Sayang, mengertilah. Kehidupan ini tak lebih dari sekumpulan definisi yang rumit

 

 

Dia sadar memilih sebuah keputusan yang salah. Dia salah, keputusannya untuk tidak memilih Universitas Indonesia akan membuang peluang untuk menjadi orang besar. Menjadi orang yang disegani diantara orang-orang yang berkata, “Kamu calon pemimpin bangsa. Kamu bisa memperoleh segalanya dengan ijazah atau gelar sarjana yang ada di dada

 

 

Live is choice. Sama halnya saat kita menjatuhkan pilihan kepada salah satu hal, baik dan buruk akibatnya harus diterima lapang dada. Ketika seseorang lebih memilih hidup sederhana dibandingkan dengan gaya bermewah-mewahan adakalanya berbagai ucapan berlalu lalang ditelinganya. Dan semua itu tergantung kedewasaan pribadi masing-masing untuk menyikapi hal-hal terkait keputusan yang telah diambil. Suka atau tidak suka kita telah menjadi bagian hidup dari siklus itu.

Seorang teman saya harus berjibaku dengan rumitnya mendefinisikan pilihan hidup. Ketika dia mendaftarkan diri ke Universitas Indonesia dia ditolak mentah-mentah. Bukan karena tidak punya biaya untuk melanjutkan ke universitas ternama di Indonesia tersebut tetapi dia ditolak oleh dirinya sendiri. Dia mampu dari segi apapun. Tetapi pilihan hidup mengajarkan kedewasaan yang tidak diajarkan di bangku sekolahan. Tampaknya definisi yang rumit tentang kehidupan itu menjadikan pola pikirnya berkembang memaknai kehidupan. Bahwasanya hidup bukanlah untuk dirinya saja tapi kehidupan dia milik orang-orang di sekitarnya. Dia hidup bukan untuk mendaftarkan diri ke Universitas Indonesia. Dia memahami itu. Dan dia lebih mempercayai kedewasaan yang secara alami diberikan oleh tuhan daripada memilih keinginan yang dibuatnya sendiri.

Dia cerdas. Dia bekerja dan menghasilkan banyak uang. Dia tidak mempunyai masalah apapun untuk masuk ke Universitas Indonesia. Dia bisa saja mendaftar untuk kedua kalinya, ketiga kali, keempat kali dan keseratusan kalinya. Tapi dia tidak memilih pilihan itu. Dia lebih memilih berpikir tentang bagaimana membuat adik-adiknya tersenyum dikala dirinya sendiri masih harus berjuang dengan pilihan-pilihan hidup yang memenuhi otaknya. Dia berusaha untuk tidak egois meski pada dasarnya dia bisa melakukannya. Melanjutkan ke Universitas Indonesia dan menikmati masa-masanya di sana. Mendapatkan pujian prestisius ketika ditanya, “Kamu kuliah dimana?” atau “Kamu benar-benar hebat bisa kuliah di Universitas Indonesia. Kamu calon orang sukses.” Tapi dia sekali lagi lebih memilih kedewasaan daripada keinginannya yang menggebu. Bukan karena dia malu mendapatkan pujian prestisius itu tetapi lebih karena sifatnya yang mendedikasikan diri kepada orang-orang di sekitarnya, adiknya.

Dia sadar memilih sebuah keputusan yang salah. Dia salah, keputusannya untuk tidak memilih Universitas Indonesia akan membuang peluang untuk menjadi orang besar. Menjadi orang yang disegani diantara orang-orang yang berkata, “Kamu calon pemimpin bangsa. Kamu bisa memperoleh segalanya dengan ijazah atau gelar sarjana yang ada di dada.” Atau peluang untuk diperlakukan khusus di manapun, dimana seseorang masih menganggap gelar sarjana dari universitas terkemuka adalah hak paten orang yang cerdas dan pintar. Sedangkan orang-orang yang tidak punya gelar apa-apa atau lulusan universitas abal-abal dianggap terpinggirkan. Dan dia dengan santainya menjawab enteng anggapan kebanyakan orang itu, “Biarkan saja mereka punya ijazah dan gelar sarjana dari universitas terbagus di tanah air itu. Tapi aku tetap berpendirian pada prinsipku, jika cerdas tidak perlu ijazah atau gelar sarjana. Cerdas itu adalah pemberian tuhan. Aku tidak butuh pelabelan-pelabelan mereka dan aku tidak ingin membeli gelar sarjana atau ijazah.”

Teman saya itu benar-benar bodoh. Dia hanya mengandalkan prinsip untuk hidup. Dia belum tahu bahwasanya hidup ini dinamis. Perlu adanya keputusan-keputusan politis untuk bertahan hidup. Coba saja lihat dinamika kehidupan di negeri kita saja contohnya. Pegawai lulusan sarjana dari universitas terkemuka seperti lulusan Universitas Indonesia pasti mendapatkan posisi lebih dibanding pegawai lulusan universitas rendahan. Jika teman saya itu berpikiran politis dengan keputusannya, tentu dia mengambil kesempatan untuk kuliah di Universitas Indonesia. Politis, karena dengan kuliah disana dia bisa memperbaiki pangkat atau jabatan di tempatnya bekerja. Paling tidak dia bisa mempengaruhi atau memprovokasi bos dengan memajang ijazahnya di meja kerjanya. Dia bisa menunjukkan, “Hei bos. Saya ini cerdas.” Tapi kenyataannya? Teman saya tidak memilih pilihan yang sangat politis itu. Dan ketika saya bertanya, “Mengapa kamu tak mengambil keputusan yang bisa menjadikanmu orang besar?” Dan dia menjawabnya dengan sangat politis, “Tuhan tidak perlu ijazahmu untuk menjadikanmu orang besar.”

Saya heran. Teman saya tidak mengambil keputusan politis tapi jawabannya selalu politis. Jika dipikir-pikir memang benar. Kalaupun takdir seseorang memang menjadi orang besar, tuhan tidak perlu menanyakan ijazahmu. Suka-suka tuhan akan menjadikanmu orang besar atau tidak. Dan teman saya itu bahagia dengan keputusannya. Dia masih bekerja di tempatnya bekerja. Dia masih tetap saja cerdas. Dia bahagia dengan keputusannya tidak memilih Universitas Indonesia hanya demi adiknya. Dia menikmati kehidupannya karena adiknya yang kedua memperoleh Indeks Prestasi terbaik di sebuah universitas di Jawa Timur dan sedang dalam proses pengangkatan menjadi asisten dosen. Adiknya yang ketiga masih duduk di bangku SMA terfavorit di salah kota di Jawa Timur dan bercita-cita masuk dalam fakultas kedokteran karena ketertarikan adiknya itu di dunia dokter. Adik keempatnya tahun pelajaran ini adalah tahun pertamanya duduk di SMP terfavorit di daerahnya. Sedangkan adik kelima masih sekolah di SD. Dia tak lelah menyemangati adik-adiknya untuk terus berprestasi. Saya terharu. Dia lebih memilih menonaktifkan keegoisannya untuk tidak masuk Universitas Indonesia. Sebagai gantinya, dia membiayai adik-adiknya agar menjadi orang besar daripada membeli ijazah sarjana Universitas Indonesia yang terkenal mahal itu. Dia lebih memilih mengalah demi orang-orang di sekitarnya, adiknya.

Pada akhirnya, saya harus mendefinisikan keputusan teman saya itu. Saya kagum dengan prinsipnya. Bahwasanya hidup ini penuh dengan keputusan-keputusan yang rumit. Mungkin saja dia berkata kepada dirinya sendiri, “Sayang, mengertilah. Kehidupan ini tak lebih dari sekumpulan definisi yang rumit.” Dan teman saya menjadi salah satu elemen dari definisi itu.

#Gedung Angkuh, 25012012
gambar

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

2 Responses to Sayang, mengertilah. Kehidupan ini tak lebih dari sekumpulan definisi yang rumit

Leave a Reply to Adriana Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>