Galaunya Amerika dan Sekutu Saat Palestina Merdeka

Amerika Serikat galau. Bukan karena akibat krisis Subprime Mortgage yang terjadi di negeri itu 2008 lalu atau krisis eropa akut yang sudah menggerogoti Yunani atau jatuhnya pesawat mata-mata termodern milik mereka yang jatuh di tangan Iran, namun dikarenakan Palestina telah mendapat pengakuan dari Unesco dan 112 negara-negara di dunia. Palestina telah merdeka! Sebuah sejarah politik baru yang bisa mengancam negara sekutunya, Israel.

Ya, selama ini keberadaan Palestina memang sangat kontoversial di mata Amerika Serikat. Hal ini disebabkan Palestina selalu menjadi batu sandungan sekutunya, Israel, sebagai lalat pengganggu Negara yahudi itu. Konflik terus terjadi antara Israel-Gerilyawan Palestina, saling serang dan saling menyandera tawanan. Itupun terjadi saat palestina masih hanya sebagai bangsa, bukan sebagai Negara yang diakui Negara lain. Pertanyaannya adalah, jika Palestina menjadi Negara merdeka yang sudah diakui Negara lain bukankah akan semakin merongrong kekuasaan Israel? Jika Israel sudah merasa terganggu bukankah Amerika juga akan terganggu? Meskipun hanya sebuah Negara kecil yang terletak di timur tengah, Israel adalah Negara kedua bagi siapapun Presiden Amerika Serikat.

Hal inilah yang menjadikan dasar betapa bencinya Amerika Serikat jika Palestina merdeka. Pada prinsipnya, AS menganggap siapapun Negara yang ingin merdeka, silakan saja. Tapi tidak untuk Palestina, sampai kapanpun. Kini dengan adanya pengakuan Negara-negara internasional terhadap kemerdekaan Palestina, posisi AS semakin galau. AS berusaha menjegal keikutsertaan Palestina di PBB dengan memaksimalkan posisinya sebagai Dewan Keamanan PBB. Meskipun belum sepenuhnya mendapatkan pengakuan penuh dari PBB, Palestina sudah diakui oleh salah satu organisasi bentukan PBB, UNECO, sebagai Negara berdaulat. Kenyataan seperti ini semakin memanaskan politik di AS sebagai warning agar Palestina tidak menjadi anggota PBB.

 

Meskipun hanya sebuah Negara kecil yang terletak di timur tengah, Israel adalah Negara kedua bagi siapapun Presiden Amerika Serikat.

 

Kini Palestina boleh tersenyum. Negara-negara dunia mulai mengakui kemerdekaan Palestina. Sedikitnya 112 negara dari kawasan Afrika, Asia, Eropa dan Amerika Latin, secara de facto dan de yure mengakui Palestina sebagai sebuah bangsa dan negara. Jika dikaitkan dengan 193 negara di PBB, hanya 63 negara anggota yang belum mendukung penuh Palestina merdeka.

Di kawasan Amerika Latin, Uruguay dan Peru merasa terpanggil untuk mengakui Palestina sebagai sebuah Negara yang bermartabat. Tercatat beberapa Negara dari kawasan Amerika Latin, 12 hingga 13 negara mengakui kemerdekaan Negara yang selalu berkonflik dengan tetangganya itu, Israel. Kecuali sekutu penuh Amerika Serikat yang tidak mengakui Palestina sebagai Negara di kawasan itu, Kolombia. Kuba, Costa Rica, Nikaragua, Honduras dan El Salvador ikut andil mengakui Palestina sebagai Negara merdeka. Begitu juga dengan Negara-negara arab yang menjadi kawasan sebangsa dengan palestina. Terakhir dari eropa, Islandia menjadi Negara terakhir yang mengakui keberadaan palestina untuk merdeka.

Amerika gerah. Israel yang juga selalu memusuhi Paleestina gundah. Rencana Palestina menjadi anggota PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) sejak 23 September 2011 selalu ditentang oleh Amerika serikat, Israel dan sekutu-sekutunya. Terakhir, kongres di AS menghentikan bantuan kemanusiaannya di Palestina karena Palestina ngotot ingin masuk anggota PBB. Sedangkan bagi rival Amerika, Israel, murka dengan keputusan Palestina. Pasalnya Negara Yahudi itu menganggap Palestina harus menandatangani perjanjian bilateral antara Israel-palestina sebelum masuk PBB. Sampai sekarangpun tidak pernah ada perjanjian anatara kedua Negara. Dan kondisi sampai saat ini Israel selalu mendzolimi Negara tetangganya itu. Kegalauan politik melanda Negara-negara yang pro dengan AS dan Israel. Kini, apakah galaunyaa Negara-negara itu beralasan di tengah wafatnya ribuan pejuang-pejuang Palestina yang gugur ditangan Negara Zionis?

.

#Desember 2011

sumber gambar: google.com

This entry was posted in Sentuhan Politik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>