Hujan pun Merintih

.

Tak selamanya aku mendengar, rintihan hujan di kala malam
Merintih, mengaduh sampai gaduh
Menertawakan rembulan karena tak tampak indah sinarnya
Dan mendung pun tak cukup membendung hujan turun
Hujan tak pernah kesepian
Hujan selalu ditemani gelegar petir yang terus-menerus menderu

.

Hawa dingin yang merangsek masuk tubuhku
Aku tak peduli, ya aku tak peduli
Atau percikan air hujan yang membasahi hatiku
Sekali lagi aku tak kan pernah peduli
Jika badanku terasa tak nyaman malam itu
Hingga hujan harus memaksaku perih tak terperi
Aku tak pernah usang atau habis tuk selalu berseru
Hei, sekali lagi, jangan paksa aku untuk peduli

.

Biarkan saja hujan merintih
Kedua kaki tetap berdiri di bumi yang kupijak ini
Meski kau tega memberiku segumpal racun untuk memracuniku
Mengoyak ragaku dan mengambil hatiku
Dan kau jadikan pajangan di bilik rumahmu
Aku akan tetap bertahan
Jangan kau paksa aku untuk berontak, meski harus remuk redam
Karena bagiku, inilah pengorbanan

.

Boleh jadi kau mungkin tak percaya
Sebelum kau tanyakan pada degup jantungku detik demi detik
Tanya saja pada mereka
Caraku memacu agar aku cepat berlari
Membaktikan jiwa ragaku untuk ibu pertiwi
Sekaligus akan menjawab pertanyaan-pertanyaan
Inilah yang kusebut pengabdian

.

Atau boleh saja kau remukkan tulang-tulangku
Dengan pedang
Dengan bedil senapan
Dengan dentuman meriam
Hingga tubuhku terkoyak
Tapi jangan harap diriku berubah cadas
Katamu, inilah yang disebut loyalitas

.

Hari ini, aku tak peduli meski hujan pun merintih
Walau teriring nyanyian sendu

.
#Gedung Angkuh, 17 Januari 2011
gambar

This entry was posted in Coretan Puisi. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hujan pun Merintih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>