Kyai Sontoloyo 2

 

“Jack” Amplifier

 

 Anu pak kyai, lha wong cuma jek kabel microphone nya sedikit longgar. Saya Cuma merapatkannya saja ke amplifier

 

Adzan dhuhur berkumandang di masjid pondok pesantren. Suara yang keluar dari speaker tua di atas atap masjid menggelegar hingga membangunkan lamunanku di atas loteng. Setengah jam yang lalu, gara-gara internet aku kena masalah. Orang paling nyentrik di pondok, Kyai Usman, memergoki aku senyum-senyum sendiri di atas loteng. Dan itu semua mengaburkan segala mood-ku hari itu untuk menjalankan aktivitas. Bahkan hafalan ayat alqur’an ku kacau karena memikirkan Kyai Usman. Mending kalau memikirkan putrinya, Lala. Lha ini aku malah memikirkan bapaknya. Bukan berarti aku suka sesama jenis karena memikirkan bapaknya Lala, tapi hari ini aku bakal kena hukuman dengan menghadap beliau bakda Ashar. Dan itu harus kupenuhi, kalau tidak mau dipermalukan di depan orang-orang satu pondok.

“Bro, ente gak sholat?”

Seonggok suara kerempeng memaksaku menoleh dengan cepat. Suara yang tak enak di dengar telinga. Seperti biasanya, pasti suara sengau milik anak penjual kopi Yono. Suara kasar seperti seng diseret, memekakkan telinga.

“Iya Brek. Bentar lagi. Anginnya mumpung suwir-suwir”

Namanya Brekele, begitulah orang-orang di pondok ini memanggil dia. Selain karena rambutnya yang keriting seperti mie instan, suaranya juga sangat kerempeng. Apalagi model rambutnya itu seperti rocker gimbal. Jarang sekali dicuci hingga terlihat kemerah-merahan di sana-sini. Padahal nama aslinya Muhammad Zain. Sebuah nama asli yang bagus, berbeda dengan nama panggilannya. Brekele atau Breke.

Gayanya juga unik. Tiap kali memanggil teman-temannya dia selalu ingin terlihat keren. “Bro” panggilan khasnya buat semua temannya. Biarpun anak penjual kopi di desanya tapi tingkah lakunya tidak kalah keren. Inspirasi memanggil Bro, kata dia karena Breke sering menonton Film Televisi di salah satu stasiun TV swasta. Film sinetron bertema anak muda dan cinta yang sekali tayang langsung tamat. Keromantisan dia terletak disitu, Bro. Kata-kata itu sudah melekat dan menjadi trade mark buat Breke.

“Bro, guwe turun dulu ya. Bentar lagi iqomah nih”

“Eh Brek bentar deh, tunggu dulu”

Aku beranjak dari tempat duduk di sebuah sudut loteng itu, berpamitan sebentar kepada semilirnya angin. Sebuah peci putih masih menyangkut di kepalaku dan sarung yang sudah agak tua kujadikan selendang sambil mengha menghampiri tempat Brekele berdiri menungguku.

“Brek, ente ntar abis Ashar ikutan aku ya”

“Mau kemana Bro?”

“Ngadep Kyai Usman”

“Buset, ngapaian aja ente bro? Bisa-bisanya berurusan sama Kyai Sontoloyo itu. Ente berbuat apa sampai yai menyuruhmu menghadap?”

“Ceritanya panjang, ntar deh ceritanya. Yang penting ente udah tak booking ikutan ngadep Kyai Usman. Jangan kemana-mana abis Ashar. Urgent nih”

“Ogah ah, guwe nggak mau campur urusan ente. Ente lebih paham menghadapi Kyai Usman. Kebetulan juga sore ini jadwal main bola sama anak-anak. Sayang banget kalau dilewatkan”

“Please deh Brek. Temenin aku doang apa susahnya sih? Paling lima menit. Abis itu ente boleh pulang duluan kalau aku ditahan sama pak yai. Gimana?”

“Hmm.. pengalamananku berhadapan sama beliau sangat rumit”, ujar Breke sambil menengadah ke langit dengan tatapan kosong.

“Gimana Brek?”, sergahku sambil menggoyang lengannya. “Keburu si John mengumandangkan iqomah nih.”

“Oh iya, sampai mana kita tadi?”

“Udah sampai rumahnya Lala”, ketusku.

“Ah masak sih. Yang bener aja. Perasaan guwe tadi baru melihat Lala di awang-awang sana”

“Pala lu peyang. Kalau mau ketemu Lala makanya ikutan aku. Pedekate dulu sama bapaknya. Ayolah…”

“Wah ada apa nih ribut-ribut di depan pintu? Pada ngeributin apaan kalian?”, Jack muncul secara tiba-tiba dari balik kamar sambil cengengesan.

“Nah tuh, sama si Jack aja bro. Guwe udah males berhubungan sama Kyai Sontoloyo itu”, sergah Breke.

Hah? Yang bener saja sama Jack? Bisa bahaya kalau dia cengengesan di depan pak yai. Tambah brabe ntar. Dandanan yang seadanya melekat di tubuhnya hanya sarung, kaos bola lengan panjang dan satu peci hitam yang dipakai selalu miring. Sarungnya saja sudah berapa minggu ini dia pakai terus. Aku juga semakin curiga dibalik sarungnya itu tidak ada celana pelapis alias celana pendek atau celana dalam. Karena itulah hobi Jack kalau kemana-mana pakai sarung. Walaupun jalan-jalan ke Mall sekalipun. Dia anggap sarungan itu menyejukkan badan.

Dulu pernah aku mengajak Jack ke Plasa di daerah Kota Kediri untuk membeli pesanannya Bu Nyai Ali, kakaknya Kyai Usman. Dia tetep kukuh memakai sarung. Katanya hanya sarung itulah yang masih kering dan layak pakai. Lagi-lagi baju atasnya juga pakai baju bola. Namun pecinya yang tidak dipakai karena saat itu kita memakai helm. Dan dengan santainya Jack berjalan dari toko ke toko tanpa mempedulikan orang-orang sekitar yang memandangnya. Alhasil yang jadi korban adalah aku. Aku harus menanggung malu pandangan aneh dari gadis-gadis dan ibu-ibu yang melewati kami. Mungkin karena mereka melihat dandanan Jack yang hanya memakai sarung kumal dan baju bola lengan panjang sedangkan aku selalu berjalan di samping Jack. Otomatis mereka juga pasti melirik aku yang tanpa salah. Jika kutebak kata hati mereka, bisa jadi mereka akan mengatakan “Mas, itu temannya norak banget sih” atau “Mas, itu peliharaannya mau dibawa kemana?” atau “Hari gini pake sarung kumal ke Mall?”

Aku sih tak mempermasalahkan dia pakai sarung atau enggak. Pakai baju bola lengan panjang atau enggak. Pakai peci hitam yang menyamping atau enggak. Tapi si Jack sudah beberapa hari tak mencuci sarungnya. Setrika apalagi. Dan yang pasti sarungnya itu sangat kumal dan tercium baunya bagi yang mendekat. Meskipun tak seperti bangkai tapi tahu sendiri kan baju yang tidak dicuci berhari-hari? Tentu bau keringat yang menempel berhari-hari di sarung tak hilang jika tak dicuci. Dan yang pasti Jack tak pernah memakai deodorant, parfum atau semacamnya. Di pikirannya hanya ada satu iklan mungkin. Yakni iklan Agus Ringgo yang memakai pembersih wajah berubah menjadi Christian Sugiono. Sayangnya Jack juga tidak punya pembersih wajah. Yang dia punya hanya satu odol kecil dan sabun mandi. Itupun jika ada sikatnya, kalau tidak ada sikat terpaksa jari-jarinya yang menjadi gantinya. Betapa parahnya dia sebagai seorang lelaki. Dan tentunya sebagai seorang teman yang selalu berjalan di samping Jack, orang mengira aku juga begitu. Ibarat peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Yang rusak Jack dan akulah yang kena getahnya.

Nama Jack itupun bukan nama sebenarnya. Kebiasaan kami di pondok pesantren selalu memanggil nama teman bukan nama asli tapi nama keren di lingkungan pondok. Nama aslinya Haikal Sunaryo. Sebuah peristiwa mengubah namanya. Saat itu, beberapa bulan setelah Jack dipondokkan oleh bapaknya di Kediri, Jack mendapat pujian dari Kyai Ali hanya karena membenarkan saklar listrik amplifier. Kebetulan sekali saat itu Kyai Ali sedang mengisi pengajian akbar di Masjid Pondok. peserta pengajiannya tidak hanya dihadiri oleh santri-santri di lingkungan pondok, namun warga sekitar dan banyak sekali orang-orang dari luar Kediri seperti Tulungagung, Nganjuk, Trenggalek, Blitar, Kertosono bahkan dari Ngawi-Solo juga ada. Sosok Kyai Ali yang ceramahnya renyah dan enak didengar semakin digemari masyarakat karena menyejukkan. Penampilan kyai Ali di mimbar juga sering ditunggu-tunggu.

Nah saat Kyai Ali sedang mengisi pengajian sekitar sepuluh menit tiba-tiba microphone yang dipegang Kyai Ali mendadak mati. Berkali-kali Kyai Ali memukulkan jari-jarinya di microphone sambil mengucap “tes, tes, tes” tapi tak ada perubahan. Kyai Ali terlihat kebingungan dan memberi isyarat kepada panitia dengan menoleh ke belakang “Iki mic-e kok gak iso muni. Coba benerke Mas”. Panitia pun berseliweran mencari masalah microphone yang tidak bisa menyala dari mengganti microphone berkali-kali hingga mengecek sambungan roll kabel ke listrik. Tapi tidak juga sembuh masalah itu. Sampai-sampai panitia terlihat bingung juga apa yang harus dilakukan karena pengecekan sudah menyeluruh. Kali ini panitia tidak mau pengajian gagal hanya karena masalah microphone tidak bisa bersuara. Pasalnya pengajian ini adalah pengajian akbar yang dihadiri bukan hanya warga pondok. Bahkan antisipasi rencana memanggil teknisi listrik yang sudah biasa berkeliling di acara “mantenan” juga sudah disiapkan. Pokoknya saat itu panitia gaduh dan malu jika tidak bisa menghidupkan microphone.

Di tengah kegaduhan panitia itu, Jack yang awalnya dipanggil Haikal maju ke samping mimbar Kyai Ali. Saat itu Jack duduk di barisan paling depan. Hal lumrah bagi santri baru, karena dengan duduk di barisan paling depan di saat pengajian akbar kami sebagai santri bisa mendapatkan makanan gratis, selevel dengan makanan Kyai yang dihidangkan. Dan tentu saja Jack tidak mau ketinggalan mendapatkan makanan gratis. Apalagi makanan hidangan pak yai pas enak-enak. Jack maju ke depan menuju amplifier yang dipasang panitia untuk pengajian malam itu. Dia seperti mengotak-atik kabel jek microphone tidak berapa lama. Kemudian dia menuju mimbar dan membunyikan microphone. “Test” dan microphone langsung berbunyi. Panitia yang sedari tadi mengotak-atik roll kabel sampai amplifier hanya bisa terpana. Seorang santri baru mampu menyelamatkan muka santri-santri senior dari pak kyai dan warga yang mengikuti pengajian. Beberapa dari santri senior sebagai panitia itu terlihat tersenyum dan bertepuk tangan pelan. Beberapa hanya tergeleng-geleng tanda keheranan.

Setelah microphone bisa dihidupkan kembali, pak kyai Ali melanjutkan pengajiannya. Pak kyai juga tidak kalah dengan santri senior, ditengah-tengah pengajiannya beliau menyelipkan humor berterima kasih kepada Haikal alias Jack.

“Hari ini saya sangat berterima kasih kepada seorang anak muda. Santri baru, anak pedagang barang bekas yang baru dua bulan lalu bapaknya minta izin sama saya untuk dititipkan disini. Kalau malam ini dia tidak melakukan sesuatu pada amplifier di samping mimbar ini, mungkin detik ini saya sudah makan nasi tumpeng duluan”, semua peserta pengajian tertawa mendengar lelucon pak kyai. Termasuk para santri senior sebagai panitia pengajian akbar ini.
Pak kyai seperti mengambil sesuatu kemudian beliau menggenggamnya. Sambil mengangkat genggaman itu pak kyai menghadap microphone kemudian bersiap-siap untuk bicara.

“Apakah para hadirin disini tahu apa isi genggaman saya ini?”

“Koin pak kyai”, teriak salah satu pengunjung pengajian.

“Peniti”

“Kabel”

“Karet”, teriak ibu-ibu yang ada di pojok sebelah kiri.

“Ada banyak persepsi apa yang saya genggam. Tapi percayalah ini akan menjadi hikmah dari kejadian malam ini”, kata pak kyai.

Pak Kyai kemudian membuka genggamannya. Semua peserta pengajian yang hadir melongokkan kepala mereka ingin tahu isi genggaman pak kyai. Bahkan beberapa warga di barisan depan yang ikut pengajian terpaksa setengah berdiri hanya untuk tahu benda apa yang dipegang pak kyai. Dan ternyata isi genggaman pak kyai adalah selembar kertas yang sudah diremat.

“Tebakan bapak-ibu sekalian salah. Yang ada di genggaman saya ini adalah selembar kertas yang kucel. Tidak menyangka bukan?”

“Tapi jangan salah, biarpun ini kertas kucel yang sudah teremas-remas oleh genggaman saya, tapi kalau remasan kertas ini saya buka akan menjadi lebar melebihi luas genggaman tangan saya. Dan yang terpenting adalah isinya. Di dalam kertas ini ada tulisan ringkasan ceramah saya. Siapa sangka kertas yang lebar dan berisi ringkasan ceramah saya itu bisa masuk dalam genggaman saya? Itulah mengapa kita tidak boleh memandang seseorang dari bentuk casingnya saja.”

“Begitu juga dengan anak muda tadi yang membantu saya membetulkan microphone. Jangan melihat dia dari luar. Jangan melihat apa pekerjaan bapaknya. Tapi lihatlah apa yang dikerjakannya bermanfaat atau tidak? Dan nyatanya atas izin Allah anak muda tadi bisa memaksa saya untuk tetap berdiri disini”, kata-kata terakhir itu mengundang senyum dari para hadirin.

“Sekarang saya mau tanya. Siapa namamu nak? Saya agak lupa.”

“Haikal Sunaryo pak kyai”

“Subhanallah, nama yang bagus sekali. Terus bagaimana tadi kamu bisa mengalahkan santri-santri senior untuk menghidupkan microphone ini?”

“Anu pak kyai, lha wong cuma jek kabel microphone nya sedikit longgar. Saya Cuma merapatkannya saja ke amplifier.

“Jek? Jek untuk ampli”

“Iya jek microphone pak kyai”, jawab Haikal alias Jack

“Jadi bukan karena mengotak-atik sistemnya?

“Bukan pak kyai. Kalau masalah system saya belum bisa alias mboten ngerti”

Pak kyai tersenyum. Para hadirin dalam pengajian itu yang semula mendengar baik-baik pertanyaan pak kyai pada Haikal dengan serius, jadi ikut tersenyum dan tertawa.

“Oalah, jek to?”

“….”, Haikal alias Jack mengangguk.

“Jek, jek. Hanya karena jek to? Jek! Sesimple itu ternyata hidup. Itulah jek. Kalau jek yang sangat sederhana dari bagian system itu mati maka akan mempengaruhi seluruhnya termasuk microphone ini. Bukan begitu Jek?”, canda pak kyai kepada Haikal sambil meliriknya.

Sejak saat itulah Haikal dikenal seluruh santri-santri pondok pesantren dengan nama Jack karena pujian dari pak kyai yang selalu dipenuhi kata Jek. Haikal Sunaryo dipanggil Jack. Sangat jauh sekali dari nama aslinya.

#Rawatengah, 140112

 

This entry was posted in Cerpen isme. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>