Personifikasi Sandalism

Jika hukum sudah bisa diperjual beli, kini saatnya sandalisme menjadi sebuah filsafat negara.

 

Vandalism adalah sifat yang merusak. Paling tidak itulah arti kata yang jarang digunakan dalam kosakata keseharian media di Indonesia. Tapi aku tak akan fokus memakai kata vandalism dalam tulisanku kali ini. Biarkan vandalism menjadi buruan para awak media terlebih dahulu agar kata itu bisa mendunia. Paling tidak dunia tak menertawakanku sebelum kata itu menjadi obrolan orang-orang di warung kopi. Atau bisa jadi kata itu mampu dengan tegas mendefinisikan definisi-definisi yang berlalu lalang di pikiranku?

Baiklah, aku tak memaksa. Mungkin vandalism bisa menjadi inspirasiku kali ini. Tapi aku tak mau menjadikan kata itu 100% berputar-putar dalam tulisanku. Aku akan sedikit merombaknya satu atau dua huruf saja agar personifikasinya hampir mirip. Dan keputusanku sudah bulat. Aku akan merombak vandalism menjadi satu huruf saja yang kuubah. Sandalism. Kata yang ingin kupakai dalam tulisanku kali ini. Meskipun mirip tapi tak sepenuhnya mirip. Karena aku ingin mempersonifikasikan kata itu melebihi definisi-definisi yang menjadi dogma selama ini. Dogma yang digadang-gadang menjadi sebuah pengganti aturan baku dan undang-undang.

Sandalism merupakan kata keadilan yang tercederai. Personifikasi ketidakadilan di negeri ini dijadikan mainan oleh hukum yang memvonis seorang pelajar dari Palu hanya karena didakwa mencuri sandal jepit. Ya, kasus sandalism. Sandal jepit itu mampu menjerumuskan sang bocah ke dalam bui dengan ancaman masa tahanan 5 tahun. Dunia pasti menertawakannya. Sepasang sandal jepit yang dijadikan barang bukti itu telah mengalahkan kasus penyelewengan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) sebesar Rp 100 miliar pada tahun 2003 oleh Aulia Pohan, besan SBY. Kasus korupsi yang dilakukan besan presiden RI itu divonis lebih rendah dari kasus sandal jepit yakni hanya 3 tahun. Sekali lagi dunia tentu tertawa. Apakah ada sandal jepit yang seharga Rp 100 miliar lebih?

Ya inilah yang kusebut definisi. Sandal jepit mana yang bisa mencapai ratusan juta? Mengalahkan biaya untuk melaju menjadi seorang presiden. Definisi yang terbungkus oleh politisasi ketidakadilan hukum. Sandalism yang kujadikan personifikasi tadi ternyata maknanya tidak jauh beda dengan vandalism yang berarti sifat merusak. Apakah sandalism berarti sifat yang merusak keadilan hukum di negeri ini hanya karena sandal jepit? Aku juga belum tahu apa definisi sandalism sebenarnya karena belum ada penelitian yang mendefinisikan arti sandalism. Tapi bagiku pribadi sandalism memang sangat rusak. Keadilan telah tercederai hanya karena label harga sandal. Sandal yang sebenarnya tak lebih berharga dari Rp 10.000 itu mampu mengalahkan Rp 100 miliar. Sekali lagi dunia pasti tertawa karena hal ini sangat lucu.

Sandalism mungkin sekarang sudah menjadi pembicaraan orang-orang di warung kopi. Bahkan menjadi obrolan gosip oleh ibu-ibu rumah tangga. Jika begitu, berarti sandalism telah dimuat oleh media massa. Logikanya, kalau sandalism sudah dimuat media massa berarti kata ini sudah mendunia. Aku punya bukti itu. Karena sandalim dimuat oleh beberapa media internasional. Media beken seperti The Washington Post, Boston Globe, Hindustan Time telah menyertakan kata sandalim Indonesia dalam berita yang mereka angkat. Berarti personifikasi sandalism yang kubuat sedikit demi sedikit mampu mengubah paradigma media yang belum memuat kata vandalism. Akankah vandalism menjadi primadona kata di antara media massa sehingga aku bisa menggunakannya? Sehingga aku tak ditertawakan lagi ketika aku memakai kata itu?

Personifikasi sandalism telah menggerogoti keadilan di negeri ini. Entahlah. Yang pasti sandalism telah mencoreng ketidakadilan hukum yang dipuja dan dijadikan primadona bahkan sebagai dasar konstitusi. Kalau konstitusi saja sudah bisa dirusak oleh oknum sesuai keinginannya lantas mau dibawa kemana negara kita tercinta ini? Apakah  sandalism akan dijadikan dogma baru dalam setiap sendi-sendi kehidupan bernegara? Kalau sudah begitu tunggu saja kehancuran negara yang semakin dibodohi oleh ulah-ulah asing itu. Jika hukum sudah bisa diperjual beli, kini saatnya sandalisme menjadi sebuah filsafat negara.

Sandalisme memang baru tapi tidak untuk ketidakadilan. Personifikasi sandalism merupakan cermin hukum negara kita. Masih banyak kasus sandalism-sandalism lainnya yang belum terekspose oleh media. Dan lagi-lagi mereka yang awam hukum dan harta saja yang menjadi korban ketidakadilan. Sandalism yang kudefiniskan mirip dengan kata vandalisme di atas berarti terbukti benar. Meskipun aku harus merombak huruf depannya saja. Berarti, sandalisme adalah simbol kerusakan jugakah? Paling tidak hukum ini telah dirusak hanya karena sandal. Sandal yang selalu kita paksa untuk mencium bumi kini menjadi sebuah standar hukum yang mengacaukan hukum formal dan oknum di dalamnya. Sandalim adalah personifikasi nyata dan membabi buta.

#Gedung Angkuh, 19012012
gambar

This entry was posted in Asyiknya Menulis. Bookmark the permalink.

2 Responses to Personifikasi Sandalism

Leave a Reply to admin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>