Ramai-Ramai Rebutan Jakarta

Ini ibukota bung! Ibukota negara yang digadang-gadang menjadi calon baru macan asia. Jakarta rebut saja…

Jakarta. Siapa yang tidak tertarik dengan kota besar itu? Ribuan orang berduyun-duyun datang ke Jakarta tiap tahunnya hanya untuk mengubah nasib. Tidak peduli entah jadi apa nantinya di Jakarta yang penting ke Jakarta dahulu. Anggapan masyarakat selama ini apa saja jika sudah di Jakarta bisa diubah menjadi uang. Ya, uang. Uang yang dianggap sebagian masyarakat di negeri ini seperti dewa. Mereka memuja-muja uang melebihi keberadaan tuhan disisinya. Ini masalah logika. Tanya saja orang-orang kelaparan di Jakarta apa yang dilakukan mereka. Cari uang untuk makan. Bukan cari tuhan.

Jakarta sebagai kota metropolitan bukan hanya menjadi daya tarik masyarakat daerah untuk mengais rejeki di kota ini. Tahun 2012 adalah tahun sakral bagi mereka yang ingin duduk di kursi gubernur. Jakarta akan berpesta. Jakarta akan mengadakan pemilihan umum kepala daerah yang diperebutkan oleh tokoh-tokoh yang menginginkannya. Jika kita cermat saat menyusuri jalanan ibukota, deretan baliho dan poster terpampang dengan gagah. Gambar-gambar tokoh yang mengaku bisa mengubah Jakarta menjadi kota yang indah. Entah itu hanya slogan atau sebuah mimpi. Seandainya itu mimpi, berarti orang-orang yang gambarnya menjadi jajanan mata pemakai jalan ibukota, mungkin sedang tertidur di kasur. Terlelap oleh gelimangan megahnya ibukota. Dan bila itu hanya sebuah slogan, siapa yang mau optimis? Rakyat Jakarta sudah muak dan kenyang dengan slogan-slogan. Paling-paling tulisan slogan itu akan masuk dalam keranjang sampah jika sudah tak dibutuhkan lagi. Ya hanya sekedar slogan. Bukan penerapan.

Meski belum menjadi calon yang sah untuk maju dalam pertarungan kursi gubernur, tampaknya mereka sudah yakin dan percaya diri untuk memasang gambar di jalanan kota. Hitung-hitung sebagai ajang perkenalan dan sosialisasi. Rakyat Jakarta dipaksa makan mentah-mentah segala informasi dari gambar itu. Tak kenal maka tak sayang. Jika sudah kenal maka akan dilupakan.

Bagi pejabat incumbent yang ingin maju dalam pemilihan gubernur Jakarta periode mendatang pun tak mau kalah. Segala cara dipakai untuk merebut hati warga Jakarta. Dalam segi kebijakan, kebijakan yang sebelumnya kurang memihak rakyat kini berubah haluan menjadi sangat pro rakyat. Rakyat dielus-elus dan dimanjakan dengan kebijakan yang membuat hidup mereka senang sementara. Penanganan terhadap warga miskin ibukota yang pada tahun-tahun sebelumnya jarang disentuh, kini dijadikan kebijakan utama. Semua ini hanya terjadi jika sudah medekati masa-masa pemilu.

Jika sudah sangat dekat, tokoh-tokoh itu ramai-ramai rebutan Jakarta. Euforia pemilu di ibukota sebentar lagi menjadi trending topik yang mengalahkan isu-isu kemacetan dan banjir. Masalah sebesar itu saja bisa menepi sementara apalagi masalah-masalah Jakarta yang lainnya. Mungkin mati saat itu juga. Rakyat Jakarta dicekoki oleh sorak-sorai orang-orang bayaran untuk memeriahkan pemilu ibukota. Mungkin saja mereka sedang kelaparan sehingga mudah dicekoki apa saja. Apa saja yang bisa dimakan ya makan saja mentah-mentah. Toh asal bisa hidup, ya sudahlah terima saja. Singkirkan dulu apa itu integritas dan mimpi asalkan saat ini bisa bertahan hidup diantara gedung-gedung angkuh ibukota.

Jakarta butuh orang-orang sakti. Jakarta tak butuh orang-orang yang menawarkan mimpi. Euforia Jakarta benar-benar terjadi jika ada pemimpin yang berani melakukan langkah out of the box dan revolusioner untuk mengubah drastis keadaan ibukota. Jakarta saat ini sedang sakit, jika bukan dokter yang menanganinya maka akan bertambah sakit. Apalagi penjual mimpi atau MC yang sering bicara berusaha menyembuhkan Jakarta, mana bisa? Walaupun kata-kata mereka seindah mutiara, berkilau-kilau bak berlian, atau tambang-tambang emas yang tumbuh subur di bumi Indonesia, tetap saja jika mereka bukan seorang dokter yang mampu menyembuhkan penyakit Jakarta jangan harap bisa mengubah Jakarta. Siapapun pemimpinnya apakah incumbent, TNI, tokoh masyarakat, dosen, atau pedagang kaki lima pun tak masalah asal punya jiwa-jiwa dokter. Dokter yang bisa membangkitkan asa Jakarta menjadi kota yang disegani di negeri sendiri. Mementaskan masalah utama di Jakarta. Macet dan banjir.

Tak sepantasnya Jakarta menjadi kota pesakitan. Ini ibukota bung! Ibukota negara yang digadang-gadang menjadi calon baru macan asia. Jakarta rebut saja, asal yang mampu merebut hati Jakarta punya jiwa penyembuh. Tak peduli apa warna partainya asalkan bisa mengubah Jakarta menjadi lebih baik dari yang sekarang. Jakarta menjadi kota yang indah tanpa macet, banjir, atau kemiskinan moral dan finansial. Biarkan saja parta-partai dan tokohnya berperang habis-habisan. Siapapun pemenangnya semoga mampu membuat Jakarta lebih hidup. Jakarta bukan sekedar ibukota tapi darah dan nadi negeri ini. Karena hulu segala kebijakan negeri ini ada di dalamnya.

#Gedung Angkuh, 180112
gambar

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

One Response to Ramai-Ramai Rebutan Jakarta

  1. paper writing says:

    I really like Jakarta! But recently because of illegal immigrants it has become impossible to

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>