak kita hanya bisa menebak dari kebiasaan selama ini atau dari survei-survei nasional terkait elektabilitas. Siapa yang menang, siapa yang kalah, siapa yang jadi pecundang atau siapa yang secara legowo mengalah. Asal jangan menjadikan orgasme parpol itu menjadi suatu hal yang kebablasan.

#Gedung Angkuh, 19012012    
gambar

This entry was posted in Sentuhan Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>