FBI (Fans Berat Inul)

 

 ‘‘Pokoke josh. Kowe bakalan merem melek’’, kata Gimin kepada Soni. 

.

Orang-orang di daerah pedesaan sangat senang jika ada hiburan semacam dangdut, konser, atau pagelaran wayang yang diadakan di daerahnya. Tak ubahnya seperti Soni dan Gimin. Mereka adalah salah satu maniak dangdut. Setiap ada acara dangdut mereka selalu muncul di tengah-tengah kerumunan penonton. Ibarat ada gula ada semut. Kalau ada dangdut di daerah mereka, Gimin dan Soni pasti selalu ada. Meskipun jaraknya lumayan jauh tetap saja mereka tidak surut mundur melangkah. Terlebih jika ada konser dangdut Inul Daratista. Adalah konser wajib yang harus mereka tonton. Bukan karena suaranya yang merdu saat menyanyi, tapi goyang ngebur Inul selalu membekas di hati Gimin dan Soni.

 

“Son, ikutan aku nang Patik malam minggu besok mau nggak?”, Kata Gimin.

 

‘’Enek opo nang Patik Min?’’, jawab Soni.

 

‘‘Pokoke josh. Kowe bakalan merem melek’’, kata Gimin kepada Soni.

 

‘‘Loh ngopo emange? Enek dangdutan maneh yo? Aku selalu siap untukmu.’’

 

‘’Iki spesial. Inul Daratista ! Hahaha.’’

 

‘’Wah. Wajib iku. Kita harus kesana.’’

 

‘’Iki deloken SMS teko mahe Fuad Koncoku.’’

 

“Min, ada konser Inul nang Lapangan Patik. Malam Minggu iki. Kowe kan Barisan FBI to? Wajib nonton!”

 

“Sip Min. Pokoke aku arep nggawe kostum celana cekak, kaos oblong, nggawe kalung Metalic. Karo gelang sing tak tuku nang Malang kae.

 

“Ya wes. Tak enteni nang ngarep pos kamling. Baru kita lets go.”

 

Soni dan Gimin harus melewati dahulu Rabu, Kamis, dan Jumat untuk mencapai hari Sabtu. Dan hari ini adalah hari Sabtu. Mereka sudah siap di depan Poskamling Desa Ngantru, desa mereka.

 

“Wes siap kowe Son?”

 

“Sip Min. Aku wes dandan ala rocker berhati dangdut”

 

Mereka berdua lantas melaju dengan motor vespa rombeng milik bapaknya Soni. Tujuannya satu yaitu melihat konser dangdut Inul di lapangan Patik.

 

“Min, kok ra nyampek-nyampek? Wes satu jam kita perjalanane”, Soni sudah mulai tidak sabar ingin melihat Inul.

 

“Tenang Son. Aku juga baru pertama kesini. Kata Fuad sih deket-deket sini. Tuh ada SD Patik di depan kita”

 

“Ah mosok sih? Sing bener kowe? Iki wes mulai masuk area lahan tebu-tebu. Aku wes mulai kedinginan pisan. Min aku nggawe katok pendek iki. Lagian emang Inul mau ya konser sampai pelosok begini?”

 

“Tenang Son. Kayake iki wes cedak lokasi”

 

Tidak berapa lama kemudian terdengar gemuruh suara orang-orang. Tanah lapang itu dipenuhi cahaya menandakan sedang ada acara besar-besaran di desa Patik.

 

“Son kita wes nyampek. Iku lapangan Patik”

 

“Tenan to Min? Aku kok kurang yakin bukan ini lapangannya”

 

“Njajal tak takok bakul bakso iku Son”

 

Tidak berapa lama kemudian Gimin bertanya kepada bakul bakso yang berada di dekat motor vespa rombengnya berhenti.

 

“Assalamualaikum pak, ini apa benar lapangan Patik?”, Tanya Gimin kepada bakul bakso.

“Iya Mas. Iki Lapangan Patik”, jawab bakul bakso itu meyakinkan.

 

“Emang lapangan Patik Cuma satu ini ya pak?”

 

“Iyo mas. Cuma satu ini. Lha sampeyan arep nandi?”

 

“Lha. Bukannya di lapangan Patik ada konser Inul ya pak? Tapi kok orang-orang ini banyak yang pakai sarung sama peci? Masak mereka mau nonton dangdut pakai peci pak?”

 

“Bukan Konser mas. Tapi pengajian. Yang ngisi emang namanya Inul. Tepatnya Ustad Zainul Arifin”

 

(Senyap. Hening. Diam)

 

“Min, temanmu yang sms rumahnya deket sini ya?”, Soni terlihat marah dan geram karena merasa ditipu oleh teman Gimin.

 

“Son tak traktir makan bakso. Makan sepuasnya. Mumpung di sini. Jarang-jarang Inul jadi ustad”, Gimin menghibur soni dengan nada kecewa.

 

#Rawatengah, 27012012

gambar

This entry was posted in Senyuman Humor. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>