Perkawinan Politik dan Media

Euforia pemilu 2014 belum terasa sekarang. Namun hingar-bingar itu telah dirasakan oleh beberapa kalangan parpol yang sudah mulai mempersiapkan kesertaannya untuk melaju di pemilu periode mendatang. Beberapa partai baru juga lebih sigap mempersiapkan kereta politik mereka untuk mengikuti pesta akbar itu. Mulai dari kaderisasi anggota parpol hingga sosialisasi besar-besaran melalui media nasional. Tentu saja hal ini menjadi sebuah hal baru di bandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Baik partai baru maupun partai yang sudah aman dengan batas parliamentary threshold berlomba-lomba mempercantik baju kepartaiannya agar lebih menarik untuk mendapatkan suara.

Persiapan partai-partai itu sedikit berbeda ketika beberapa diantara mereka menggaet media-media massa untuk masuk ke dalam partai. Entah media itu sebagai “sponsor” utama atau hanya sebagai penggembira. Dalam partai lama ada Partai Golkar dengan Media yang dipunyai oleh ketua umumnya, Abu Rizal Bakrie. Sedangkan untuk partai baru ada Nasional Demokrat yang mengusung Metro TV sebagai partner dari Surya Paloh. Terlebih setelah bos MNC, Harry Tanoesoedibjo, masuk sebagai salah satu pengurus yang mengusung slogan restorasi itu. Sedangkan untuk partai-partai lainnya masih meraba-raba media yang akan dijadikan sokongan untuk mendukung sosialisasi program-program dan tujuan partai.

Menarik untuk disimak. Ketika sebuah cara baru menjadi acuan untuk bertarung memperebutkan ratusan juta suara rakyat Indonesia. Media nasional digaet untuk meramaikan jalannya pemilu 2014. Akan ada “saling serang” dalam dunia jurnalistik. Tentunya rakyat Indonesia menunggu kejutan-kejutan partai peserta pemilu itu untuk beradu “acting” di layar kaca.

 

Yang jelas, media merupakan alat provokativ paling ampuh untuk menggiring opini publik

 

Perkawinan politik dan media era sekarang ini tidak secara eksplisit terlihat. Orang awam hanya bisa menebak melalui pengurus-pengurus partai yang memiliki media nasional. Tidak ada cara khusus untuk menentukan apakah partai ini atau partai itu memiliki jaringan media. Tapi secara keseluruhan dari substansi berita yang ada dalam sebuah media kita bisa mengerti arah kepentingan-kepentingan itu dan pro dengan partai apa saja. Kita harapkan media bisa dengan santun dan tetap independen dengan pemberitaan di dalamnya.

Biasanya sebuah media mengusung kepentingan pemilik dalam pemberitaannya. Hal ini tak bisa dipungkiri. Namun jika Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menganggap wajar pemberitaan yang diangkat sebuah media, tidaklah mengapa. KPI yang memiliki wewenang untuk menyaring isi media nasional berhak untuk memyetop apakah media ini dan media itu bersalah. Secara garis besar, meskipun KPI berhak untuk memveto bersalah media dan materi pemberitaannya, masyarakat tetap cerdas dan kritis dalam memahami “iklan” terselubung parpol-parpol di tanah air. Masyarakat bisa memahami jika politik telah dikawinkan dengan media oleh pengusaha-pengusaha media yang terjun dalam politik.

Media memang cukup efektif untuk mempromosikan partai baru atau mendogmatis masyarakat dengan menjejali program-program partai di media. Semakin sering muncul di media, semakin mudah pula masyarakat mengingat partai tersebut. Implikasinya, parpol yang mudah diingat oleh masyarakat mudah untuk mendapatkan perhatian dan suara saat pemilu kelak. Parpol akan meraup suara banyak dengan skenario seperti ini.

Rakyat semakin cerdas. Rakyat tidak mudah untuk diarahkan, dijejali, disetir dengan informasi-informasi di media. Jika skenario parpol yang mengawini media itu berjalan mulus, mereka akan mendulang suara di saat pemilu. Namun jika skenario ini gagal paling tidak promosi parpol sudah tersalurkan. Yang jelas, media merupakan alat provokativ paling ampuh untuk menggiring opini publik secerdas apapun audience-nya terlepas bagaimanapun hasilnya. Lantas siapakah anak yang dilahirkan dari perkawinan politik dan media?

.

#Desember 2011

sumber gambar: google.com

This entry was posted in Sentuhan Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>